Warga Sibalanga berharap pembangunan huntara dipercepat

Anak-anak bermain di lokasi pembangunan hunian sementara atau huntara bagi penyintas bencana longsor di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara pada Jumat (23/1/2026) ANTARA/Mario Sofia Nasution
Anak-anak bermain di lokasi pembangunan hunian sementara atau huntara bagi penyintas bencana longsor di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara pada Jumat (23/1/2026) ANTARA/Mario Sofia Nasution
Warga Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Selatan Roslina Nasution mengharapkan agar hunian sementara (huntara) yang dibangun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan pemerintah setempat segera rampung dan dihuni oleh penyintas bencana.
“Kami melihat pembangunan hunian ini cukup cepat dan kalau bisa segera dapat dihuni,” kata dia di Tapanuli Utara, Jumat.
Roslina mengaku kasihan melihat penyintas yang masih belum memiliki hunian karena rumah mereka diterjang longsor.
“Kasihan kali melihat mereka dan kami ingin rumah yang dibangun cepat oleh pemerintah ini segera ditempati,” kata wanita berusia 74 tahun tersebut.
Ia mengatakan rumah miliknya berada 50 meter dari lokasi huntara tersebut dan memang tidak terdampak.
“Tapi setiap hari saya datang melihat proses pengerjaan huntara. Saya akui memang cepat,” kata dia.
BNPB bekerja sama dengan Pemkab Tapanuli Utara membangun 40 unit hunian sementara di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting yang berlokasi delapan jam perjalanan darat dari Kota Medan.
Sebelumnya pengembang mengebut pengerjaan 40 unit hunian sementara (huntara) di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara agar segera dapat dihuni penyintas bencana longsor di daerah setempat.
“Saat ini proses pembangunan sudah mencapai 80 persen dan ditarget di akhir Januari sudah serah terima dengan korban bencana,” kata penanggung jawab huntara PT Haza Gemilang Abadi, Kevin Hasiolan Pasaribu di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat.
Hunian sementara ini berdiri di atas tanah seluas 24 meter persegi dengan konsep rumah tumbuh.
Menurut dia, jika pemerintah ingin mengubah menjadi hunian tetap sangat memungkinkan karena ada ruang di depan rumah ini seluas empat meter yang dapat dikembangkan sebagai hunian tetap.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB Sumut) per 22 Januari 2026 sebanyak 14.033 jiwa dari 3.509 kepala keluarga terdampak bencana banjir dan tanah longsor.
Pusdalops mendata korban meninggal dunia akibat bencana tersebut tercatat sebanyak 36 orang dan dua orang masih dinyatakan hilang.




