Top
Begin typing your search above and press return to search.

Apa saja sunah sebelum salat Iduladha?

Menjalankan sunah sebelum salat Iduladha meliputi mandi besar, memakai wangi-wangian, mengenakan pakaian terbaik, hingga menahan makan sampai penyembelihan.

Apa saja sunah sebelum salat Iduladha?
X

Apa saja sunah sebelum salat Iduladha? (Sumber: Vecteezy)

Hari raya Iduladha atau yang dikenal sebagai lebaran haji merupakan salah satu momen penting dalam kalender Islam. Dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah amalan yang dianjurkan sebelum salat Iduladha. Memahami apa saja sunah sebelum salat Iduladha menjadi penting agar ibadah yang dilakukan tidak hanya sah, tetapi juga mengikuti tuntunan Rasulullah SAW secara utuh.

Berikut penjelasan lengkap berdasarkan hadis sahih dan praktik yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Amalan mandi sebelum keberangkatan salat Iduladha

besar sebelum berangkat ke musala atau masjid merupakan anjuran utama bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk bagi mereka yang sedang berhalangan salat. Waktu pelaksanaannya dimulai sejak fajar menyingsing atau selepas salat Subuh pada tanggal 10 Zulhijah. Ini bertujuan agar kondisi fisik berada dalam keadaan bersih, segar, dan suci secara lahiriah sebelum menghadap Allah SWT.

Dasar hukum amalan ini merujuk pada kebiasaan para sahabat Nabi SAW. Dalam riwayat dari Imam Malik dalam Al-Muwatta' (no. 428), terdapat riwayat dari Nafi' yang menyatakan bahwa Abdullah bin Umar RA selalu mandi pada hari Idulfitri dan Iduladha sebelum berangkat ke tempat salat. Disebutkan bahwa:

“Abdullah bin Umar mandi pada hari Idulfitri sebelum berangkat ke tempat salat.”

Menggunakan pakaian terbaik dan wangi-wangian

Umat Islam disunahkan untuk berhias dengan mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya. Bagi laki-laki, sangat dianjurkan untuk menggunakan wangi-wangian atau parfum yang tidak menyengat. Hal ini mencerminkan rasa syukur dan kegembiraan atas datangnya hari besar Islam yang juga dikenal sebagai lebaran haji.

Praktek ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, di mana Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk memakai pakaian terbaik dan memakai wangi-wangian terbagus yang ditemukan.

Rasulullah SAW memiliki jubah khusus yang beliau pakai pada dua hari raya dan hari Jumat.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra)

Meskipun dianjurkan memakai yang terbaik, Islam tetap menekankan kesederhanaan agar tidak terjatuh dalam sifat sombong atau berlebih-lebihan.

Menahan makan hingga salat Iduladha selesai

Berbeda dengan Idulfitri yang disunahkan makan terlebih dahulu, pada Iduladha umat Islam dianjurkan untuk tidak makan apa pun sejak terbit fajar hingga selesainya pelaksanaan salat. Sunah ini bertujuan agar makanan pertama yang disantap pada hari tersebut adalah daging dari hewan kurban yang disembelih.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang berbunyi,

Rasulullah SAW tidak makan pada hari Iduladha sampai beliau pulang, lalu beliau makan dari hasil kurbannya.” (HR. Ahmad no. 23117, Ibnu Majah no. 1756)

Jika seseorang tidak berkurban, maka ia tetap disunahkan untuk segera makan setelah salat selesai tanpa harus menunggu proses penyembelihan selesai.

Berangkat dan pulang melalui jalan yang berbeda

Rasulullah SAW memiliki kebiasaan untuk menempuh rute perjalanan yang berbeda saat berangkat menuju tempat salat dan ketika kembali ke rumah. Dalam dimensi sosialnya sebenarnya ini bertujuan untuk bertemu dan menyapa lebih banyak tetangga atau saudara di sepanjang jalan, sehingga memperluas tali silaturahmi.

Hadis riwayat Jabir bin Abdillah RA menyebutkan,

"Nabi SAW ketika hari raya mengambil jalan yang berbeda (saat berangkat dan pulang)" (HR. Bukhari No. 986).

Mengumandangkan takbir sepanjang perjalanan

Membaca takbir merupakan identitas umat muslim dalam menyambut hari raya seperti Idulfitri dan Iduladha. Takbir ketiks Iduladha (takbir muqayyad) berlanjut hingga hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah). Mengumandangkan takbir saat berjalan menuju tempat salat dilakukan dengan suara yang jelas bagi laki-laki sebagai bentuk syiar Islam dan pengagungan terhadap keesaan Allah SWT.

Ketentuan ini merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 203 yang memerintahkan untuk berzikir pada hari-hari yang terbilang.

Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Selain itu, dalam hadis riwayat Al-Walid bin Muslim, disebutkan bahwa Umar bin Khattab dan Abdullah bin Umar selalu mengeraskan takbir mereka selama di Mina dan di tempat salat, sehingga orang-orang yang mendengar turut bertakbir bersama mereka.

Berangkat dengan berjalan kaki

Jika jarak antara rumah dan tempat pelaksanaan salat memungkinkan, umat Islam disarankan untuk berjalan kaki. Berjalan kaki memberikan kesempatan bagi individu untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Namun, penggunaan kendaraan tetap diperbolehkan bagi mereka yang memiliki kendala fisik, jarak yang sangat jauh, atau kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Ali bin Abi Thalib RA berkata,

"Termasuk sunah adalah keluar menuju tempat salat Id dengan berjalan kaki" (HR. Tirmidzi).

Dengan mengikuti setiap sunah ini, setiap langkah kaki menuju musala dihitung sebagai penghapus dosa dan pengangkat derajat bagi seorang hamba. Seluruh amalan ini memiliki dasar kuat dari hadis sahih dan praktik Rasulullah SAW, sehingga menjadi panduan bai seluruh umat muslim dalam menyambut Iduladha lebih bermakna dan sesuai tuntunan syariat.

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire