Fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui
Berikut fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui, mulai dari sejarah meriam buka puasa hingga pengaruhnya terhadap aktivitas ekonomi.

Fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui. (Sumber: Freepik)
Fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui. (Sumber: Freepik)
Ramadan dikenal sebagai bulan suci bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selama periode ini, umat Islam menjalankan ibadah puasa, meningkatkan aktivitas spiritual, serta memperkuat refleksi diri. Namun di balik rutinitas ibadah yang berlangsung setiap tahun tersebut, terdapat sejumlah fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui.
Berbagai kisah sejarah, tradisi budaya, hingga fenomena ilmiah turut membentuk pengalaman Ramadan di berbagai belahan dunia. Mulai dari tradisi meriam sebagai penanda waktu berbuka hingga perubahan pola konsumsi masyarakat yang berdampak pada ekonomi global. Maka dari itu Ramadan turut memiliki dimensi sosial, budaya, dan ilmiah yang menarik untuk dipahami.
Tradisi meriam sebagai penanda waktu berbuka
Salah satu fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui berkaitan dengan penggunaan meriam sebagai penanda waktu berbuka puasa. Tradisi ini dikenal dengan nama Midfa Al Iftar, yang diyakini bermula di Kairo, Mesir, pada masa Dinasti Mamluk sekitar abad ke-15.
Kisah yang banyak diceritakan menyebutkan bahwa Sultan Khushqadam sedang melakukan uji coba meriam baru tepat saat matahari terbenam pada tahun 1446. Dentuman meriam tersebut terdengar oleh warga kota yang kemudian mengira suara itu sebagai tanda resmi berbuka puasa. Peristiwa yang tidak direncanakan itu ternyata mendapat respons positif dari masyarakat hingga akhirnya dijadikan tradisi tahunan.
Seiring waktu, tradisi meriam ini menyebar ke berbagai wilayah Timur Tengah. Di beberapa kota seperti Dubai, meriam Ramadan masih dioperasikan oleh kepolisian setempat sebagai bagian dari pelestarian budaya. Dentumannya bahkan dapat terdengar hingga radius sekitar 10 kilometer, menjadikannya simbol khas yang mengingatkan masyarakat akan waktu berbuka.
Fenomena astronomi dalam penentuan awal bulan
Penentuan awal Ramadan tidak lepas dari pengamatan hilal, yaitu bulan sabit muda yang menandai pergantian bulan dalam kalender hijriah. Secara astronomis, fase bulan baru terjadi ketika bulan berada di antara bumi dan matahari. Namun hilal biasanya baru bisa terlihat sekitar 15 hingga 20 jam setelah fase konjungsi tersebut.
Perbedaan waktu kemunculan hilal ini menjadi salah satu alasan mengapa awal Ramadan terkadang tidak sama di berbagai negara. Faktor cuaca, kondisi atmosfer, serta posisi geografis turut memengaruhi kemungkinan terlihatnya hilal oleh para pengamat.
Di Indonesia, penentuan awal Ramadan mengikuti kriteria MABIMS, yaitu standar yang digunakan oleh negara-negara Asia Tenggara seperti Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kriteria ini menetapkan bahwa hilal dianggap memenuhi syarat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Fakta ini menunjukkan bahwa praktik ibadah dalam Islam juga melibatkan perhitungan astronomi yang cukup kompleks dan presisi.
Selain itu, kalender hijriah yang berbasis peredaran bulan membuat Ramadan selalu maju sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahun dalam kalender Masehi. Dalam siklus sekitar 33 tahun, Ramadan dapat terjadi di berbagai musim yang berbeda.
Dampak Ramadan terhadap aktivitas ekonomi
Selain memiliki makna spiritual, Ramadan juga memberikan pengaruh besar terhadap aktivitas ekonomi. Banyak negara dengan populasi Muslim yang tinggi mengalami peningkatan konsumsi selama bulan ini, terutama menjelang perayaan Idulfitri.
Laporan dari RedSeer Strategy Consultants menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara pada Ramadan 2023 mencapai sekitar 6,2 miliar dolar AS hanya dari sektor belanja daring. Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas ekonomi pada sektor ritel, makanan, serta produk fesyen selama Ramadan.
Di Indonesia, fenomena serupa juga terlihat dari peningkatan peredaran uang kartal. Bank Indonesia secara rutin menyiapkan jumlah uang layak edar yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran. Pada tahun 2024, misalnya, Bank Indonesia menyiapkan sekitar Rp197,6 triliun uang kartal, meningkat sekitar 4,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tradisi mudik, pembelian kebutuhan pokok, hingga meningkatnya aktivitas belanja membuat Ramadan menjadi salah satu periode paling penting dalam perputaran ekonomi nasional.
Durasi puasa yang berbeda di berbagai negara
Durasi puasa selama Ramadan tidak sama di seluruh dunia. Perbedaan ini dipengaruhi oleh letak geografis suatu wilayah, terutama garis lintang yang menentukan panjang siang dan malam.
Di negara-negara yang berada di wilayah utara bumi, seperti Norwegia atau Islandia, durasi puasa bisa berlangsung sangat panjang ketika Ramadan jatuh pada musim panas. Waktu berpuasa di wilayah tersebut dapat mencapai 17 hingga 20 jam dalam sehari.
Sebaliknya, di negara-negara yang berada di belahan bumi selatan seperti Argentina atau Selandia Baru, durasi puasa biasanya lebih singkat, yaitu sekitar 11 hingga 12 jam.
Perbedaan ekstrem ini bahkan memunculkan panduan khusus bagi umat Muslim yang tinggal di wilayah dengan fenomena “midnight sun”, yaitu kondisi ketika matahari tidak benar-benar terbenam. Beberapa lembaga keagamaan menyarankan agar umat Muslim di wilayah tersebut mengikuti waktu puasa di kota Mekkah atau di negara terdekat yang memiliki siklus siang dan malam yang normal.
Tradisi membangunkan sahur yang berusia ratusan tahun
Fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui juga berkaitan dengan tradisi membangunkan warga untuk sahur. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun di berbagai negara dengan bentuk yang berbeda-beda.
Di Turki, misalnya, terdapat tradisi Ramazan Davulcusu, yaitu para penabuh drum yang berkeliling lingkungan sambil mengenakan pakaian tradisional Ottoman. Mereka memainkan drum dan melantunkan syair untuk membangunkan masyarakat agar bersiap makan sahur.
Tradisi ini sudah ada sejak masa sebelum jam weker atau alarm digital dikenal luas. Hingga kini, pemerintah Turki masih memberikan lisensi resmi kepada para penabuh drum agar tradisi tersebut tetap terjaga sebagai bagian dari warisan budaya Ramadan.
Di Palestina dan beberapa wilayah Arab lainnya, sosok yang membangunkan sahur dikenal dengan sebutan Al-Musaharati. Mereka biasanya berjalan kaki sambil menabuh drum kecil dan memanggil nama keluarga yang tinggal di lingkungan tersebut. Meskipun teknologi modern telah menggantikan fungsinya, kehadiran Al-Musaharati tetap memiliki nilai budaya yang kuat.
Perubahan pada pola dan ritme tubuh manusia
Ramadan juga membawa perubahan pada pola tidur dan ritme biologis manusia. Perubahan waktu makan, yang berpindah ke malam hari setelah berbuka, memengaruhi ritme sirkadian tubuh.
Beberapa penelitian dalam bidang ilmu tidur menunjukkan bahwa perubahan jadwal makan selama Ramadan dapat memengaruhi produksi hormon melatonin serta suhu inti tubuh. Tubuh manusia pada akhirnya melakukan adaptasi terhadap pola aktivitas baru yang berlangsung selama sekitar satu bulan.
Di banyak negara mayoritas Muslim, perubahan ini juga berdampak pada penyesuaian jam kerja. Beberapa instansi pemerintah maupun perusahaan swasta mengurangi jam kerja sekitar satu hingga dua jam per hari selama Ramadan.
Menariknya, sejumlah survei menunjukkan bahwa produktivitas kerja sering kali tetap terjaga, terutama pada jam-jam pagi setelah waktu subuh. Penyesuaian ini dilakukan agar masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas profesional sambil menjaga kondisi fisik selama menjalani ibadah puasa.
Dengan memahami berbagai fakta menarik seputar Ramadan yang jarang diketahui, kita dapat melihat bahwa bulan suci ini tidak hanya berkaitan dengan ibadah spiritual. Ramadan juga menyimpan sejarah panjang, tradisi budaya yang unik, hingga fenomena ilmiah yang menunjukkan bagaimana agama, masyarakat, dan kehidupan modern saling berinteraksi dalam satu momentum yang sama.




