Hari Bahasa Ibu Internasional: Inferioritas Gen-Z pada identitasnya
Menelusuri fenomena inferioritas Gen-Z pada identitasnya di tengah peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari dan tantangan pelestarian bahasa daerah

Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari.
Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari.
Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh setiap tanggal 21 Februari mengingatkan kita atas posisi bahasa daerah di tengah arus globalisasi. Di Indonesia, fenomena ini memicu isu mengenai posisi generasi muda, khususnya Gen-Z, yang disinyalir mulai mengalami pergeseran identitas. Apakah Gen-Z merasakan inferioritas atas identitasnya? Apalagi dalam hal penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu di ruang publik maupun digital.
Kecenderungan untuk lebih menguasai bahasa asing atau bahasa Indonesia cakapan atau kasual seringkali dianggap sebagai simbol modernitas, sementara bahasa daerah dipandang sebagai sesuatu yang kurang gaul. Padahal, bahasa ibu merupakan fondasi dari identitas budaya dan cara berpikir suatu bangsa.
Sejarah singkat dan urgensi hari bahasa ibu internasional
Latar belakang penetapan Hari Bahasa Ibu Internasional oleh UNESCO bermula dari peristiwa tragis di Bangladesh pada tahun 1952, di mana terjadi perjuangan untuk pengakuan bahasa Bengali. Hal ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa bahasa adalah hak asasi yang melekat pada martabat manusia.
Dalam konteks global, UNESCO mencatat bahwa setidaknya 40% penduduk dunia tidak memiliki akses ke pendidikan dalam bahasa yang mereka kuasai atau pahami. Di Indonesia, data dari Badan Bahasa menunjukkan adanya ancaman kepunahan pada puluhan bahasa daerah akibat berkurangnya jumlah penutur jati, terutama dari kalangan generasi muda yang lebih memilih bahasa yang dianggap memiliki nilai ekonomi dan prestise lebih tinggi.
Fenomena inferioritas gen-z terhadap bahasa daerah
Salah satu poin utama dalam pembahasan ini adalah adanya tekanan sosial yang membuat Gen-Z merasa kurang percaya diri saat menggunakan bahasa ibu mereka. Inferioritas ini tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari konstruksi lingkungan dan paparan budaya populer.
1. Dominasi bahasa global sebagai standar prestise
Bagi banyak anggota Gen-Z, penguasaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya sering kali diposisikan sebagai indikator kecerdasan dan profesionalisme. Dalam lingkungan kerja dan pendidikan, kemampuan bahasa asing menjadi syarat mutlak, sehingga secara tidak sadar memposisikan bahasa daerah sebagai "kelas kedua". Hal ini menciptakan jarak emosional antara pemuda dengan akar budayanya sendiri.
2. Stigma bahasa daerah dalam pergaulan urban
Di kota-kota besar, penggunaan bahasa daerah terkadang diasosiasikan dengan latar belakang perdesaan atau kurangnya paparan informasi modern. Hal ini secara ekstrem justru mampu mengikis kepercayaan diri seseorang untuk menunjukkan identitas aslinya melalui bahasa. Akibatnya, terjadi fenomena penyeragaman gaya bicara demi mendapatkan pengakuan sosial di komunitas tertentu.
Dampak pergeseran identitas pada kelestarian budaya
Ketika inferioritas Gen-Z pada identitasnya semakin menguat, dampak jangka panjang yang paling nyata adalah hilangnya kearifan lokal. Bahasa daerah menyimpan memori kolektif, filosofi hidup, dan struktur sosial yang unik. Jika sebuah bahasa hilang, maka hilang pula cara pandang dunia yang terkandung di dalamnya.
Data dari riset sosiolinguistik menunjukkan bahwa ketika orang tua tidak lagi mewariskan bahasa ibu kepada anak-anaknya karena alasan kepraktisan atau prestise, maka dalam dua generasi ke depan, bahasa tersebut terancam masuk dalam kategori kritis. Gen-Z yang berada di posisi transisi memiliki peran peran penting untuk menjadi jembatan pelestarian. Namun bisa juga berlaku sebaliknya sebagai generasi yang memutus rantai bahasa tersebut.
Apa yang bisa dilakukan?
Mengembalikan kebanggaan terhadap bahasa ibu memerlukan pendekatan dengan gaya hidup masa kini. Transformasi digital sebenarnya menawarkan peluang besar jika dimanfaatkan dengan tepat.
- Normalisasi bahasa daerah di media sosial
- Pendidikan berbasis bahasa ibu
- Revitalisasi melalui teknologi melalui pengembangan aplikasi kamus digital, penerjemah berbasis AI untuk bahasa daerah, serta pelestarian naskah kuno dalam format digital.
Peringatan atas Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari ini anggaplah sebagai pengingat bahwa keberagaman linguistik adalah kekayaan yang tak ternilai. Mengatasi inferioritas Gen-Z pada identitasnya memerlukan kerja sama kolektif antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Dengan menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa ibu, generasi muda tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkokoh jati diri mereka di tengah pergaulan dunia yang makin tanpa sekat.




