Top
Begin typing your search above and press return to search.

Kenapa Rupiah tembus Rp 17.000?

Kenapa Rupiah tembus Rp 17.000 adalah karena pelemahan rupiah akibat konflik Iran-AS, penguatan dolar AS, hingga sentimen fiskal dan arus modal investor

Kenapa Rupiah tembus Rp 17.000?
X

Kenapa Rupiah tembus Rp 17.000? (Sumber: Freepik)

Pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, nilai tukar rupiah dilaporkan bergerak melemah dan bahkan sempat menembus level Rp 17.000 per dolar AS di pasar keuangan, memicu perhatian pelaku pasar dan analis ekonomi terhadap kondisi global dan domestik yang memengaruhi kurs rupiah terhadap dolar.

Pergerakan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sejumlah laporan ekonomi menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global seperti konflik geopolitik dan penguatan dolar AS, serta sentimen domestik terkait kebijakan fiskal dan arus investasi asing di pasar keuangan Indonesia.

Ketegangan geopolitik global mendorong penguatan dolar AS

Salah satu faktor utama yang menjelaskan kenapa rupiah tembus Rp 17.000 adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global pada awal 2026.

Konflik di kawasan Timur Tengah antara beberapa negara besar meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dan ekonomi global.

Ketegangan tersebut membuat investor global cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

Fenomena ini dikenal sebagai “risk-off sentiment”, yaitu kondisi ketika pelaku pasar menghindari aset berisiko seperti mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pergerakan mata uang Asia yang sama-sama melemah

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga terjadi bersamaan dengan pelemahan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Bank Indonesia dan sejumlah pengamat menilai bahwa tren ini menunjukkan pelemahan rupiah bukan fenomena tunggal, melainkan bagian dari pergerakan pasar regional.

Dalam kondisi ini, penguatan dolar AS secara global membuat banyak mata uang negara berkembang mengalami depresiasi.

Mata uang seperti rupiah menjadi lebih rentan karena investor internasional biasanya menarik dana dari pasar negara berkembang ketika ketidakpastian global meningkat.

Proyeksi pasar yang sudah mengarah ke Rp 17.000

Sebelum benar-benar menyentuh level tersebut, sejumlah analis sebenarnya telah memproyeksikan bahwa kurs rupiah berpotensi menembus angka tersebut. Dilansir dari Liputan 6, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi pada Januari 2026 menyebutkan rupiah dapat bergerak di kisaran Rp 16.840 hingga Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Prediksi tersebut didasarkan pada kombinasi sentimen global dan domestik yang belum menunjukkan perbaikan signifikan. Ketidakpastian ekonomi dunia, termasuk konflik geopolitik dan perlambatan beberapa ekonomi besar, dinilai memberi tekanan jangka pendek terhadap mata uang negara berkembang.

Kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal

Selain faktor global, sentimen domestik juga turut menjelaskan kenapa rupiah tembus Rp 17.000. Investor global menaruh perhatian terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia, termasuk rencana belanja pemerintah yang dinilai cukup besar.

Beberapa lembaga pemeringkat bahkan menyoroti risiko fiskal Indonesia dan menurunkan outlook kredit menjadi negatif karena kekhawatiran terhadap program belanja sosial dan kebijakan ekonomi pemerintah. Kondisi tersebut memunculkan keraguan investor terhadap stabilitas fiskal dalam jangka menengah.

Ketika sentimen investor melemah, arus modal asing di pasar keuangan juga berpotensi berkurang. Hal ini dapat menekan nilai tukar rupiah karena permintaan terhadap dolar AS meningkat.

Dampak harga energi dan impor terhadap nilai tukar

Kenaikan harga energi dunia juga berkontribusi terhadap tekanan pada rupiah. Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentah dan gas LPG dari luar negeri, termasuk dari kawasan Timur Tengah.

Ketika harga minyak dunia naik, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi ikut meningkat. Kondisi ini dapat memperbesar permintaan dolar di pasar domestik, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan pada kurs rupiah terhadap dolar.

Volatilitas pasar keuangan dan arus modal global

Faktor terakhir yang menjelaskan kenapa rupiah tembus Rp 17.000 adalah volatilitas pasar keuangan global. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi, investor cenderung menarik dana dari pasar saham dan obligasi negara berkembang.

Akibatnya, arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia dapat meningkat, sementara permintaan dolar AS menjadi lebih besar dibandingkan rupiah. Kondisi ini mempercepat pelemahan nilai tukar, terutama ketika terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan faktor global lain seperti konflik geopolitik dan kenaikan harga energi.

Fenomena kenapa rupiah tembus Rp 17.000 tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Data ekonomi menunjukkan bahwa pelemahan rupiah dipicu kombinasi beberapa faktor, mulai dari ketegangan geopolitik global, penguatan dolar AS, pergerakan mata uang Asia, sentimen investor terhadap kebijakan fiskal, hingga kenaikan harga energi dunia.

Semua kejadian ini menciptakan tekanan simultan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga kurs rupiah menyentuh level Rp 17.000 di awal 2026.

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire