Bijak terima gaji pertama: Ini strategi yang harus kamu tahu
Strategi praktis mengelola gaji pertama dengan bijak: Mulai dari menabung sejak awal hingga rencana jangka panjang demi stabilitas finansial yang lebih kuat.

Ilustrasi. (Sumber: Vecteezy/@Thanakorn Lappattaranan)
Ilustrasi. (Sumber: Vecteezy/@Thanakorn Lappattaranan)
Menerima gaji pertama adalah fondasi penting dalam modal setiap orang dalam mengembangkan kemampuannya mengeola keuangan. Di satu sisi, ini merupaka momen yang membahagiakan pasca kerja keras yang kita lakukan. Di sisi lain, tanpa strategi yang tepat, gaji yang kita terima bisa cepat habis tanpa memberi dampak berarti bagi masa depanmu. Untuk itu, artikel ini menyajikan strategi yang terstruktur agar gaji pertama tidak habis hanya untuk kebutuhan sesaat, tetapi juga membantu kita memahami cara mengelola keuangan yang sehat.
1. Kenali arus kas dan buat perencanaan
Langkah awal dalam mengelola gaji pertama adalah memahami arus masuk dan keluar uang yang kamu miliki. Kenali komponen pengeluaran tetap seperti biaya transport, makan siang, tagihan bulanan, dan sejenisnya. Dengan mencatat dan memperkirakan angka-angka tersebut, kamu dapat melihat ke mana sebagian besar gaji akan “bye-bye” sebelum direncanakan untuk dihabiskan pada hal lain. Kebiasaan ini membantu memetakan kebutuhan primer dan pendukung.
2. Tegas pada prinsip
Salah satu strategi keuangan yang efektif adalah menyisihkan sebagian dari penghasilanmu untuk tabungan atau investasi sebelum kamu menggunakan sisanya untuk kebutuhan atau keinginan lain. Pendekatan ini dikenal sebagai prinsip pay yourself first atau “bayar diri sendiri dulu”.
Sebagai contoh, kamu bisa mengalokasikan sekitar 10–20% dari gaji secara langsung ke rekening tabungan setiap bulan. Jika dilakukan sejak gaji pertama, kebiasaan ini memperkuat disiplin dan menumbuhkan tabungan dengan konsisten.
3. Gunakan aturan alokasi gaji
Metode 50/30/20 menjadi panduan yang banyak direkomendasikan untuk membagi pendapatan dengan proporsi yang sehat. 50% untuk kebutuhan pokok (makan, transportasi, tagihan rutin), 30% untuk gaya hidup atau keinginan pribadi, dan 20% untuk tabungan, investasi, atau dana darurat. Pembagian ini dapat membantu kamu menjaga keseimbangan antara kebutuhan, self-reward, dan masa depan finansialmu.
4. Mulai dana darurat sedini mungkin
Dana darurat adalah bantalan finansial yang berguna saat menghadapi kondisi tak terduga seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendesak lainnya. Idealnya, dana ini mampu menutupi setidaknya satu kali pengeluaran bulanan di awal, dan meningkat seiring waktu. Kamu bisa mulai dari jumlah kecil dulu, misalnya menyisihkan sejumlah uang tetap setiap bulan, sambil membuka rekening terpisah agar dana ini tidak tercampur dengan uang harian.
5. Evaluasi diri dan disiplin
Tanpa evaluasi, anggaran hanya sekedar catatan. Setiap akhir bulan, bandingkan antara anggaran yang sudah dibuat dengan ekspektasi pengeluaranmu. Apakah makan di luar lebih sering dari yang direncanakan? Atau langganan hiburan seperti platform streaming memakan porsi lebih besar? Evaluasi seperti ini membantu kamu menyesuaikan pola belanja dan kebiasaan finansial agar lebih efisien di bulan berikutnya.
6. Pertimbangkan langkah keuangan lainnya
Selain menabung dan mengendalikan pengeluaran, berikut beberapa strategi tambahan yang bisa dipertimbangkan. Pertama, kurangi utang berbunga tinggi karena hanya akan berakhir menjadi beban finansial. Kedua, mulai investasi sejak dini, hal ini membantu kamu untuk mrmbuat pertumbuhan dana jangka panjang melalui bunga.
Mengelola gaji pertama dengan bijak membutuhkan perencanaan, disiplin, dan kesadaran finansial yang kuat. Mulailah dengan memahami arus keuanganmu, sisihkan tabungan lebih dulu sebelum belanja, gunakan aturan alokasi gaji yang seimbang, dan evaluasi kebiasaan belanjamu secara berkala. Kebiasaan sederhana ini, jika dilakukan sejak awal, bisa menjadi fondasi finansial yang kuat untuk masa depanmu.




