Psikolog: Orang tua harus jadi contoh dalam mengurangi pemakaian gawai

Arsip Foto - Orang tua menemani anak bermain saat menunggu waktu berbuka puasa di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (19/2/2026). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj)
Arsip Foto - Orang tua menemani anak bermain saat menunggu waktu berbuka puasa di Alun-Alun Merdeka Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (19/2/2026). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj)
Psikolog anak Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog menekankan pentingnya orang tua memberikan contoh kepada anak dalam mengurangi pemakaian gawai selama di rumah.
Dikutip dari ANTARA, dia menyampaikan bahwa aturan pembatasan akses anak ke platform digital tidak bisa berjalan efektif tanpa peran aktif orang tua.
Menurut dia, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua meminta anak mengurangi penggunaan ponsel tetapi tetap sibuk dengan gawai selama berada di rumah, maka anak akan menangkap pesan yang bertentangan.
"Orang tua adalah contoh bagi anak. Jangan minta anak tidak banyak menggunakan gadget kalau orang tuanya sendiri tidak bisa lepas dari handphone," ujarnya.
Apabila orang tua terus memegang ponsel selama berada di rumah, termasuk saat bersama keluarga, ia mengatakan, maka anak juga bisa merasa tidak memiliki akses untuk berbicara atau berinteraksi dengan orang tua.
"Ketika orang tua di rumah tapi waktunya diambil oleh handphone, kapan waktu untuk anak?" kata dia.
Menurut dia, anak-anak yang merasa kesulitan berbicara dan berinteraksi dengan orang tua akan memilih kembali ke dunia mereka melalui gawai.
Prof. Rose mengemukakan bahwa penerapan aturan pembatasan akses anak ke platform digital seperti media sosial dan gim membutuhkan dukungan dari orang tua.
Orang tua perlu mengontrol diri agar bisa menjadi contoh bagi anak dalam membatasi penggunaan gawai serta berupaya menghadirkan alternatif kegiatan menarik untuk membantu anak menyesuaikan diri dengan pembatasan akses ke platform digital.
Prof. Rose mengatakan, pembatasan akses ke perangkat elektronik dan platform digital bisa menimbulkan kebingungan atau perlawanan kalau anak tidak diberi pilihan aktivitas.
Dia menyarankan orang tua aktif mengajak anak melakukan kegiatan bersama, seperti berolahraga atau mengerjakan proyek sederhana bersama, untuk membangun komunikasi sekaligus membantu anak menyesuaikan diri dengan pembatasan.
"Regulasi itu membantu orang tua. Tapi yang membimbing tetap orang tua. Mereka harus kreatif dan konsisten," katanya.
Menurut dia, peran aktif orang tua dalam penerapan aturan pembatasan akses anak ke platform digital akan mencegah anak menggunakan gawai dan platform digital secara berlebihan, yang bisa berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mentalnya.




