3 kultum singkat tentang ikhlas yang menarik dengan dalil dan hadis
3 kultum singkat tentang ikhlas yang menarik dengan dalil dan hadis, membahas makna ikhlas, keutamaan, bahaya riya, dan ikhlas sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Ini tiga kultum singkat tentang ikhlas.
Ini tiga kultum singkat tentang ikhlas.
Ikhlas merupakan inti dari setiap amal ibadah, karena diterima atau tidaknya suatu amalan sangat bergantung pada ketulusan niat. Dengan memahami makna ikhlas, seorang muslim diharapkan mampu memperbaiki niat, menjaga hati, serta menjadikan setiap perbuatan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Dalam menyampaikan pesan dakwah tentang ikhlas, viperlukan materi kultum atau dakwah yang menarik sehingga mampu membuat hati pendengar tersentuh sehingga bisa memahami materi dengan sungguh-sungguh. Berikut ini tiga contoh kultum singkat tentang ikhlas yang menarik dengan dalil dan hadis, disusun untuk membantu menyampaikan pesan dakwah secara singkat, padat, dan mudah dipahami.
1. Ikhlas: Inti dari seluruh amal
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wassalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin yang dirahmati Allah, pada kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita bersama-sama merenungkan satu perkara yang sangat mendasar dalam kehidupan seorang muslim, yaitu ikhlas.
Ikhlas adalah memurnikan niat hanya karena Allah SWT, tanpa mencampurkannya dengan keinginan untuk dipuji, dihormati, atau diakui oleh manusia. Ikhlas bukan sekadar ucapan, melainkan pekerjaan hati yang paling sulit dijaga. Sebab, hati manusia mudah sekali tergelincir, terutama ketika amal kita mulai dilihat dan dipuji orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa nilai amal tidak ditentukan oleh besar kecilnya perbuatan, melainkan oleh niat yang tersembunyi di dalam hati. Shalat yang panjang, sedekah yang besar, dan ibadah yang tampak megah, tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak dilakukan dengan ikhlas.
Sebaliknya, amal yang sederhana, kecil, bahkan mungkin tidak diperhatikan manusia, bisa menjadi sangat besar nilainya jika dilakukan dengan niat yang tulus.
Inilah bukti bahwa ikhlas mampu mengangkat amal kecil menjadi sangat mulia.
Allah SWT berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa inti ibadah adalah memurnikan niat. Tanpa ikhlas, ibadah kehilangan ruhnya. Ia hanya menjadi rutinitas fisik tanpa nilai keimanan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita jujur kepada diri sendiri. Berapa banyak amal yang kita lakukan karena ingin dilihat orang lain? Berapa sering kita bersedekah agar dianggap dermawan? Berapa kali kita beribadah agar dinilai saleh?
Mulai hari ini, marilah kita luruskan kembali niat. Ikhlaslah dalam shalat, ikhlaslah dalam bekerja, ikhlaslah dalam membantu sesama, karena hanya amal yang ikhlaslah yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2. Ikhlas dan bahaya riya: Penyakit hati yang menghapus pahala
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Innalhamdalillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu wa na’udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina, man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala haadiya lah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin yang dirahmati Allah, salah satu musuh terbesar keikhlasan adalah riya, yaitu beramal agar dilihat, dipuji, dan dihormati manusia. Riya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, karena ia dapat menghapus seluruh pahala amal.
Rasulullah SAW bersabda:
إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. قالوا: وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟ قال: الرياء، يقول الله تعالى يوم القيامة إذا جازى الناس بأعمالهم: اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء؟
“Sesungguhnya apa yang aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.’ Kemudian para sahabat bertanya: ‘Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Syirik kecil adalah riya’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada hari kiamat ketika membalas manusia dengan amal-amal perbuatan mereka: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian riya’i di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?”
(HR. Ahmad)
Riya disebut sebagai syirik kecil karena dalam amal tersebut, hati tidak sepenuhnya tertuju kepada Allah. Ada unsur mengharap selain-Nya, yaitu pujian manusia.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
الرياء يقول الله عز وجل إذا جزى الناس بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء
“Riya’. Kelak nanti pada hari kiamat Allah akan berfirman kepada orang-orang yan riya’ disaat Allah memberikan balasan kepada manusia: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian harapkan pujiannya itu di dunia. Lihat oleh kalian apakah kamu akan mendapatkan balasan di sisi mereka?”
(HR. Ahmad dan Baihaqi)
Artinya, amal yang dilakukan karena riya tidak akan mendapatkan pahala sedikit pun di sisi Allah.
Hadirin sekalian, riya sering kali masuk secara halus. Ia tidak datang dalam bentuk niat besar, melainkan dari hal-hal kecil ingin disebut dermawan, ingin dianggap alim, ingin dipandang saleh. Lama-kelamaan, hati pun terjebak dalam ketergantungan terhadap penilaian manusia.
Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَداࣖ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwasanya, barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya dan menghendaki ganjaran atas amal perbuatannya di akhirat kelak, maka hendaklah dia selalu mengerjakan kebajikan dan menjauhi semua hal keji dan mungkar serta janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya. Hendaklah dia beribadah kepada-Nya dengan tulus, bukan karena ria, dan dilandasi niat untuk menggapai rida-Nya.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita jaga hati kita. Setiap kali akan beramal, bertanyalah pada diri sendiri, "untuk siapa amal ini aku lakukan?"
Jika niat kita masih bercampur, segeralah meluruskan hati. Karena amal yang sedikit namun ikhlas jauh lebih baik daripada amal yang banyak tetapi penuh riya.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
3. Ikhlas: Jalan menuju ketenteraman dan kebahagiaan hidup
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Amma ba’du.
Hadirin yang dirahmati Allah, salah satu masalah besar dalam kehidupan modern adalah kegelisahan hati. Banyak orang merasa lelah, stres, dan tidak bahagia, bukan karena kekurangan harta, tetapi karena hidup terlalu menggantungkan diri pada penilaian manusia.
Kita ingin dipuji, ingin diakui, ingin dihargai. Ketika semua itu tidak kita dapatkan, hati menjadi sempit, kecewa, dan bahkan putus asa. Di sinilah ikhlas menjadi solusi.
Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا
“(Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.”
(QS. Al-Insan: 9)
Ayat ini menerangkan keikhlasan orang-orang abrār yang menyatakan bahwa mereka memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan hanya untuk mengharapkan keridaan Allah semata, tidak menghendaki balasan dan tidak pula mengharapkan ucapan terima kasih. Jadi, di saat hendak memulai usaha sosial itu hendaklah hati dan lidah berniat ikhlas karena Allah, tanpa dicampuri oleh perasaan lain yang ingin menerima balasan yang setimpal atau mengharapkan pujian dan sanjungan orang lain..
Rasulullah SAW juga bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ
“Telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan.”
(HR. Muslim)
Kepuasan hati ini lahir dari keikhlasan. Orang yang ikhlas tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia tidak iri terhadap rezeki orang lain, tidak gelisah dengan pencapaian orang lain, karena ia yakin bahwa semua telah diatur Allah dengan penuh hikmah.
Hadirin sekalian, ikhlas menjadikan hidup lebih ringan. Bekerja menjadi ibadah. Membantu sesama menjadi ladang pahala. Bahkan kesulitan hidup pun berubah menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Orang yang ikhlas tidak mudah kecewa ketika tidak dihargai, tidak marah ketika tidak dipuji, dan tidak sombong ketika dipuji. Hatinyanya tenang, jiwanya lapang, dan hidupnya penuh makna.
Marilah kita latih diri kita untuk hidup ikhlas, agar setiap langkah kita bernilai ibadah, dan setiap ujian kita menjadi jalan menuju kedewasaan iman.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Melalui materi ini kita bisa memahami bahwa ikhlas adalah inti dari seluruh amal ibadah. Dengan ikhlas, amal kecil bernilai besar, hati terjaga dari riya, dan hidup menjadi lebih tenang. Oleh karena itu, meluruskan niat dalam setiap perbuatan merupakan kunci utama meraih ridha dan keberkahan dari Allah SWT.




