Alissa Wahid soroti kebutuhan nyata petugas haji perempuan
Fasilitas dan pembimbing ibadah perempuan dinilai masih perlu diperkuat.

Elshinta/ Bher
Elshinta/ Bher
Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023–2024, Alissa Wahid, menilai penambahan jumlah petugas haji perempuan merupakan langkah penting yang harus terus diperkuat, seiring dengan kebutuhan nyata jemaah perempuan di lapangan.
Alissa mengaku menyambut positif kebijakan pemerintah yang meningkatkan jumlah petugas haji perempuan dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai kebijakan tersebut merupakan kemajuan signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Saya senang sekali, karena tahun 2022 waktu saya jadi tim monitoring itu jumlah petugas haji perempuannya sangat sedikit,” ujar Alissa.
Menurut Alissa, keberadaan petugas perempuan bukan sekadar simbol representasi, melainkan kebutuhan riil dalam pelayanan jemaah, terutama dalam situasi-situasi yang membutuhkan sensitivitas gender.
“Karena memang kebutuhannya real,” katanya.
Ia mencontohkan kondisi di lapangan yang sering kali menuntut petugas melakukan improvisasi akibat keterbatasan fasilitas yang belum sepenuhnya ramah perempuan, khususnya terkait sanitasi.
“Jam-jam tertentu, kamar mandi laki-laki itu setengahnya dipakai untuk perempuan juga,” ungkap Alissa.
“Mau tidak mau kita harus membuat kebijakan-kebijakan spontan di lapangan,” tambahnya.
Menurut Alissa, improvisasi semacam itu tidak ideal jika terus terjadi tanpa dukungan kebijakan yang jelas dan sistematis. Ia menekankan pentingnya perencanaan fasilitas yang sejak awal mempertimbangkan kebutuhan jemaah perempuan.
Selain fasilitas, Alissa juga menyoroti peran strategis pembimbing ibadah perempuan dalam penyelenggaraan haji ramah perempuan.
“Terutama pembimbing ibadah perempuan, itu yang paling penting untuk perempuan,” tegasnya.
Ia berharap ke depan, kebijakan haji ramah perempuan tidak hanya bergantung pada kreativitas dan improvisasi petugas di lapangan, tetapi benar-benar ditopang oleh sistem pelayanan yang matang, terstruktur, dan memahami kebutuhan jemaah perempuan secara menyeluruh. (Bhery Hamzah)




