Karakteristik hotel di Madinah: Dekat Nabawi tapi tanpa Musala
Akses Dekat ke Masjid Nabawi Tanpa Bus Salawat

Foto: Bhery/MCH/Elshinta
Foto: Bhery/MCH/Elshinta
Jemaah haji Indonesia yang akan segera tiba di Madinah perlu memahami karakteristik akomodasi di Kota Nabawi yang berbeda dengan di Makkah atau tanah air. Meski berada di lokasi yang sangat strategis, terdapat beberapa aturan dan fasilitas yang tidak tersedia di dalam hotel.
Kepala Seksi Akomodasi Daker Madinah, Zaenal Muttaqin, mengungkapkan bahwa seluruh dunia saat ini memperebutkan wilayah Markaziyah atau ring satu karena letaknya yang sangat dekat dengan pusat ibadah. Keunggulan lokasi ini membuat jemaah tidak memerlukan sarana transportasi tambahan untuk menuju masjid.
"Seluruh dunia memperebutkan wilayah Markaziyah ini supaya jemaah lebih mudah salat lima waktu di Masjid Nabawi. Karakteristik hotel di Madinah itu adalah memang dekat, sehingga tidak disediakan bus angkutan," ujar Zaenal di Kantor Daker Madinah, Arab Saudi, Senin (20/4/2026).
Berbeda dengan hotel pada umumnya yang menyediakan fasilitas ibadah bersama di dalam gedung, hotel di Madinah dirancang agar jemaah memaksimalkan waktu mereka di Masjid Nabawi. Hal ini menjadi bagian dari karakteristik wilayah yang mengutamakan kedekatan fisik dengan masjid peninggalan Rasulullah tersebut.
Zaenal menegaskan bahwa jemaah tidak akan menemukan musala di dalam hotel tempat mereka menginap.
"Tidak disediakan musala di dalam hotel, serta tidak ada fasilitas cuci dan jemur karena bisa kena denda. Begitu ya," jelasnya.
Larangan ini berkaitan erat dengan regulasi ketat dari otoritas setempat yang sangat memperhatikan estetika dan kebersihan gedung di kawasan premium sekitar Masjid Nabawi. Menjemur pakaian di balkon atau jendela gedung dapat berujung pada sanksi denda bagi pengelola maupun jemaah.
Meskipun terdapat keterbatasan dalam fasilitas cuci-menjemur dan ketiadaan musala hotel, Zaenal memastikan bahwa standar pelayanan untuk jemaah haji Indonesia tetap berada pada level yang tinggi dan merata di seluruh sektor.
"Layanan seluruhnya yang diberikan kepada jemaah adalah sama dan terstandar ya. Mereka mendapatkan fasilitas hotel, mereka mendapatkan fasilitas ziarah Kota Madinah, ziarah Raudhah, mendapatkan konsumsi, pengangkutan koper, semuanya adalah sama," ungkap Zaenal.
Saat ini, pemerintah Indonesia telah menyiapkan total 118 hotel yang terbagi dalam lima sektor. Sebagian besar hotel tersebut memiliki standar kualitas yang mumpuni untuk melayani jemaah gelombang pertama maupun kedua.
"Mungkin kualitas bangunan yang berbeda, rata-rata bintang 3, ada juga yang bintang 4 mungkin di haji khusus," tambahnya.
Dengan memahami karakteristik ini, jemaah diharapkan dapat melakukan persiapan fisik dan mental, termasuk dalam mengatur kebutuhan logistik pribadi seperti pakaian agar tidak melanggar aturan larangan menjemur di kawasan hotel selama berada di Madinah.
Bhery Hamzah/Rama




