Kisah Mbah Sarjo, Jemaah Haji tunanetra meneguhkan langkah ke Baitullah
Sarjo Utomo (71), jemaah haji asal Kulon Progo, menunjukkan keteguhan luar biasa berangkat ke Tanah Suci meski sempat dijadwalkan berangkat puluhan tahun mendatang

Sarjo Utomo (71), jemaah haji asal Kulon Progo bersyukur menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci meski mengalami penglihatan terbatas tahun ini. Foto : Istimewa
Sarjo Utomo (71), jemaah haji asal Kulon Progo bersyukur menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci meski mengalami penglihatan terbatas tahun ini. Foto : Istimewa
Kehilangan penglihatan secara permanen tidak menyurutkan langkah Sarjo Utomo (71), jemaah haji tunanetra asal Wates, Kulon Progo, untuk menyempurnakan Rukun Islam kelima di Tanah Suci. Ia rela menjual tanah pekarangan kebunnya untuk membiayai perjalanan spiritual yang diidamkannya sejak lama. "Jadi ini hajinya saya 'Haji Wahyu', karena sawahnya payu (laku)," kelakar Mbah Sarjo dengan wajah gembira saat ditemui wartawan di Madinah, Kamis (23/4/2026).
Perjuangan hidup Mbah Sarjo dimulai dari bawah sebagai pembantu pedagang ternak. Ia bertugas memberi makan sapi hingga menuntunnya ke pasar. Berbekal ketekunan belajar, ia kemudian mandiri menjadi pedagang sapi dan mulai menabung hingga mampu membeli sebidang tanah. “Saya belajar dari pedagang itu, cara menaksir dan menjual. Dari keuntungan sedikit demi sedikit, saya bisa membeli tanah,” kenangnya
Dari hasil berdagang dan bertani itu pula, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses. Anak pertamanya telah menjadi asisten dosen di UGM dan anak keduanya, Sri Murti berprofesi menjadi dokter hewan. "Itu cari sendiri karena itu kepandaiannya anak-anak saya. "Anak saya yang terakhir tidak mau belajar, disenengi laki-laki dan kawin," ungkapnya saat menceritakan dinamika perjalanan hidup ketiga buah hatinya.
Niat sucinya menabung akhirnya berbuah pendaftaran haji pada tahun 2018. Bersama istri dan anak bungsunya mendaftar harji reguler, dan dijadwalkan baru akan berangkat tahun 2041. Namun, takdir mempercepat langkahnya berangkat haji tahun 2026 karena ditarik sebagai mahram oleh putri keduanya. "Harusnya berangkat 2041 tapi Allah udah mengundang di 2026 Masya Allah, Alhamdulillah, mumpung masih bisa jalan," ucap Mbah Sarjo penuh haru atas kemudahan dari Sang Pencipta.
Meski bahagia bisa menginjakkan kaki di Baitullah, ada ruang kosong karena sang istri tercinta telah berpulang dua setengah tahun lalu sebelum sempat berangkat. Namun, keluarga telah sepakat untuk menghajikan sang istri agar kewajibannya gugur. "Istri saya meninggal, anak saya yang paling depan sudah haji dulu, ah besok akan dibadal oleh anak saya yang paling depan itu," cerita Mbah Sarjo dengan ikhlas.
Kebutaan yang dialaminya tak membuat Mbah Sarjo mencairkan dana haji untuk berobat, setelah dokter menyatakan kondisinya tak dapat disembuhkan. Ia memilih menjadikan ibadah haji sebagai bekal di sisa hidupnya. “Saya ingin ibadah sebagai bekal saat dipanggil Allah. Kalau saya haji, mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya,” ujarnya penuh keyakinan.
Semangat hidupnya tak hanya terpancar untuk urusan akhirat, tetapi juga di lingkungan desanya dengan tetap aktif menghadiri rapat warga meski harus menembus gelap. "Saya biarpun seperti ini saya datang ke rapat-rapat itu. Untuk percontohan supaya dapat menarik anak-anak yang masih muda kok malah plempem-plempem," sentilnya memberikan teguran halus bagi generasi muda yang secara fisik sehat namun enggan bermasyarakat.
Semangat hidup Mbah Sarjo tak hanya untuk urusan akhirat, tetapi juga di lingkungan desanya. Ia tetap aktif menghadiri rapat warga meski dalam keterbatasan penglihatan. “Meski seperti ini, saya tetap datang ke rapat. Untuk memberi contoh agar anak-anak muda mau ikut, jangan sampai justru plempem-plempem (malas),” sentilnya, menyindir generasi muda yang secara fisik sehat namun kurang aktif bermasyarakat.
Keteguhan hati Mbah Sarjo ini merepresentasikan pencapaian Tri Sukses Haji yang digaungkan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), mencakup Sukses Ritual, Sukses Ekosistem Ekonomi, dan Sukses Peradaban. Kehadiran Mbah Sarjo yang mandiri membuktikan keberhasilan ekosistem pelayanan Haji Ramah Lansia dan Disabilitas. "Yang saya dapat, yang saya inginkan bisa menjadi haji yang mabrur," harap Mbah Sarjo, yang juga menjadi pesan edukatif bagi seluruh jemaah untuk selalu meluruskan niat.
Bhary Hamzah




