Menhaj tutup wacana 'War Tiket Haji' karena dianggap masih prematur
Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf pilih hentikan pembahasan "war tiket" demi fokus selesaikan persiapan keberangkatan jemaah tahun ini.

Foto: Arie Dwi Prasetyo
Foto: Arie Dwi Prasetyo
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) menutup wacana "war tiket haji" yang sempat ramai diperbincangkan. Ia mengamini bahwa istilah tersebut masih prematur.
“Kalau kita tanya siapa yang bertanggung jawab, saya adalah orang yang pertama melontarkan istilah war tiket ini dan kalo itu dianggap sebagai terlalu prematur, ya akan kita tutup dulu sampai hari ini sambil kita menyelesaikan haji kita yang sudah di depan mata,” jelasnya.
Pernyataan ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026). Gus Irfan menegaskan bahwa wacana "war tiket haji" itu memang dalam pembahasan internal kementeriannya.
“Saya akui war tiket war tiket ini memang wacana yang sedang kita bahas di kementerian Haji,” ujar Menhaj.
Gus Irfan menyadari bahwa pengumuman tersebut dilakukan terlalu dini. Oleh karena itu, ia memilih untuk menutup pembahasan wacana tersebut demi fokus pada tugas yang lebih mendesak.
Wakil Menteri Haji Dahnil Azhar Simanjuntak menambahkan bahwa wacana tersebut merupakan bagian dari diskusi solusi antrean. Pemerintah sedang mencari cara agar masa tunggu jemaah bisa lebih pendek.
“Tentu war tiket ini ada tiga hal yang menjadi perhatian kami. Sebenarnya ini concern-nya Pak Hidayat Nur Wahid adalah bagaimana memperpendek antrian, kemudian kedua bahkan dalam posisi bagaimana antrian tidak ada. Kira-kira begitu,” kata Dahnil.
Dahnil menilai perdebatan di ruang publik merupakan hal yang wajar dalam penyusunan kebijakan. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki tata kelola perhajian di masa depan.
Pemerintah Indonesia juga tengah bersiap menyambut program Saudi Vision 2030. Arab Saudi menargetkan kapasitas hingga 5 juta jemaah haji di tahun-tahun mendatang.
Dahnil menegaskan Indonesia harus siap mengelola kuota yang jauh lebih besar dari saat ini. Kesiapan ini mencakup pengelolaan keuangan serta kesiapan jemaah itu sendiri.
“Saudi Vision 30 dan target mereka salah satunya itu adalah 5 juta. Jemaah haji yang mereka dorong itu ke depan itu 5 juta, dan kita harus bersiap dengan kuota yang jauh lebih besar,” pungkas Dahnil.
Arie Dwi Prasetyo/Rama




