Mitigasi Kematian Jemaah Haji: Kemenhaj tekankan fisik dan tip hidrasi

Elshinta/ Bher
Elshinta/ Bher
JAKARTA – Menjelang musim haji 1447 H / 2026 M, Kementerian Haji dan Umrah RI memperkuat edukasi manasik kesehatan guna meminimalisir risiko kematian jemaah akibat kelelahan dan cuaca panas ekstrem. Selain skrining medis, persiapan fisik dari tanah air menjadi faktor penentu keberhasilan ibadah haji.
Kepala Puskeshaji Kemenhaj, Liliek Marhaendro Susilo, menekankan pentingnya kesiapan ini usai memberikan materi pada DIKLAT PPIH Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa malam (13/1/2026). Ia mengingatkan para jemaah untuk memulai aktivitas fisik rutin, seperti jalan kaki minimal 30 menit setiap hari, segera setelah melakukan pelunasan biaya haji. Tak hanya itu, jemaah juga diminta membatasi tradisi sosial seperti Walimatus Safar agar tidak mengalami kelelahan ekstrem sebelum terbang.
"Kami minta Walimatus Safar dilakukan maksimal satu minggu sebelum keberangkatan agar jemaah punya waktu istirahat total. Ada kasus jemaah wafat karena kelelahan setelah tujuh hari menerima tamu tanpa henti," ungkap Liliek.
Menghadapi cuaca panas di Arab Saudi, jemaah dibekali teknik hidrasi khusus untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh tanpa menyebabkan sering buang air kecil atau beser. Liliek menyarankan jemaah untuk minum secara berkala dalam jumlah kecil:
Target Cairan: Minimal 200 ml atau satu gelas setiap jam.
Teknik Minum: Minum satu teguk air setiap 10 menit secara rutin daripada meminum dalam jumlah banyak sekaligus.
Alat Pelindung Diri (APD): Jemaah wajib menggunakan kacamata hitam, masker, dan menyediakan semprotan air untuk menjaga kelembapan suhu tubuh.
Terkait kebijakan usia, pemerintah Indonesia tetap memprioritaskan kriteria kesehatan (istitaah) di atas faktor umur. "Patokan kita adalah sehat. Selama lansia tersebut sehat secara fisik dan kognitif (mental), mereka tetap memiliki kesempatan untuk berangkat," jelas Liliek. Kemenhaj juga terus melakukan pemetaan kesehatan (mapping) bagi jemaah melalui aplikasi Mobile JKN untuk memberikan pembinaan medis yang lebih terstruktur sejak dua tahun sebelum keberangkatan.
Bhery Hamzah




