AS berupaya ambil kembali pangkalan lama di Greenland

Arsip foto - Pemandangan udara jalanan Nuuk, ibu kota Greenland, yang tampak tenang setelah badai pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai niatnya untuk mengambil alih wilayah Denmark tersebut mereda pada 27 Januari 2026. Terlepas dari ketenangan diplomatik, penduduk Greenland bersikeras bahwa mereka tidak menginginkan kendali AS atas pulau itu, maupun penerapan kebijakan anti-imigran AS. ANTARA/Ahmet Abbasi/Anadolu/pri.
Arsip foto - Pemandangan udara jalanan Nuuk, ibu kota Greenland, yang tampak tenang setelah badai pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai niatnya untuk mengambil alih wilayah Denmark tersebut mereda pada 27 Januari 2026. Terlepas dari ketenangan diplomatik, penduduk Greenland bersikeras bahwa mereka tidak menginginkan kendali AS atas pulau itu, maupun penerapan kebijakan anti-imigran AS. ANTARA/Ahmet Abbasi/Anadolu/pri.
Amerika Serikat sedang melakukan pembicaraan dengan Denmark untuk mendapatkan akses ke tiga pangkalan militer tambahan di Greenland, termasuk dua yang sebelumnya telah ditinggalkan oleh pasukan AS beberapa dekade lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jenderal Pentagon Gregory Guillot, sebagaimana dilaporkan The New York Times pada Rabu (1/4). Kesepakatan potensial ini dilaporkan akan menjadi ekspansi signifikan pertama kehadiran militer AS di wilayah tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Negosiasi tersebut mencakup lokasi yang pernah digunakan sebagai pangkalan AS selama Perang Dunia II dan Perang Dingin, tetapi kemudian dikembalikan kepada otoritas Denmark dan Greenland setelah penarikan pasukan AS. Lokasi pangkalan itu adalah Narsarsuaq yang dikembalikan pada 1950-an dan Kangerlussuaq pada 1990-an.
Kendati demikian, pejabat Pentagon menolak merinci jumlah pasukan yang mungkin akan ditempatkan di pulau tersebut. Namun, Jenderal Guillot dilaporkan menyatakan bahwa fasilitas tersebut akan mendukung pasukan operasi khusus dan unit angkatan laut.
Sebagian besar infrastruktur militer di lokasi tersebut telah dibongkar, sebut laporan NYT tersebut, meskipun kedua lokasi masih memiliki bandara operasional kecil. Narsarsuaq juga memiliki pelabuhan laut dalam, sementara Kangerlussuaq memiliki landasan pacu panjang yang mampu menampung pesawat besar.
Para ahli yang dikutip oleh surat kabar tersebut menyebutkan bahwa Denmark memiliki kemampuan terbatas untuk memblokir rencana AS.
Greenland merupakan bagian dari Kerajaan Denmark. Namun, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa wilayah tersebut seharusnya bergabung dengan AS, dengan alasan pentingnya posisi strategis pulau itu bagi keamanan nasional.
Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan Washington agar tidak mengambil alih pulau tersebut, serta menegaskan bahwa mereka mengharapkan integritas wilayah mereka dihormati.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti




