Pengamat: RI berisiko “hilang” di tengah konflik Iran-AS

Ilustrasi: Sejumlah warga menghadiri upacara pemakaman Alireza Tangsiri, komandan utama Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang merupakan korban serangan udara Amerika dan Israel di Teheran, Iran, Rabu (1/4/2026). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa.
Ilustrasi: Sejumlah warga menghadiri upacara pemakaman Alireza Tangsiri, komandan utama Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang merupakan korban serangan udara Amerika dan Israel di Teheran, Iran, Rabu (1/4/2026). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa.
Peneliti dari Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka) Emaridial Ulza menilai posisi Indonesia dalam perhatian dunia terancam hilang di tengah konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Dalam keterangan di Jakarta, Senin, Emaridial memaparkan dalam laporan strategis Global Trust Intelligence (GTI), Indonesia saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai strategic invisibility trap.
"Kondisi ini bukan berarti Indonesia dipersepsikan buruk oleh dunia internasional, melainkan justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali. Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi cepat, negara yang tidak muncul dalam narasi global akan cenderung tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis," kata Emaridial.
Emaridial menjelaskan dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global dan publik internasional tidak semata-mata merespons data, tetapi lebih dipengaruhi oleh narasi yang sering muncul dan tertanam dalam ingatan.
Dalam konteks ini, lanjut dia, negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar.
"Fenomena ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam konflik besar, Iran tetap hadir di berbagai panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Sementara itu Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil tidak muncul sebagai aktor dalam narasi global yang dianggap penting," ujarnya.
Menurut Emaridial, kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan memiliki dampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, kata dia, dampaknya akan terasa dalam bentuk tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri.
Di sisi lain, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi yakni lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas mengalami tekanan secara bersamaan, berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.
Namun demikian Emaridial menilai Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global, antara lain keberhasilan menghimpun pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di tiga besar dunia, serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu investasi human capital terbesar di kawasan.
Namun, menurut Emaridial, keunggulan-keunggulan ini belum dikomunikasikan secara efektif di tingkat global.
"Di era saat ini, narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor yang menentukan arah ekonomi sebuah negara. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor yang penting," ucap Emaridial Ulza.




