Top
Begin typing your search above and press return to search.

POWER BREAKFAST: Eks Dubes RI kritik kebuntuan AS-Iran, diplomasi dinilai kunci

Di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dan mandeknya perundingan global, penting diplomasi inklusif sebagai jalan meredakan ketegangan

X

Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan kebuntuan sejumlah perundingan internasional, mantan Duta Besar RI untuk Lebanon, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Indonesian Council on World Affairs (ICWA) Bagas Hapsoro, menilai jalur diplomasi tetap menjadi kunci meredakan ketegangan global.

Dalam wawancara di program Power Breakfast Radio Elshinta, Senin (13/4/2026), Bagas menyoroti kompleksitas konflik kawasan, termasuk mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali gagal mencapai titik temu.

“Diplomasi itu harus komunikatif dan akumulatif, bukan konfrontatif. Itu yang pernah terbukti berhasil,” ujar Bagas kepada anchor Bhery Hamzah.

Menurutnya, perbedaan kepentingan mendasar, terutama terkait isu nuklir dan sanksi ekonomi masih menjadi penghalang utama dalam proses dialog kedua negara.

Ia membandingkan pendekatan diplomasi era Barack Obama yang menghasilkan kesepakatan nuklir 2015, dengan kebijakan yang lebih keras di masa Donald Trump. Pendekatan yang terbuka dan akomodatif, kata dia, terbukti lebih efektif dalam meredakan konflik.

Bagas juga menekankan pentingnya melibatkan seluruh aktor kawasan dalam setiap proses perundingan. Menurutnya, absennya pihak-pihak tertentu justru berpotensi memperpanjang konflik.

Ia turut mengkritisi peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai belum optimal dalam meredam eskalasi konflik.

“Perlu ada penguatan peran lembaga internasional agar benar-benar bisa menjadi mediator yang efektif,” katanya.

Dalam konteks Indonesia, Bagas menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai negara non-blok dan kontributor misi perdamaian dunia tetap relevan. Namun, ia mengingatkan pentingnya evaluasi, khususnya terkait keamanan personel di lapangan.

“Kalau tidak ada jaminan keamanan, tentu harus dipertimbangkan kembali. Keselamatan prajurit adalah yang utama,” tegasnya.

Tetap aktif dan humanis

Di luar isu geopolitik, Bagas tetap menjaga rutinitas sederhana untuk menunjang produktivitasnya. Ia mengaku memulai hari dengan berjalan kaki selama 30–60 menit.

“Yang penting tubuh tetap bergerak. Itu dasar menjaga kesehatan, apalagi di usia sekarang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga aktif mengikuti perkembangan global melalui media digital serta berbagi perspektif kepada generasi muda sebagai bagian dari perannya di Indonesia Council on World Affairs.

“Generasi muda perlu mendapatkan informasi yang utuh agar bisa menentukan sikap sendiri terhadap masa depan,” kata Bagas.

Power Breakfast di Radio Elshinta adalah program wawancara khusus mingguan setiap hari Senin pada pukul 07.00 WIB. Membahas isu terkini, politik, hukum, dan sosial budaya, gaya hidup dengan menghadirkan narasumber ahli seperti akademisi, praktisi, dan analis. Selain tayang di Radio Elshinta, wawancara tersebut dapat disimak di Youtube, portal Elshinta.com dan media sosial.


Deddy Ramadhani

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire