Serangan AS di Venezuela, pakar dorong reformasi PBB

Ilustrasi - Markas besar PBB di New York. /ANTARA/Anadolu/py.
Ilustrasi - Markas besar PBB di New York. /ANTARA/Anadolu/py.
Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro menjadi pengingat akan pentingnya reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memastikan badan tersebut tetap berwibawa menghadapi negara anggotanya.
Disampaikan pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah, Selasa, serangan AS tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional yang pula mengekspos ketidakberdayaan PBB terhadap negara anggotanya.
“Serangan brutal tersebut telah mengerdilkan hukum internasional dan merendahkan harkat PBB,” kata Reza, merespons pertanyaan ANTARA.
Menurut dia, meski AS berhasil mencapai tujuannya dalam operasi di Venezuela itu, langkah tersebut bertentangan dengan Piagam PBB, yang mengamanahkan penyelesaian konflik secara damai, serta berpotensi menjadikan AS sebagai “musuh bersama di Benua Amerika”.
Ia pun mengungkapkan kekhawatiran, apabila PBB tak kunjung berubah menghadapi dinamika global yang terjadi, badan tersebut terancam menjadi “sekadar stempel bagi kepemimpinan global AS”.
Untuk itu, Reza mendorong Indonesia untuk memainkan peran aktifnya mendorong reformasi PBB melalui pendekatan “intelektual dan institusional di tingkat dunia”.
“Hal ini penting sehingga PBB, di masa depan, jadi lebih berkeadilan dan berwibawa sehingga tidak mudah dilecehkan oleh negara manapun,” kata dia.
Akademisi itu menyebut penambahan unsur baru di Dewan Keamanan PBB dengan mempertimbangkan keterwakilan umat beragama, jumlah penduduk, dan kontribusi penjaga perdamaian dapat menjadi salah satu hal yang pertimbangan dalam reformasi PBB.
Rakyat Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari digegerkan dengan serangan militer AS berskala besar terhadap instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian, di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS.
Presiden AS Donald Trump kemudian membenarkan bahwa pihaknya melakukan serangan ke Venezuela serta berhasil menangkap Nicolas Maduro berikut istrinya, yang langsung dibawa ke New York untuk diadili dengan dakwaan federal AS.
Menyusul penculikan Maduro oleh AS, Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodriguez untuk menjabat sebagai presiden sementara.
Serangan AS itu pun mengundang kecaman luas dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang mengkhawatirkan aksi tersebut dapat menjadi preseden yang sangat buruk dalam hubungan internasional.




