Trump tetap pertimbangkan serangan militer ke Iran

Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (. ANTARA/Anadolu/py/am.)
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat (. ANTARA/Anadolu/py/am.)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikukuh mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran meski pantauan intelijen AS dan Israel menyimpulkan program nuklir Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi AS saat ini.
Menurut pejabat AS dan Eropa sebagaimana dikutip laporan khusus The New York Times, Jumat, tak banyak bukti yang menunjukkan Iran telah memulai kembali program pengayaan uranium tingkat tinggi atau memproduksi rudal baru hingga enam bulan setelah serangan AS pada Juni tahun lalu.
Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan terkait waktu dan alasan mengapa AS saat ini memberi ancaman baru kepada Iran.
Pada Juni 2025, Presiden Trump memperingatkan Iran jika mereka tidak "berdamai", serangan di masa depan "akan semakin parah dan semakin mudah". Ancaman yang sama kembali ia sampaikan pada pekan ini saat mendesak Teheran kembali ke meja perundingan.
Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly berkata bahwa pendirian Trump tidak berubah, sembari menegaskan bahwa "negara pendukung terorisme nomor wahid sedunia tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir".
Departemen pertahanan AS pun menguatkan ancaman tersebut dengan menghimpun kekuatan militer secara besar-besaran di Timur Tengah, yang mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln, pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, dan puluhan ribu personel.
Padahal, sejumlah pejabat senior secara diam-diam mengakui bahwa bagaimana eskalasi dan dinamika konflik yang dapat terjadi kemudian masih belum dapat dipastikan.
Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam sebuah rapat dengar pendapat dengan Senat AS pada Rabu (28/1), menyampaikan bahwa konsekuensi yang dapat terjadi atas kejatuhan pemimpin Iran masih belum jelas.
"Itu adalah pertanyaan terbuka," kata Rubio, sembari menyampaikan bahwa kekuasaan di Iran terbagi antara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Menurut laporan tersebut, pihak intelijen meyakini bahwa cadangan uranium diperkaya yang dimiliki Iran, dan terdampak serangan AS tahun lalu, masih terkubur dan belum dapat dijangkau. Karena itu, pemulihan produksi senjata secara cepat diperkirakan tak akan terjadi.
Namun, Teheran diketahui telah menggali lebih dalam di situs-situs nuklirnya di dekat Natanz dan Isfahan.
Legislator AS dari Partai Demokrat juga menyampaikan keprihatinan atas pendekatan yang ditempuh pemerintahan Trump.
Anggota DPR AS Jason Crow dari Colorado, misalnya, menekankan bahwa yang dibutuhkan sekarang bukanlah unjuk kekuatan, melainkan "kesepakatan yang permanen dan dapat diverifikasi untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir".
Sumber: Anadolu




