Turnamen Piala Presiden 2025 tuai apresiasi, kolaborasi jadi kunci
Kesuksesan Piala Presiden 2025 disebut tak lepas dari peran media, sponsor, dan audit independen yang menjaga transparansi serta membangun antusiasme publik

Foto : PSSIPers
Foto : PSSIPers
Kesuksesan Piala Presiden 2025 menuai apresiasi dari berbagai pihak. Turnamen pramusim ini dinilai berjalan profesional, dengan kolaborasi lintas sektor yang solid, mulai dari panitia, sponsor, media, hingga auditor independen.
Ketua Steering Committee, Maruarar Sirait, menegaskan keberhasilan turnamen tidak berdiri pada satu sosok, melainkan hasil kerja kolektif seluruh ekosistem sepak bola.
“Tidak ada superman, yang ada adalah superteam. Ini keberhasilan bersama dari seluruh panitia dan ekosistem yang terlibat,” ujar Maruarar dalam Malam Penutupan Piala Presiden 2025 di SCTV Tower, Senayan, Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Ia juga menyinggung peran Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang memberikan kepercayaan dalam pengelolaan turnamen.
Selain faktor internal, Maruarar memberi perhatian khusus pada kontribusi media. Menurutnya, eksposur yang luas dari media berperan besar dalam membangun antusiasme publik terhadap turnamen.
“Media punya peran penting dalam membangun antusiasme publik terhadap sepak bola. Apresiasi ini bentuk terima kasih kami,” katanya.
Aspek transparansi juga menjadi sorotan. Panitia menggandeng PwC Indonesia sebagai auditor independen untuk memastikan akuntabilitas keuangan.
“Kita tidak bisa menilai diri sendiri. Harus ada auditor terpercaya agar setiap kekurangan bisa diperbaiki ke depannya,” ujar Maruarar.
Dari sisi komersial, dukungan sponsor seperti Astra International, Indofood, hingga Gojek turut menjadi penopang utama keberlangsungan turnamen.
“Kepercayaan itu sangat sulit didapat, tetapi sangat mudah hilang. Karena itu harus terus dijaga dan dirawat,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Erick Thohir juga mengapresiasi dedikasi media yang tetap meliput pertandingan hingga larut malam.
“Saya mau mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan media yang hari Minggu malam masih mau meliput karena kecintaannya terhadap sepak bola,” ujar Erick.
Ia menilai peran media selama ini krusial dalam memperluas jangkauan informasi sepak bola nasional.
“Dukungan media selama ini untuk liputan sepak bola sangat maksimal,” tambahnya.
Sebagai bentuk penghargaan, panitia memberikan apresiasi kepada insan media dari berbagai kategori, mulai dari media cetak, online, televisi, fotografi, hingga media sosial.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Maruarar dan disaksikan Erick dalam seremoni penutupan. Juara pertama di masing-masing kategori mendapatkan Rp20 juta, disusul Rp15 juta untuk posisi kedua dan Rp12 juta untuk posisi ketiga. Selain itu, dua karya terbaik lainnya juga mendapat apresiasi masing-masing Rp10 juta.
Irza Farel




