Top
Begin typing your search above and press return to search.

Dapur Anugrah Ratu Alam 1 di Sukabumi ditutup sementara buntut dugaan keracunan MBG

Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Anugrah Ratu Alam 1 Loji berhenti beroperasi untuk sementara waktu, menyusul kejadian dugaan keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Dapur Anugrah Ratu Alam 1 di Sukabumi ditutup sementara buntut dugaan keracunan MBG
X

Sumber foto: Andri Somantri/elshinta.com.


Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Anugrah Ratu Alam 1 Loji berhenti beroperasi untuk sementara waktu, menyusul kejadian dugaan keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Dapur berhenti beroperasi sejak terjadinya peristiwa dugaan keracunan tersebut yakni pada Rabu (28/1/2026). Adapun korban keracunan yang diduga dari makanan MBG terdiri dari siswa, guru dan wali murid yang jumlahnya mencapai puluhan orang.

Kepala SPPG Anugrah Ratu Alam 1 Loji, Anwar Syafei, mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah terhadap sampel makanan yang diperiksa. Menurutnya, penutupan dapur akan berlangsung hingga adanya rekomendasi resmi untuk kembali beroperasi.

“Per tanggal 28 sejak kejadian, dapur kami ditutup. Untuk waktu dan kapan mulainya kami belum tahu, kalau pengalaman yang sudah-sudah di dapur lain yang mengalami kejadian seperti ini, menunggu investigasi hasil uji lab makanan nanti kita laporkan ke BGN, nanti muncul keputusan kembali untuk running dari pihak BGN,” ujar Anwar, Sabtu (31/1/2026).

Anwar menjelaskan, pada hari kejadian menu MBG yang disajikan berupa nasi putih, nugget, tumis wortel dan buncis serta buah jeruk kemudian tahu sumedang.

Menurut dia, berdasarkan menu yang disusun, seharusnya menu pada hari Rabu itu terdiri dari ayam goreng krenyes, nasi putih, tempe goreng, tumis kembang kol jamur dan wortel, serta buah jeruk. Menu pada Rabu itu berubah karena ditukar dengan menu hari Selasa.

“Karena di hari Rabu itu ada permintaan para kepala sekolah untuk mengirimkan MBG ini pagi-pagi terutama ke sekolah SD karena gurunya akan ada rapat, maka kami switch menunya itu menjadi menu hari Selasa ke Rabu jadi muncul nugget, nasi putih, tumis buncis wortel, buah jeruk, kemudian menu disepakati diswitch karena menunya harus mudah dan cepat diprosesnya,” ujarnya.

Anwar juga menegaskan bahwa tahu sumedang, merupakan tambahan menu yang diluar rencana.

“Menu tahu ini tidak ada di daftar menu pada hari itu, tahu sumedang yang menjadi dugaan kasus keracunanan atau dugaan kejadian menonjol itu, ada tambahan menu yang tidak sesuai rencana. Kami mengetahui hal itu ketika mengecek kembali menu yang akan disiapkan selama 10 hari kedepan,” katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Andri Somantri, Sabtu (31/1).

Anwar menjelaskan bahwa tahu tersebut berasal dari supplier yang dikirimkan kepada dapur pada hari Selasa (27/1/2026). Tahu yang sudah digoreng itu datang ke dapur pada waktu subuh kemudian kekurangannya datang lagi pada waktu sore.

Selanjutnya terjadi miskomunikasi di dapur, Anwar mengira tahu sumedang yang sudah digoreng akan diolah lagi menjadi olahan lain seperti gehu namun pada kenyataannya tahu itu disajikan tanpa dijadikan olahan lain. “Ternyata pagi itu, saya menerima laporan dari sekolah, tahu itu dikirim tanpa diolah terlebih dahulu, artinya langsung dimasukan ke ompreng,” ujarnya.

Terkait video tahu berjamur yang viral di media sosial bersamaan dengan kejadian dugaan keracunan, Anwar menduga tahu tersebut telah terkontaminasi bakteri. Selain itu, faktor suhu, udara dan lainnya diduga turut memicu munculnya jamur saat tahu dikemas dalam ompreng ketika menuju sekolah penerima manfaat MBG.

Kendati demikian, kepastian terkait penyebab keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium kesehatan daerah.


Sementara itu, Kepala Puskesmas Simpenan Ade Setiawan menuturkan jumlah siswa, guru, dan wali murid yang mengalami keracunan mencapai 38 orang, berdasarkan data sejak hari kejadian pada Rabu hingga Jumat (30/1/2026). Dari jumlah tersebut, enam orang harus dirujuk ke RSUD Palabuhanratu.

Ade menyatakan mereka yang sebelumnya menjalani perawatan di RSUD Palabuhanratu akibat dugaan keracunan makanan, telah diperbolehkan pulang. Para pasien tersebut mulai diperbolehkan pulang sejak Kamis (29/1/2026), dengan pasien terakhir dipulangkan pada Jumat (30/1/2026).


“Jadi dari enam [pasien] sudah pulang,” katanya.

Dugaan keracunan makanan tersebut dialami para siswa, guru, serta wali murid pada Rabu. Mereka berasal dari 10 sekolah terdiri dari sekolah dasar, PAUD, serta Madrasah Aliyah yang berada di Desa Loji dan Desa Sangrawayang.

Makanan tersebut didistribusikan pada Rabu pagi oleh dapur. Beberapa jam setelah mengkonsumsi makanan itu, mereka mulai merasakan gejala keracunan.

Terkait kejadian tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi bersama Puskesmas Simpenan telah mengambil sampel makanan yang disajikan pada hari kejadian. Sampel itu selanjutnya diperiksa di laboratorium kesehatan daerah.

“Petugas surveilans itu mengambil sampel, ada lima sampel yang kami ambil, nasi, nugget, tahu, sayurnya ada buncis dan wortel kemudian jeruk,” ujarnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire