Top
Begin typing your search above and press return to search.

Apakah puasa perlu mandi wajib? Ini penjelasan sesuai syariat

Apakah puasa perlu mandi wajib? Ini penjelasan sesuai syariat tentang hukum puasa dalam keadaan junub, dalil hadis, serta pandangan ulama.

Apakah puasa perlu mandi wajib? Ini penjelasan sesuai syariat
X

Ini penjelasan tentang hukum puasa dan mandi wajib. (Sumber: Vecteezy)

Pertanyaan seputar apakah puasa perlu mandi wajib, sering muncul di kalangan umat Islam, terutama saat bulan Ramadan tiba. Pertanyaan ini penting karena menyangkut keabsahan ibadah puasa. Dalam pembahasan ini, akan dijelaskan secara rinci penjelasan ini sesuai syariat, berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, serta pandangan para ulama, sehingga umat Islam dapat menjalankan puasa dengan tenang dan penuh keyakinan.

Pengertian mandi wajib dan keadaan junub

Mandi wajib atau mandi junub adalah mandi besar yang dilakukan untuk menghilangkan hadas besar. Seseorang diwajibkan mandi wajib ketika mengalami kondisi tertentu, seperti setelah berhubungan suami istri, keluarnya mani karena mimpi basah, atau setelah haid dan nifas bagi perempuan.

Dalam konteks ibadah, mandi wajib menjadi syarat sah untuk melaksanakan salat dan ibadah lain yang mensyaratkan kesucian. Namun, dalam konteks puasa, muncul pertanyaan apakah kondisi junub dan belum mandi wajib dapat memengaruhi sah atau tidaknya puasa.

Apakah puasa perlu mandi wajib?

Berdasarkan penjelasan para ulama dan dalil yang sahih, mandi wajib bukanlah syarat sah puasa. Artinya, seseorang yang masih dalam keadaan junub saat masuk waktu subuh tetap sah puasanya, meskipun mandi wajib baru dilakukan setelahnya.

Hal ini ditegaskan dalam berbagai literatur fikih dan hadis sahih yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berada dalam keadaan junub ketika waktu subuh tiba, kemudian beliau mandi dan tetap melanjutkan puasanya.

Dengan demikian, puasa tidak batal hanya karena seseorang belum sempat mandi wajib sebelum subuh, selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, atau hubungan suami istri setelah terbit fajar.

Dalil hadis tentang mandi wajib dan puasa

Salah satu dalil utama terkait masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA dan Ummu Salamah RA. Keduanya berkata bahwa Nabi Muhammad SAW pernah memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena berhubungan dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa.

عن عائشة وأم سلمة رضي الله عنهما "أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ ويَصُومُ" متفق عليه وزاد مسلم في حديث أم سلمة "وَلَا يَقْضِي

“Dari Aisyah RA dan Ummu Salamah RA, Nabi Muhammad SAW pernah berpagi hari dalam kondisi junub karena jimak, kemudian beliau mandi, dan terus berpuasa,” (HR Muttafaq Alaih.)

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa mandi wajib tidak memengaruhi keabsahan puasa. Junub bukan termasuk perkara yang membatalkan puasa, sehingga puasa tetap sah meskipun mandi dilakukan setelah subuh.

Pandangan ulama tentang puasa dalam keadaan junub

Mayoritas ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa puasa tetap sah meskipun seseorang masih dalam keadaan junub saat terbit fajar.

Mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali menyatakan bahwa seseorang boleh menunda mandi wajib hingga setelah subuh, selama sudah berniat puasa di malam hari. Menurut mereka, yang membatalkan puasa adalah masuknya sesuatu ke dalam tubuh dengan sengaja, hubungan suami istri, dan hal-hal lain yang secara jelas disebutkan dalam syariat.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu juga menjelaskan bahwa orang yang masih junub saat subuh, serta perempuan yang telah suci dari haid sebelum fajar namun baru mandi setelahnya, tetap sah puasanya.

Bolehkah menunda mandi wajib hingga siang hari?

Secara hukum, menunda mandi wajib hingga siang hari tidak membatalkan puasa. Namun, para ulama menganjurkan agar mandi wajib dilakukan sesegera mungkin, terutama sebelum melaksanakan salat subuh.

Menunda mandi wajib tanpa alasan yang jelas dapat menyebabkan seseorang kehilangan keutamaan salat subuh di awal waktu. Selain itu, kondisi tidak suci juga menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah lain seperti membaca Al-Qur’an dan salat sunnah.

Oleh karena itu, meskipun puasa tetap sah, menyegerakan mandi wajib adalah sikap yang lebih dianjurkan dalam Islam.

Berdasarkan penjelasan sesuai syariat ini, mandi wajib bukan syarat sah puasa. Seseorang yang masih dalam keadaan junub saat subuh tetap sah puasanya, selama telah berniat puasa dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Dalil hadis Nabi Muhammad SAW serta pandangan mayoritas ulama menegaskan bahwa mandi wajib dapat dilakukan setelah subuh tanpa memengaruhi keabsahan puasa. Meski demikian, menyegerakan mandi wajib tetap dianjurkan agar dapat menjalankan ibadah lainnya dalam keadaan suci dan memperoleh keutamaan yang lebih besar.

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire