Top
Begin typing your search above and press return to search.

Berapa jarak tempuh aman tanpa istirahat saat berkendara?

Berapa jarak tempuh aman tanpa istirahat saat berkendara? Idealnya 2 jam sekali berhenti untuk cegah lelah, apalagi saat perjalanan jauh di Ramadan.

Berapa jarak tempuh aman tanpa istirahat saat berkendara?
X

Ini jarak tempuh aman tanpa istirahat ketika melakukan perjalanan mudik. (Sumber: AI Generated Image)

Pada Bulan Ramadan terutama menjelang mudik Lebaran 2026/1447 H ada perjalanan panjang yang menanti kita di depan. Melalui jarak tempuh ratusan kilometer, tentunya menghabiskan banyak energi yang mungkin membuat kelelahan. Untuk itu sebenarnya, berapa jarak tempuh aman tanpa istirahat saat berkendara?

Idealnya, pengemudi disarankan berhenti setiap dua jam sekali untuk mencegah kelelahan dan menurunkan risiko kecelakaan, terutama saat perjalanan jarak jauh di bulan puasa. Memahami batas aman berkendara ini menyangkut keselamatan diri sendiri, keluarga, dan pengguna jalan lain.

Mengapa istirahat penting saat berkendara jarak jauh?

Kelelahan saat mengemudi merupakan salah satu faktor risiko utama kecelakaan lalu lintas. Kelelahan dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat waktu reaksi, hingga menyebabkan microsleep, yaitu tertidur beberapa detik tanpa disadari.

Badan keselamatan seperti National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) di Amerika Serikat menyebutkan bahwa mengemudi dalam kondisi mengantuk dapat memiliki dampak yang setara dengan berkendara dalam pengaruh alkohol. Di Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia melalui Korlantas Polri juga rutin mengimbau pengemudi untuk beristirahat secara berkala saat arus mudik.

Saat Ramadan, risiko kelelahan bisa meningkat karena perubahan pola tidur dan makan. Kurang asupan cairan serta jam tidur yang bergeser dapat memengaruhi fokus saat mengemudi, terutama menjelang waktu berbuka puasa.

Rekomendasi jarak tempuh aman tanpa istirahat

1. Idealnya berhenti setiap dua jam sekali

Direkomendasikan untuk beristirahat setiap dua jam atau setelah menempuh jarak sekitar 150–200 kilometer, tergantung kondisi lalu lintas dan medan jalan.

Hal ini juga sejalan dengan anjuran dari sejumlah lembaga keselamatan jalan di negara Eropa yang menyarankan pengemudi berhenti minimal 15 menit setiap dua jam perjalanan.

Artinya, tidak ada angka pasti dalam kilometer yang berlaku untuk semua situasi. Faktor seperti kemacetan, cuaca, kondisi fisik pengemudi, serta jenis kendaraan turut memengaruhi batas aman berkendara.

2. Durasi istirahat yang disarankan

Istirahat singkat selama 15–30 menit cukup membantu memulihkan fokus. Pengemudi dapat:

  • Keluar dari kendaraan dan melakukan peregangan ringan
  • Mengonsumsi makanan atau minuman secukupnya saat waktu berbuka
  • Mengganti pengemudi jika memungkinkan

Dalam konteks Ramadan, waktu istirahat bisa dimanfaatkan untuk berbuka puasa dengan makanan ringan yang praktis dan mudah dibawa, seperti kurma, roti, atau minuman elektrolit. Hal ini sekaligus membantu menjaga energi sebelum melanjutkan perjalanan.

Faktor yang memengaruhi batas aman berkendara

1. Kondisi fisik dan kualitas tidur

Kurang tidur secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan. Kurang tidur dari 7 jam per malam dapat memengaruhi kewaspadaan.

Selama Ramadan, penting untuk mengatur ulang pola tidur agar tetap cukup istirahat sebelum melakukan perjalanan jauh, terutama jika berkendara di siang hari saat berpuasa.

2. Waktu berkendara

Waktu rawan kantuk umumnya terjadi pada:

  • Pukul 13.00–15.00
  • Pukul 02.00–05.00

Mengemudi pada jam-jam tersebut tanpa istirahat meningkatkan risiko microsleep. Jika perjalanan mudik dilakukan malam hari demi menghindari macet, pastikan kondisi tubuh benar-benar prima.

3. Kondisi lalu lintas dan cuaca

Perjalanan mudik Ramadan identik dengan kepadatan lalu lintas. Berkendara dalam kondisi macet panjang juga menguras energi mental. Selain itu, hujan atau cuaca ekstrem memperbesar beban konsentrasi.

Dalam situasi seperti ini, jarak tempuh aman tanpa istirahat bisa menjadi lebih pendek dari dua jam. Pengemudi perlu lebih peka terhadap tanda-tanda kelelahan.

Tanda-tanda pemudik harus segera beristirahat

Beberapa gejala yang tidak boleh diabaikan antara lain:

  • Sering menguap dan mata terasa berat
  • Sulit menjaga kendaraan tetap di jalur
  • Tidak ingat beberapa kilometer terakhir
  • Reaksi melambat terhadap situasi di depan

Jika mengalami salah satu tanda tersebut, segera cari rest area, SPBU, atau tempat aman untuk berhenti. Jangan memaksakan diri demi mengejar waktu berbuka atau target tiba lebih cepat.

Tips aman berkendara selama Ramadan

Agar perjalanan tetap aman dan nyaman selama bulan puasa, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Rencanakan waktu keberangkatan dan titik istirahat sejak awal.
  • Siapkan bekal praktis untuk berbuka di perjalanan.
  • Pastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum berangkat.
  • Gunakan aplikasi navigasi untuk memantau kondisi lalu lintas.
  • Hindari konsumsi makanan berat berlebihan saat berbuka jika harus langsung melanjutkan perjalanan.

Perjalanan jauh saat mudik di bulan Ramadan sering kali menjadi momen berkualitas bersama keluarga. Dengan perencanaan matang, termasuk memperhatikan jarak tempuh aman tanpa istirahat saat berkendara, risiko kecelakaan dapat ditekan secara signifikan.

Tidak ada angka mutlak mengenai berapa jarak tempuh aman tanpa istirahat saat berkendara. Namun, rekomendasi umum adalah berhenti setiap dua jam atau sekitar 150–200 kilometer, dengan durasi istirahat minimal 15–30 menit. Selama Ramadan, faktor kelelahan akibat perubahan pola makan dan tidur perlu menjadi perhatian ekstra.

Mengutamakan keselamatan di jalan merupakan bentuk tanggung jawab kepada keluarga dan sesama pengguna jalan

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire