Kenapa bulan Ramadan selalu maju lebih awal?
Alasan kenapa bulan Ramadan selalu maju lebih awal setiap tahun karena perbedaan kalender Hijriah dan Masehi, serta pengaruhnya pada persiapan ibadah Ramadan.

Sebenarnya apa alasan bulan Ramadan selalu maju lebih awal? Berikut penjelasan lengkapnya di sini!
Sebenarnya apa alasan bulan Ramadan selalu maju lebih awal? Berikut penjelasan lengkapnya di sini!
Setiap tahun awal puasa tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama dalam kalender masehi. Mungkin hal ini masih membuat banyak orang kebingungan, kenapa bulan Ramadan selalu maju lebih awal dari tahun ke tahun? Jika pada tahun-tahun sebelumnya Ramadan dimulai pada bulan Maret atau April, maka pada Ramadan 2026 diprediksi akan menyapa lebih awal di bulan Februari. Pergeseran ini punya alasan ilmiah dan astronomis yang konkret.
Untuk memahami penyebabnya, mari menelusuri penjelasan ilmiah dan historis di balik pergeseran waktu Ramadan.
Perbedaan kalender Syamsiyah dan Kamariyah
Penyebab utama Ramadan selalu maju sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahunnya adalah perbedaan sistem penanggalan yang digunakan. Secara internasional kita cenderung menggunakan kalender Masehi (Syamsiyah) yang berbasis pada peredaran bumi mengelilingi matahari. Satu tahun dalam kalender Masehi terdiri dari 365 hari, atau 366 hari pada tahun kabisat.
Di sisi lain, kalender Hijriah (Kamariyah) yang menjadi acuan penentuan bulan Ramadan didasarkan pada siklus fase bulan mengelilingi bumi. Satu tahun dalam kalender Hijriah hanya memiliki sekitar 354 hingga 355 hari. Secara matematis, terdapat selisih waktu sekitar 11 hari antara kedua sistem penanggalan ini. Akibatnya, bulan-bulan dalam kalender Islam, termasuk Ramadan, akan berputar melewati semua musim dalam kalender Masehi dalam siklus sekitar 33 tahun.
Mekanisme pnentuan awal Ramadan
Selain perhitungan matematis, penentuan awal Ramadan di Indonesia biasanya melibatkan dua metode utama, yaitu Hisab dan Rukyatul Hilal.
- Metode Hisab: Menggunakan perhitungan astronomis yang akurat untuk menentukan posisi bulan secara matematis.
- Metode Rukyat: Melakukan pengamatan langsung terhadap munculnya hilal (bulan sabit muda) di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam.
Perpaduan kedua metode ini memastikan bahwa meskipun Ramadan selalu maju, penetapannya tetap memiliki dasar hukum dan sains yang kuat. Hal ini memberikan kepastian bagi umat untuk mulai melakukan persiapan rumah tangga dan logistik jauh-jauh hari.
Dampak pergeseran waktu terhadap aktivitas
Majunya waktu Ramadan mempengaruhi dinamika sosial dan ekonomi. Ketika Ramadan jatuh di musim yang berbeda, tantangan yang dihadapi umat pun berubah. Misalnya, saat Ramadan bertepatan dengan musim hujan, kelembapan udara yang tinggi menuntut perhatian ekstra pada kebersihan lingkungan rumah dan kenyamanan.
Kesiapan fisik menjadi faktor kunci. Perubahan jadwal makan saat sahur dan berbuka mengharuskan setiap individu untuk lebih selektif dalam memilih asupan nutrisi dan menjaga hidrasi. Selain itu, rutinitas kebersihan tubuh menjadi sangat krusial. Mengingat Ramadan adalah bulan yang suci, menjaga kesucian fisik melalui mandi yang bersih dan perawatan diri yang tepat menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual persiapan ibadah sehari-hari.
Persiapan menjelang Ramadan 2026
Aktivitas fisik yang intens di tengah suhu udara yang tidak menentu tentu meningkatkan kebutuhan akan pendukung kenyamanan diri. Mulai dari pakaian ibadah yang menyerap keringat, hingga kebutuhan personal care seperti sabun antiseptik dan pewangi pakaian agar tetap segar meski beraktivitas seharian. Ruang-ruang marketplace pun mulai dipenuhi oleh masyarakat yang berburu kebutuhan stok pangan dan perlengkapan rumah tangga untuk memastikan kelancaran sahur dan berbuka.
Fenomena Ramadan yang selalu maju lebih awal adalah bukti presisi keteraturan alam. Selisih 11 hari antara kalender bulan dan matahari memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk merasakan suasana Ramadan di berbagai musim yang berbeda sepanjang hidup mereka.
Dengan memahami alasan di balik pergeseran ini, kita dapat lebih bijak dalam melakukan persiapan diri. Baik itu persiapan batin, kesehatan fisik melalui gaya hidup aktif, maupun pemenuhan kebutuhan rumah tangga agar momen Ramadan tetap berjalan khidmat, nyaman, dan penuh keberkahan.




