Menjaga lisan selama puasa ramadan
Menjaga lisan selama puasa Ramadan penting untuk menjaga kualitas ibadah dan pahala. Simak penjelasan, hadis, dan dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.

Lisan selama puasa sangat mempengaruhi di bulan ramadan (Sumber:freepik.com)
Lisan selama puasa sangat mempengaruhi di bulan ramadan (Sumber:freepik.com)
Menjaga lisan selama puasa Ramadan merupakan salah satu amalan penting yang seringkali luput dari perhatian. Banyak orang fokus menahan lapar dan haus, tetapi lupa bahwa lisan juga termasuk anggota tubuh yang wajib “berpuasa”.
Padahal kualitas puasa seseorang sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia menjaga ucapan, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di ruang digital. Dalam kehidupan sosial, lisan menjadi sarana utama berinteraksi.
Namun, tanpa disadari, ucapan yang keluar bisa melukai orang lain, memicu konflik, atau bahkan mengurangi pahala puasa. Oleh karena itu, Ramadan hadir sebagai momentum untuk melatih diri agar lebih berhati-hati dalam berbicara dan membiasakan ucapan yang baik.
Puasa dan lisan dalam perspektif Islam
Islam memandang lisan sebagai anggota tubuh yang memiliki dampak besar terhadap amal perbuatan seseorang. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya bernilai secara fisik, tetapi juga moral. Menahan lapar tanpa menjaga lisan menjadikan puasa kehilangan esensi pendidikannya.
Perkataan dusta, ghibah, dan ucapan kasar bisa menggerus pahala puasa, meskipun seseorang tetap berpuasa secara lahiriah.
Ucapan yang perlu dijaga selama puasa
Selama Ramadan, ada beberapa bentuk ucapan yang sebaiknya dihindari. Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain menjadi salah satu yang paling sering terjadi, terutama dalam obrolan santai.
Selain itu, berbohong, memfitnah, berkata kasar, serta mengeluh berlebihan tentang rasa lapar dan lelah juga termasuk hal yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Menjaga lisan bukan berarti harus selalu berbicara. Dalam banyak kondisi, memilih diam justru lebih utama daripada mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat.
Sikap ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk berkata baik atau diam.
Dampak menjaga lisan terhadap ibadah
Lisan yang terjaga membantu menciptakan ketenangan batin. Ketika seseorang tidak sibuk dengan perkataan negatif, hati menjadi lebih lapang dan fokus beribadah.
Salat terasa lebih khusyuk, membaca Al-Qur’an lebih tenang, dan doa pun dipanjatkan dengan perasaan yang lebih bersih.
Sebaliknya, lisan yang tidak terkontrol seringkali memicu penyesalan dan kegelisahan. Perasaan bersalah setelah berkata kasar atau membicarakan orang lain dapat mengganggu konsentrasi ibadah.
Inilah sebabnya menjaga lisan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas puasa secara keseluruhan.
Menjaga lisan sebagai latihan akhlak
Puasa sejatinya adalah latihan pembentukan akhlak. Rasulullah SAW mengajarkan agar orang yang berpuasa tidak membalas celaan atau ajakan bertengkar. Jika ada yang memancing emosi, dianjurkan untuk mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Sikap ini melatih kesabaran dan kedewasaan spiritual. Dengan menjaga lisan, seseorang belajar mengendalikan emosi dan tidak reaktif terhadap situasi yang memancing amarah.
Kebiasaan ini diharapkan tidak hanya bertahan selama Ramadan, tetapi juga menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan dan kebiasaan yang mendukung
Lingkungan pergaulan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan berbicara. Selama Ramadan, memilih lingkungan yang positif dan menghindari percakapan yang tidak bermanfaat dapat membantu menjaga lisan.
Selain itu, mengurangi konsumsi konten yang memicu emosi atau perdebatan juga menjadi langkah penting. Menjaga kebersihan dan kenyamanan diri, termasuk kesehatan mulut, turut mendukung kontrol lisan.
Mulut yang bersih dan segar membuat seseorang lebih nyaman berbicara seperlunya dan menghindari ucapan yang tidak perlu. Produk perawatan mulut yang aman digunakan selama puasa dapat menjadi pendukung kecil dalam menjaga kenyamanan beribadah tanpa mengganggu nilai puasa.
Menjaga lisan selama puasa Ramadan adalah bentuk kesungguhan dalam menjalankan ibadah secara utuh. Puasa tidak hanya melatih tubuh menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih hati dan ucapan agar lebih bersih. Dengan lisan yang terjaga, puasa menjadi lebih bermakna dan pahala pun tetap terpelihara hingga akhir Ramadan.




