Qadha Puasa musafir: kapan wajib dibayar dan bolehkah dicicil?
Qadha puasa musafir kapan wajib dibayar? Simak aturan qadha puasa Ramadan, boleh dicicil atau tidak, dalil ayat dan hadis, serta cara praktis mengganti puasa.

Qadha Puasa musafir: kapan wajib dibayar dan bolehkah dicicil? (Sumber:Istimewa)
Qadha Puasa musafir: kapan wajib dibayar dan bolehkah dicicil? (Sumber:Istimewa)
Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, Islam juga memberi keringanan bagi musafir (orang yang sedang melakukan perjalanan jauh). Musafir diperbolehkan tidak berpuasa ketika safar, lalu menggantinya di hari lain. Agar ibadah lebih tenang dan tidak menumpuk utang puasa, penting memahami aturan qadha puasa musafir secara benar.
Dasar hukum qadha puasa musafir
Dasar utama qadha puasa bagi musafir terdapat dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 185: “Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib mengganti) pada hari-hari yang lain.”
Ayat ini menjelaskan bahwa musafir boleh berbuka, tetapi kewajibannya adalah mengganti puasa di luar Ramadan.
Selain itu, ada hadis sahih yang menegaskan adanya keringanan bagi musafir. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah meringankan separuh salat bagi musafir, dan (meringankan) puasa bagi musafir dan wanita hamil/menyusui.” HR. Abu Dawud, Tirmidzi,
Artinya, musafir diberi kemudahan untuk tidak berpuasa, tetapi tetap bertanggung jawab menggantinya dengan qadha.
Qadha puasa musafir Itu wajib atau sunnah?
Qadha puasa musafir hukumnya wajib jika seseorang tidak berpuasa di Ramadan karena safar. Jadi, keringanan berbuka tidak menghapus kewajiban puasa, melainkan memindahkan waktunya ke hari lain.
Berbeda dengan fidyah, musafir pada dasarnya tidak membayar fidyah selama masih mampu qadha. Fidyah lebih terkait pada kondisi tertentu seperti sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh (tidak mampu puasa sama sekali). Sedangkan musafir umumnya masih mampu mengganti puasa di hari lain.
Kapan qadha puasa musafir wajib dibayar?
Secara umum, qadha puasa musafir bisa dilakukan setelah Ramadan, kapan saja saat sudah mampu. Tidak harus langsung di bulan Syawal, tetapi dianjurkan untuk tidak menunda tanpa alasan.
Waktu terbaik qadha adalah saat tubuh sudah stabil, jadwal lebih longgar, dan kondisi memungkinkan untuk berpuasa dengan nyaman.
Menunda qadha terlalu lama bisa berisiko lupa jumlah hari yang ditinggalkan atau bahkan menumpuk sampai Ramadan berikutnya.
Jika qadha belum dilakukan sampai masuk Ramadan berikutnya, sebagian ulama menjelaskan tetap wajib qadha, dan ada pembahasan tambahan terkait fidyah bila penundaan tanpa uzur.
Karena itu, strategi aman adalah menyelesaikan qadha sebelum Ramadan berikutnya. Dengan mempersiapkan fisik dengan mengkonsumsi yang bergizi seperti madu yang baik untuk tubuh dan kaya akan vitamin.
Bolehkah qadha puasa dicicil dan tidak berurutan?
Pertanyaan ini paling sering muncul, dan jawabannya adalahboleh. Qadha puasa musafir boleh dicicil, misalnya seminggu 1-2 hari, sesuai kemampuan. Qadha juga tidak wajib berurutan, jadi boleh dilakukan terpisah-pisah.
Ini membuat qadha jauh lebih realistis, terutama untuk orang yang jadwalnya padat atau punya aktivitas kerja yang tinggi. Yang penting, jumlah hari qadha sesuai dengan hari puasa yang ditinggalkan.
Cara praktis mengganti puasa musafir
- Catat jumlah hari yang ditinggalkan sejak Ramadan
- Pilih jadwal tetap (misal: setiap Senin-Kamis atau akhir pekan)
- Buat target selesai sebelum Ramadan berikutnya
Untuk niat, qadha puasa dilakukan dengan niat qadha (biasanya di malam hari sebelum Subuh). Intinya, niatnya jelas bahwa itu puasa pengganti Ramadan.
Supaya lebih rapi, banyak orang sekarang memakai aplikasi pengingat ibadah untuk mencatat hari qadha, menyusun kalender puasa, sampai memudahkan pembayaran zakat online agar ibadah tetap tertata.
Qadha puasa musafir adalah kewajiban bagi orang yang berbuka karena perjalanan jauh saat Ramadan. Dasarnya jelas dari Surah Al-Baqarah ayat 185 dan hadis tentang keringan musafir.
Qadha dapat dilakukan setelah Ramadan, dianjurkan tidak ditunda dan boleh dicicil serta tidak harus berurutan.
Dengan perencanaan sederhana, qadha puasa musafir bisa diselesaikan dengan mudah tanpa menumpuk, sehingga ibadah Ramadan tetap lengkap dan hati lebih tenang.




