Top
Begin typing your search above and press return to search.

Tradisi nyekar jelang Ramadan: Sisi spiritual menghormati leluhur

Tradisi nyekar jelang Ramadan bukan sekadar ziarah kubur. Simak makna spiritual, nilai budaya, dan perannya dalam persiapan menyambut bulan suci.

Tradisi nyekar jelang Ramadan: Sisi spiritual menghormati leluhur
X

Tradisi nyekar jelang Ramadan: Sisi spiritual menghormati leluhur (Sumber:Istimewa)

Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia punya satu tradisi yang hampir selalu dilakukan: nyekar. Aktivitas berziarah ke makam keluarga atau leluhur ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tapi juga mengandung makna spiritual yang dalam. Nyekar menjadi momen refleksi diri, pengingat kematian, sekaligus bentuk penghormatan kepada mereka yang telah lebih dulu berpulang sebelum kita memasuki bulan penuh ampunan.

Tradisi ini masih lestari hingga sekarang, bahkan di tengah gaya hidup modern. Banyak orang sengaja meluangkan waktu khusus sebelum Ramadan untuk nyekar, membersihkan makam, menabur bunga, dan memanjatkan doa sebagai persiapan batin menyambut puasa.

Apa itu nyekar dan mengapa dilakukan jelang Ramadan

Nyekar berasal dari kata “sekar” yang berarti bunga. Secara sederhana, nyekar adalah tradisi menaburkan bunga di makam sambil mendoakan arwah yang telah meninggal. Namun maknanya jauh lebih luas dari sekadar ritual fisik.

Menjelang Ramadan, nyekar dilakukan sebagai bentuk persiapan spiritual. Bulan puasa dianggap waktu yang suci, sehingga hati dan pikiran perlu dibersihkan terlebih dahulu. Dengan mengingat orang tua atau leluhur yang telah wafat, seseorang diingatkan akan kefanaan hidup dan pentingnya memperbaiki diri sebelum memasuki bulan ibadah.

Tak heran jika area pemakaman biasanya ramai beberapa hari sebelum Ramadan. Bahkan, sebagian keluarga menjadikan nyekar sebagai agenda rutin tahunan yang tak pernah dilewatkan.

Makna spiritual nyekar: Lebih dari tradisi

Nyekar bukan ritual kosong tanpa makna. Ada nilai spiritual kuat yang terkandung di dalamnya. Saat berziarah, seseorang diajak untuk merenung bahwa hidup di dunia bersifat sementara. Kesadaran ini sering kali menumbuhkan rasa rendah hati dan dorongan untuk memperbanyak amal.

Selain itu, nyekar juga menjadi sarana mempererat hubungan batin dengan keluarga, meskipun telah terpisah oleh kematian. Doa-doa yang dipanjatkan diyakini sebagai bentuk kasih sayang yang tak terputus, sekaligus pengingat agar yang masih hidup menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Bagi banyak orang, nyekar justru menjadi titik awal perubahan sikap menjelang Ramadan lebih tenang, lebih sabar, dan lebih siap menjalani puasa secara lahir dan batin.

Nyekar dalam perspektif Islam dan budaya lokal

Dalam Islam, ziarah kubur dianjurkan karena dapat mengingatkan manusia pada akhirat. Selama dilakukan dengan niat yang benar berdoa dan tidak berlebihan nyekar menjadi amalan yang bernilai positif.

Di Indonesia, nyekar juga kental dengan unsur budaya lokal. Setiap daerah punya ciri khas tersendiri, mulai dari jenis bunga yang digunakan hingga waktu pelaksanaannya. Meski berbeda-beda, tujuannya tetap sama: menghormati leluhur dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan.

Agar lebih nyaman saat berziarah, banyak orang kini memilih sandal empuk atau sepatu ringan outdoor yang cocok dipakai berjalan di area makam, terutama saat cuaca panas. Pilihan alas kaki yang nyaman bisa membantu menjaga fokus ibadah tanpa terganggu rasa lelah.

Tradisi Nyekar sebagai sarana introspeksi diri

Selain aspek spiritual, nyekar juga menjadi momen introspeksi. Berada di pemakaman sering kali membuat seseorang lebih mudah merenungi perjalanan hidupnya sendiri. Apakah selama ini sudah cukup berbuat baik? Apakah Ramadan nanti akan dijalani dengan lebih bermakna?

Tak jarang, setelah nyekar, seseorang terdorong untuk memperbaiki kebiasaan sehari-hari mulai dari menjaga ucapan, memperbaiki hubungan keluarga, hingga menyiapkan pola hidup yang lebih sehat selama puasa. Beberapa orang bahkan mulai membiasakan minum air putih yang cukup dan mengonsumsi vitamin ringan sejak sebelum Ramadan agar kondisi tubuh tetap fit.

Menjaga Nyekar di Era Modern

Di tengah kesibukan dan perubahan zaman, tradisi nyekar tetap relevan jika esensinya dijaga. Bukan soal kemewahan bunga atau ramainya ziarah, melainkan ketulusan doa dan kesadaran diri yang dibangun.

Nyekar menjelang Ramadan mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga membersihkan hati, menghormati masa lalu, dan menata niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan makna inilah nyekar terus hidup dan menjadi bagian penting dari tradisi Ramadan di Indonesia.

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire