INTIM
Jejak Marciano Norman, dari joki kuda, Kepala BIN hingga jadi Ketum KONI
“Bicara olahraga itu segalanya harus bisa kita tingkatkan kualitasnya. Bukan hanya atletnya atau venunya, tapi juga budaya masyarakatnya. Kecintaan masyarakat pada olahraga harus kita bangkitkan,” kata Marciano Norman.

Cucun Hendriana
Rabu, 15 Januari 2020 - 11:09 WIB

Elshinta.com - Letnan Jenderal TNI (Purn.) Marciano Norman adalah Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) periode 2019-2023. Pria kelahiran 28 Oktober 1954 ini sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Dunia olahraga bagi Marciano Norman bukanlah hal yang baru. Sebelumnya, dirinya juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PB TI) selama dua periode. Selain itu, ia pernah menjadi Ketua Inkai Kalimantan Barat dan Pembina Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia (Pordasi).

Sebagai Ketum KONI, saat ini pihaknya bersama dengan para pemangku kepentingan terkait lainnya tengah mempersiapkan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang akan dihelat pada Oktober—November 2020 di Papua.

Mengurusi organisasi yang bergerak di bidang olahraga, Marciano tentu tak ketinggalan untuk berolahraga. Menurutnya, saat ini dirinya terbiasa melakukan olahraga ringan. “Saya rutin berolahraga, yang pasti di Sabtu dan Minggu. Olahraganya biasanya berenang, sesekali masih berkuda,” katanya kepada Elshinta, Senin lalu.

KONI yang dipimpinnya adalah salah satu bagian yang mengimplementasikan kebijakan pemerintah di bidang olahraga, menata organisasi olahraga, pembinaan cabang olahraga (cabor), dan meningkatkan prestasi atlet di semua cabor. “Tak sekadar pembinaan prestasi olahraga. Kami juga harus menata organisasi olahraga ini. Tugas KONI bekerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait seperti Kemenpora dan cabor. Setelah atlet siap bertanding, kami kolaborasi dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang akan membawa dan mendampingi para atlet di event internasional.”

Dalam hal pembinaan, dirinya terus mendorong cabor untuk melakukan rekrutmen atlet dengan cara terbaik sehingga semua dapat kesempatan untuk berlaga di event internasional. Pola rekrutmen harus tepat sehingga atlet-atlet bagus bisa terjaring. “Termasuk sistem pelatihan, kami dorong cabor melakukan evaluasi terhadap yang mereka kerjakan.”

Diakui Marciano, meski sebelumnya dirinya menjabat sebagai Kepala BIN, lalu beralih menangani bidang olahraga, ia tak merasakan kesulitan. “Hanya tantangannya memang lebih besar, karena skupnya lebih besar. Kaitannya setelah masuk KONI, untuk mengantar para atlet berprestasi, kan kita perlu info yang cukup tentang lawan. Calon lawan itu bukan hanya dilihat dari orang per orang, bukan hanya prestasinya, tapi bagaimana dia bisa mencapai prestasi itu, bagaimana rekrutmennya, bagaimana pelatihannya, bagaimana kompetisinya hingga jadi juara. Inilah yang disebut sport intelijen, yang dibutuhkan untuk mendukung kesuksesan atlet kita,” ucapnya.

Dalam hal ini, media massa juga menjadi bagian penting yang dapat bersinergi dengan cabor dan induk olahraga untuk memberikan informasi terkait kesiapan calon lawan. Sport intelijen begitu penting, sebab masyarakat olahraga di Indonesia yang mendambakan prestasi yang baik.

Joki kuda pacu   

Marciano Norman mengaku dirinya sudah hobi berkuda sejak lama. Bahkan saat ini dirinya juga memiliki sekolah berkuda.

Kedekatannya dengan olahraga berkuda lantaran ayahnya merupakan pecinta olahraga ini. Ia bercerita, “Jadi waktu kecil ayah saya itu pecinta olahraga berkuda. Kudanya waktu itu kuda pacu. Di usia 15 tahunan (SMP) saya jadi joki kuda pacu. Bahkan, dalam perjalanannya, saya bertemu sama istri pun di sana, karena hobinya sama: suka jadi joki kuda,” kilahnya.

Hobinya berkuda ini bahkan menurun ke sang anak, yang pernah menjadi atlet berkuda nasional. Semasa bertugas di TNI, Marciano juga pernah ditempatkan di satuan kavaleri berkuda.

“Akhirnya saya buka sekolah berkuda, punya klub berkuda di Balaraja, di sana atletnya banyak dengan kuda-kuda yang bagus. Selain melatih dan membina, ada juga ternak kuda. Kuda womblat dari Belanda dan Jerman bagus untuk equestrian,” sebutnya.

PON XX di Papua

Kembali ke tugasnya di KONI, terkait persiapan PON 2020 di Papua, sejauh ini akan dipertandingkan sebanyak 37 cabor. Lokasi yang akan digunakan adalah Kabupaten dan Kota Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Merauke. Soal infrastruktur yang tengah dibangun pemerintah, paling lambat akan rampung Juli 2020.

“Saat ini sebagian besar sudah siap, tapi memang masih banyak yang dipersiapkan. Ada yang kualitasnya internasional seperti Stadion Papua Bangkit. Sekarang yang dalam pekerjaan untuk olahraga air yang akan dibuat seperti di Senayan. Sedang dibuat juga stadion hoki, kriket, dan merenovasi gedung-gedung olahraga,” ungkapnya.  

Menurutnya, PON 2020 di Papua juga akan menjadi ajang untuk pemecahan beberapa rekor nasional dan internasional. “PON di Papua ini harus sukses sehingga semua pihak diharapkan memberikan dukungan optimal. Tidak ada alasan PON di Papua banyak kendalanya. Kendala ya wajar, tapi kalau bersatu pasti bisa diatasi dengan baik,” kata Marciano.

Terkait keamanan di Papua, ia optimis Kapolri dan Panglima TNI akan memberikan dukungan yang maksimal. “Mereka akan siapkan kekuatan cukup agar PON bisa berjalan dengan aman dan lancar. Kita harus berikan jaminan kepada atlet dari provinsi lain, bahwa kedatangan mereka ke Papua untuk ikut PON bisa aman dan bisa berprestasi,” tukasnya.

Selain dukungan TNI dan Polri, yang juga penting adalah dukungan dari masyarakat Papua sendiri. “Gubernur, bupati, tokoh masyarakat setempat ingin mengajak masyarakat Papua untuk jadi tuan rumah yang baik.”

Marciano juga menyebut soal Indonesia yang menang bidding untuk menggelar kejuaraan dunia sepakbola U-20 pada 2021. Sukses ini harus berlanjut dengan target memenangkan bidding untuk jadi tuan rumah olimpiade pada 2032. “2018 kita sukses melaksanakan Asian Games, itu modal besar untuk memenangkan bidding sebagai tuan rumah olimpiade 2032,” ucapnya optimis.

“Bicara olahraga itu segalanya harus bisa kita tingkatkan kualitasnya. Bukan hanya atletnya atau venunya, tapi juga budaya masyarakatnya. Kecintaan masyarakat pada olahraga harus kita bangkitkan,” demikian Marciano Norman.