BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem hingga Februari 2026
BMKG mencatat kecepatan angin di beberapa wilayah mencapai 20 hingga 25 knot. Angka tersebut jauh di atas kondisi normal yang umumnya berada di bawah 5 knot.

Logo BMKG
Logo BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem hingga Februari 2026 di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG menilai dinamika atmosfer yang fluktuatif memicu hujan lebat dan angin kencang yang dapat terjadi tiba-tiba.
Plt Deputi Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan kondisi ini dipengaruhi faktor global dan regional.
“Saat ini sedang aktif La Niña lemah yang memperkuat potensi cuaca ekstrem di musim hujan. Selain itu juga ada penguatan Monsun Asia yang disertai dinamika atmosfer lain seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby,” ujarnya dalam wawancara Radio Elshinta edisi Siang (25/1/2026).
BMKG mencatat puncak musim hujan masih terjadi di wilayah selatan ekuator Indonesia. Wilayah terdampak meliputi Sumatera selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Papua selatan.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat, bahkan sangat lebat di beberapa daerah.
BMKG juga mencatat bibit siklon 91S telah berkembang menjadi Siklon Tropis Luwana dan bergerak menjauh ke Australia. Meski menjauh, dampak tidak langsung masih dirasakan di Indonesia.
“Walaupun siklonnya menjauh, dampak tidak langsungnya berupa peningkatan kecepatan angin dan gelombang tinggi masih terjadi, khususnya di pesisir selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT,” kata Andri.
BMKG mencatat kecepatan angin di beberapa wilayah mencapai 20 hingga 25 knot. Angka tersebut jauh di atas kondisi normal yang umumnya berada di bawah 5 knot.
Kondisi ini berisiko mengganggu pelayaran, aktivitas nelayan, dan masyarakat pesisir.
BMKG juga mengingatkan potensi penguatan cuaca ekstrem pada 27–28 Januari 2026. Wilayah terdampak meliputi Jawa, Bali, NTB, NTT, dan Papua. Sementara Jabodetabek berpotensi terdampak pada 27–29 Januari 2026.
“Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan karena dinamika atmosfer kembali menguat,” ujarnya.
BMKG menilai Operasi Modifikasi Cuaca efektif menurunkan intensitas hujan.
“OMC mampu mereduksi ekstremitas hujan hingga sekitar 30 persen. Namun perlu dipahami, ini bukan menghilangkan hujan, melainkan mengurangi intensitasnya,” jelasnya.
BMKG menegaskan OMC dilakukan situasional berdasarkan analisis dan tidak berlangsung terus-menerus.
BMKG mengimbau masyarakat melakukan mitigasi mandiri saat hujan berlangsung lebih dari tiga hingga empat jam.
“Hujan dengan durasi panjang itulah yang umumnya memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor,” kata Andri.
BMKG juga mengimbau masyarakat memanfaatkan aplikasi Info BMKG untuk pemantauan cuaca.
“Aplikasi Info BMKG adalah satu-satunya aplikasi resmi BMKG yang memiliki radar. Dari situ masyarakat bisa melihat potensi hujan berdasarkan warna dan durasinya,” ujarnya.
BMKG berharap informasi ini meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan.
Dedi Ramadhani/Rama




