Top
Begin typing your search above and press return to search.

BPBD: 16.987 KK di Serdang Bedagai terdampak banjir

Sedikitnya 16.987 Kepala Keluarga (KK) dari 11 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut), terdampak banjir akibat hujan lebat yang mengguyur daerah itu dan banjir kiriman dari hulu.

BPBD: 16.987 KK di Serdang Bedagai terdampak banjir
X

Korban terdampak banjir di Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah, Sergai membawa kedua anaknya menggunakan rakit untuk menuju daratan lebih tinggi, Minggu (30/11/2025). ANTARA/Darmawan.

Sedikitnya 16.987 Kepala Keluarga (KK) dari 11 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut), terdampak banjir akibat hujan lebat yang mengguyur daerah itu dan banjir kiriman dari hulu.

"Kami terus memantau kondisi di lapangan. Saat ini terdata 16.987 kepala keluarga terdampak banjir," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Serdang Bedagai Abdurrahman Purba di Seirampah, Minggu.

Secara rinci warga yang terdampak tersebut di Kecamatan Sei Rampah mencapai 4.804 KK, Tanjung Beringin 5.330 KK, Sei Bamban 1.223 KK, Bandar Khalifah 1.841 KK, Perbaungan 1.497 KK, Tebing Tinggi 266 KK, Teluk Mengkudu 535 KK, Dolok Masihul 819 KK, Sipispis 83 KK, Tebing Syahbandar 452 KK, dan Kecamatan Pantai Cermin 137 KK.

Banjir di Serdang Bedagai terjadi akibat curah hujan lima hari lalu melanda, ditambah air kiriman dari hulu hingga membuat dua tanggul di Sei Belutu dan Sungai Senangkong jebol.

"Kondisi air saat ini mulai surut, kami semua berharap kondisi ini akan cepat berlalu. Pemkab terus mendata dan menyalurkan bantuan kepada korban terdampak," katanya.

Bambang (43), salah seorang korban terdampak banjir terpaksa tidur di mushala di SMK N 1 Seirampah Dusun V, Desa Pematang Ganjang, Kecamatan Sei Rampah, bersama puluhan warga lainnya. Ayah dua anak ini mengatakan kondisi rumahnya hampir tenggelam. Sebelumnya ia masih bertahan di dalam rumah.

"Saya sudah empat malam tidur di mushala yang dijadikan posko pengungsian, di tempat kami sudah tidak ada lagi daratan, yang tersisa hanya pelantaran mushala ini, itupun air mulai naik ke lantai," kata Bambang dengan nada sedih.

Banjir kali ini dikatakan Saleh (45), juga korban terdampak banjir, sangat parah. Bisa dikatakan banjir kali ini terparah dari yang terjadi pada tahun 2021.

" Ini banjir terparah, sebelumnya tahun 2021 juga banjir, namun kali ini lebih parah lagi. Sekarang kami tidak bisa beraktivitas, hanya mampu menunggu air surut," katanya.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire