Top
Begin typing your search above and press return to search.

BRIN dorong peran komunitas dalam transformasi pemulihan pascabencana

BRIN dorong peran komunitas dalam transformasi pemulihan pascabencana
X

Petani membersihkan tanaman stroberi di kebunnya di Nagari Balingka, Agam, Sumatera Barat, Senin (16/3/2026). Petani setempat mengaku produksi stroberi kembali meningkat pascabencana di daerah itu, dari 50 kilogram per hari menjadi Rp150 kilogram per hari, menyusul cuaca yang membaik dan akses jalan yang sudah tersambung. ANTARA FOTO/Fitra Yogi/rwa.

Kepala Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ali Yansyah Abdurrahim menekankan pelibatan aset komunitas dalam pemulihan pascabencana untuk mempercepat sekaligus mentransformasi proses pemulihan secara berkelanjutan.

"Efektivitas pemulihan sangat ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan kapasitas yang telah dimiliki masyarakat," kata Ali dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Ali menilai sistem sosial dan ekonomi lokal yang telah terbentuk perlu diperkuat agar mampu menjadi fondasi dalam menghadapi berbagai situasi krisis.

"Pemulihan perlu memastikan bahwa kapasitas yang sudah hidup di masyarakat dapat dioptimalkan sebagai kekuatan utama dalam menghadapi situasi krisis," ujarnya.

Lebih lanjut, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Armansyah menjelaskan bahwa metode Asset-Based Community Development (ABCD) memungkinkan identifikasi sekaligus aktivasi berbagai sumber daya yang tersedia di tingkat lokal, mencakup aspek manusia, sosial, alam, fisik, dan finansial dalam satu kerangka terpadu.

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, transect walk, diskusi kelompok terarah, serta wawancara dengan masyarakat terdampak. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk memahami bagaimana berbagai aset dapat dioptimalkan sejak fase tanggap darurat hingga pemulihan jangka panjang.

"Pendekatan ini menekankan bahwa setiap komunitas memiliki modal yang bisa diaktivasi, bukan hanya menunggu bantuan eksternal," lanjut dia.

Pada fase awal bencana, ungkap Armansyah, respons masyarakat justru banyak digerakkan oleh kekuatan jejaring sosial. Relasi keluarga, relawan lokal, serta solidaritas komunitas menjadi mekanisme utama dalam menjaga keberlangsungan hidup, sebagaimana terlihat di sejumlah wilayah kajian di Sumatera Barat dan Aceh.

Di tingkat nagari dan gampong, lanjut dia, jaringan internal dan eksternal dimanfaatkan untuk mempercepat distribusi bantuan, sementara pengetahuan lokal berperan dalam pengelolaan pangan, perlindungan sumber daya, hingga strategi adaptasi terhadap risiko bencana.

Selain itu, basis penghidupan juga berkontribusi signifikan dalam proses pemulihan. Lahan pertanian, kebun, serta akses terhadap sumber daya air menjadi penopang utama aktivitas ekonomi, terutama ketika dikembangkan melalui diversifikasi mata pencaharian berbasis komunitas.

"Aset komunitas yang ada tidak hanya menjadi penopang saat krisis, tetapi juga dapat menjadi penggerak utama dalam proses pemulihan jangka panjang," tutur Armansyah.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire