Top
Begin typing your search above and press return to search.

BRIN identifikasi dua spesies ngengat baru asal Papua dan Sulawesi

BRIN identifikasi dua spesies ngengat baru asal Papua dan Sulawesi
X

Hasil pindai dua spesies ngengat baru endemik Indonesia dari genus Glyphodella dan Chabulina, yaitu Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 dan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026. ANTARA/HO-BRIN

Tim Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi dua spesies ngengat baru endemik Indonesia dari genus Glyphodella dan Chabulina, yaitu Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 dan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah melakukan penelitian lewat survei lapangan di wilayah Papua dan Sulawesi selama periode 2002–2017, serta kajian terhadap koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor.

Rosichon Ubaidillah menyebutkan kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia yang menjadi penanda utama dalam identifikasi ngengat.

"Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan, serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies kerabatnya. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap dan bentuk genitalia yang khas," katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Rosichon menjelaskan perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama penetapan kedua spesies sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan.

"Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi," ungkap dia.

Berdasarkan hasil penelitian Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 hidup di hutan tropis primer di kawasan Pegunungan Foja, Papua, sedangkan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 ditemukan di hutan sekunder tropis di wilayah Sulawesi. Kedua spesies ini bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari.

Para peneliti menilai keberadaan spesies endemik yang terbatas pada wilayah tertentu membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat.

"Oleh karena itu diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari," ujar Rosichon.

Diketahui, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen serta pengamatan detail menggunakan mikroskop. Seluruh spesimen kemudian disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai koleksi nasional.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology edisi Februari 2026, Volume 74, halaman 87–94, dengan judul "Description of two new endemic species of the closely related genera, Glyphodella and Chabulina from Indonesia". Penemuan ini menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat famili Crambidae. Selain itu temuan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire