Cabai dan tomat picu inflasi Sulsel Maret 2026 sebesar 0,59 persen

Pedagang melayani pembeli di Pasar Terong, Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Arnas Padda.
Pedagang melayani pembeli di Pasar Terong, Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Arnas Padda.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat inflasi bulanan (month to month/mtm) di provinsi setempat pada Maret 2026 mencapai 0,59 persen yang dipicu kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau khususnya komoditas cabai rawit serta tomat.
Kepala BPS Sulsel Aryanto di Makassar, Rabu (1/4), mengatakan kelompok makanan, minuman dan tembakau ini memberikan andil yang cukup besar dalam inflasi mtm Maret 2026 yakni sebesar 0,61 persen.
"Pada Maret 2026 itu ada beberapa komoditas mengalami lonjakan dan paling tinggi itu cabai rawit, tomat dan telur ayam ras," ujarnya.
Aryanto menyebutkan sejumlah komoditas pangan tercatat sebagai penyumbang utama inflasi pada periode ini. Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni sebesar 0,10 persen. Kenaikan harga cabai rawit yang cukup signifikan di pasaran mendorong lonjakan inflasi lebih tinggi dibandingkan komoditas lainnya.
Selain cabai rawit, beberapa komoditas lainnya seperti tomat dan ayam ras juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi Maret 2026, yakni masing-masing dengan 0,6 persen.
"Daging ayam ras, jagung, pepaya, ikan bandeng, bensin, asam dan ikan benggol ini semua menjadi penyumbang inflasi," katanya.
Sementara itu, inflasi tahunan atau year on year (yoy) di Sulsel pada Maret 2026 tercatat sebesar 4,5 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,59. Kenaikan inflasi ini mencerminkan meningkatnya harga berbagai kelompok pengeluaran di wilayah tersebut.
Aryanto menyebutkan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sebesar 5,73 persen dengan IHK 109,76. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kota Palopo sebesar 2,81 persen dengan IHK 109,77. Selain itu, inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) hingga Maret 2026 di Sulawesi Selatan mencapai 2,11 persen.
Menurut dia, kondisi itu menunjukkan adanya tekanan harga yang masih berlangsung di berbagai sektor, terutama pada kebutuhan pokok dan layanan, sehingga menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
"Secara umum, capaian inflasi yoy sebesar 4,5 persen ini menggambarkan dinamika harga yang masih bergerak naik di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, dengan variasi tingkat inflasi antar daerah," ucapnya.




