Top
Begin typing your search above and press return to search.

Dari ASRI untuk membangkitkan ketahanan pangan

Dalam pidato "Indonesia Economic Outlook 2026", Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pembenahan menyeluruh, dari kebersihan desa, hingga ibu kota, serta pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang diselesaikan dari tingkat paling bawah.

Dari ASRI untuk membangkitkan ketahanan pangan
X

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memungut sampah dalam Gerakan Banyuwangi ASRI di Pantai GWD Banyuwangi, jatim. Rabu (18/2/2026) ANTARA/HO-Pemkab Banyuwangi (Banyuwangi).

Dalam pidato "Indonesia Economic Outlook 2026", Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pembenahan menyeluruh, dari kebersihan desa, hingga ibu kota, serta pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang diselesaikan dari tingkat paling bawah.

Pada saat yang sama diperkenalkan Gerakan Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI) sebagai arah perubahan budaya dan tata kelola ruang hidup. Sekilas tampak sebagai agenda lingkungan, namun sesungguhnya ia menyentuh akar persoalan pembangunan yang lebih luas.

Di tengah krisis iklim, laju urbanisasi, dan kebutuhan pangan yang terus melonjak, Indonesia berada di persimpangan penting, antara terus mengejar produksi dengan risiko menguras lingkungan, atau membangun sistem pangan yang bertumpu pada kesehatan ekosistem.

Pengalaman menunjukkan, peningkatan produksi, tanpa menjaga daya dukung alam justru memicu degradasi tanah, krisis air, dan ketergantungan impor. Ketahanan pangan tidak bisa berdiri di atas fondasi lingkungan yang rapuh.

Sebab pangan selalu dimulai dari lingkungan. Air yang bersih, tanah yang sehat, tata ruang yang tertib, dan budaya tidak mubazir adalah fondasi produksi dan distribusi pangan. Jika diterjemahkan secara konsisten, ASRI dapat menjadi “infrastruktur sosial” yang menghubungkan perilaku harian warga dengan agenda besar kedaulatan pangan. Di titik itulah lingkungan dan pangan bertemu, bukan sebagai dua isu terpisah, melainkan satu ekosistem kehidupan yang saling menguatkan.

Fondasi ketahanan pangan

Data pangan Indonesia terbaru memberi dua pesan sekaligus, yakni adanya alasan untuk optimistis, tetapi juga alasan kuat untuk tetap waspada. Pada 2025, luas panen padi tercatat sekitar 11,32 juta hektare, dengan produksi 60,21 juta ton gabah kering giling dan produksi beras konsumsi 34,69 juta ton, naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan ini menunjukkan kapasitas produksi nasional makin tangguh. Namun kita juga baru melewati fase ketika impor beras melonjak hingga sekitar 4,52 juta ton pada 2024, jauh lebih tinggi dibanding 2023.

Pada saat yang sama, impor kedelai tetap bertengger di kisaran 2,6 juta ton, sementara produksi jagung 15,14 juta ton masih harus berhadapan dengan kebutuhan pakan yang terus meningkat. Artinya, ketika cuaca terganggu, distribusi tersendat, atau harga global melonjak, kita masih cepat bergeser ke mode darurat. Ketahanan pangan kita membaik, tetapi fondasinya harus terus diperkokoh.

Karena itu, persoalan pangan hari ini bukan semata soal angka produksi, melainkan soal sistem. Ketahanan pangan sangat bergantung pada kualitas tanah, ketersediaan air, efisiensi pascapanen, serta kedekatan antara produksi lokal dan pasar lokal. Tanpa tata kelola yang rapi, hasil panen besar pun bisa bocor melalui susut distribusi, pemborosan konsumsi, dan ketergantungan bahan baku impor.

Di titik inilah Gerakan ASRI menjadi relevan, bukan sebagai slogan kebersihan, melainkan sebagai kerangka membangun disiplin ekologis nasional yang menopang pangan dari hulunya.

Nilai ASRI dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan kolektif yang konkret, dari memilah dan mengolah sampah organik menjadi kompos, menanam di pekarangan, menjaga sumber air, serta mengurangi pemborosan pangan.

Pengalaman Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) menunjukkan bahwa pekarangan produktif mampu menyumbang sayur, buah, dan protein bagi keluarga, menekan pengeluaran, sekaligus meningkatkan gizi. Jika setiap rumah, sekolah, kantor, dan fasilitas publik memiliki ruang tanam sederhana, kita membangun bantalan ketahanan dari bawah. Ketahanan nasional pada akhirnya adalah akumulasi ketahanan keluarga.

Di sisi lain, peningkatan produksi tetap membutuhkan modernisasi dan organisasi petani yang kuat. Program kolektif, seperti Brigade Pangan, menunjukkan pentingnya teknologi, manajemen lahan, dan regenerasi petani.

Hanya saja, modernisasi tidak boleh mengabaikan prinsip ASRI, dimana intensifikasi harus tetap menjaga kesuburan tanah, efisiensi air, dan pengelolaan limbah secara sirkular. Bahkan, di kota, pertanian perkotaan dapat menjadi bagian solusi, menghidupkan ruang hijau produktif dan membangun kesadaran ekologis warga.

Dengan demikian, ASRI bukan hanya gerakan bersih-bersih, melainkan strategi menyatukan lingkungan sehat dan pangan berdaulat dalam satu sistem yang berkelanjutan.

Lingkungan dan pangan

Gerakan ASRI tidak boleh berhenti sebagai slogan yang indah didengar, tapi juga membutuhkan kebijakan yang terukur dan kolaborasi lintas sektor yang konsisten. Pemerintah pusat harus berani memasukkan indikator pangan–lingkungan dalam perencanaan pembangunan, sehingga keberhasilan tidak semata dihitung dari pertumbuhan ekonomi atau lonjakan produksi, tetapi juga dari kualitas tanah, ketersediaan air bersih, pengurangan sampah organik, dan bertambahnya ruang tanam produktif.

Pemerintah daerah dapat memperkuatnya melalui insentif bagi pertanian organik, urban farming, serta pengelolaan sampah berbasis komunitas. Akademisi menghadirkan inovasi terapan, dunia usaha mendorong investasi hijau dan kemitraan, sementara masyarakat menjadi motor perubahan budaya.

Komitmen pembenahan lingkungan dari desa hingga ibu kota harus diterjemahkan dalam langkah konkret yang berkelanjutan. Gagasan kerja bersama seluruh elemen bangsa hanya bermakna jika menyentuh ruang hidup sehari-hari, mulai dapur rumah tangga, kebun sekolah, kantor pemerintahan, pasar tradisional, hingga lahan pertanian.

ASRI pada hakikatnya adalah jembatan antara agenda lingkungan dan agenda pangan, dua hal yang sering dipisahkan. Produksi pangan tidak boleh mengorbankan ekosistem, dan pelestarian lingkungan tidak boleh mengabaikan kebutuhan dasar rakyat. Ketika birokrasi memberi teladan dalam pengurangan plastik, penghematan air, dan pengelolaan sampah yang disiplin, perubahan perilaku kolektif menjadi mungkin.

Di sinilah ASRI dapat menjadi mesin perubahan perilaku, bukan sekadar acara seremonial. Bappenas memperkirakan susut dan sisa pangan mencapai 23–48 juta ton per tahun, dengan kerugian ekonomi ratusan triliun rupiah, angka yang menunjukkan bahwa menyelamatkan pangan yang terbuang sama strategisnya dengan meningkatkan produksi.

Memilah sampah organik menjadi kompos, membangun kebun pangan lokal di sekolah dan kantor, serta menerapkan pertanian modern yang tetap menjaga tanah dan air adalah langkah konkret yang bisa dimulai dari ruang terdekat.

Swasembada pangan lokal bukan berarti menutup diri dari perdagangan global, melainkan membangun daya tahan ketika harga dunia bergejolak dan iklim berubah.

Jika nilai Aman, Sehat, Resik, dan Indah benar-benar diinternalisasi, ketahanan pangan akan tumbuh sebagai budaya bangsa, dan dari situlah kedaulatan pangan yang berkelanjutan dapat diwujudkan.

*) Kuntoro Boga Andri adalah Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire