Dari resep mie ayam hingga Tragedi Sukhoi, Di balik peran tim LS Elshinta
HUT ke-26 Program Elshinta News and Talk: Mengulas peran tim LS Elshinta sebagai penghubung antara pendengar dan redaksi.

Tim Listener Service (LS) Radio Elshinta.
Tim Listener Service (LS) Radio Elshinta.
Di ruang Listener Service (LS) Radio Elshinta, Shandy masih mengingat jelas satu telepon yang membuat jantungnya berdetak cepat. Saat itu, ia baru satu bulan bekerja.
Di seberang sambungan, seorang pendengar menelepon dengan suara panik, setengah berteriak, melaporkan pesawat Sukhoi yang menabrak Gunung Salak. Suasana di ruang LS yang bersebelahan dengan redaksi mendadak riuh.
Shandy gugup. Jari-jarinya gemetar saat mengetik laporan, sebelum seniornya menenangkan agar ia tetap fokus dan tidak membuat kesalahan.
“Saya langsung mencari nomor pihak berwenang untuk konfirmasi, tapi sempat salah sambung,” kenang Shandy. “Senior dan teman-teman produser kemudian membimbing saya,” ujar pemilik nama lengkap Meindra Shandy itu.
Dari situ, informasi terus mengalir. Hingga akhirnya Radio Elshinta menjadi radio pertama yang menyiarkan kabar tersebut.
Pengalaman itu menjadi salah satu gambaran kerja tim Listener Service (LS). Dalam keseharian, LS sebagai layanan pendengar menangani beragam hal.
Mulai dari laporan bencana atau kecelakaan besar yang berpotensi menjadi berita nasional, hingga telepon pendengar yang sekadar menanyakan resep mie ayam, sesuatu yang sebenarnya berada di luar tugas pokok mereka.
Gerbang awal informasi
LS bukanlah penyiar. Perannya adalah menjadi jembatan antara pendengar dan redaksi.
Setiap panggilan dan pesan yang masuk disaring dan diverifikasi lebih dulu. Jika dinilai layak, informasi diteruskan ke produser atau redaksi.
Keputusan akhir memang berada di tangan redaksi. Namun, LS bertanggung jawab memastikan data yang disampaikan valid dan akurat.
“Pendengar sering menanyakan informasi seputar lalu lintas atau hal-hal yang sedang up to date,” jelas Shandy.
“Tugas kami menjawab, menyaring, dan memastikan informasi itu bisa diproses dengan benar,” katanya.
Dalam perkembangannya, peran LS di Radio Elshinta juga ikut mendukung alur multiplatform. Tidak hanya melayani pendengar radio, tim LS turut memantau dan mengumpulkan informasi dari berbagai kanal media sosial.
Informasi yang beredar di ruang digital tersebut menjadi bahan awal yang kemudian disaring dan diverifikasi sebelum diteruskan ke redaksi.
Untuk mendukung operasional tersebut, formasi LS terdiri dari hingga empat orang di setiap shift. Layanan ini berjalan selama 24 jam, seiring dengan siaran Radio Elshinta yang juga mengudara tanpa henti.
Dengan sistem kerja bergiliran, LS memastikan alur informasi dari pendengar dan media sosial tetap terpantau kapan pun dibutuhkan.
Dari telepon biasa ke berita besar
Di balik meja LS, tekanan psikologis kerap muncul. Nada suara pendengar yang panik, marah, atau cemas menjadi tantangan nyata.
Shandy mengaku sempat kewalahan di awal bekerja. Namun perlahan, ia belajar memahami karakter pendengar.
“Sekarang lebih rileks, itu tantangan, bukan lagi beban,” tandasnya.
Empat laporan pendengar soal kecelakaan Sukhoi Superjet (SSJ) 100 di Gunung Salak, Mei 2012, akhirnya membuat redaksi yakin menyiarkan informasi itu.
“Reaksi pertama saya tentu tegang dan gugup. Tapi saya harus tetap profesional,” ujar Shandy.
Peristiwa ini menunjukkan peran LS sebagai filter pertama, yang menentukan informasi mana yang layak ditindaklanjuti.
Namun, tidak semua panggilan berkaitan dengan berita besar. Ada juga pendengar yang menelepon hanya untuk bertanya hal-hal ringan, seperti resep mie ayam.
“Kami harus sabar dan multitalenta, mencari jawaban dari berbagai pertanyaan, itu bagian dari layanan LS, membantu pendengar tanpa mengabaikan tugas utama,” ujarnya.
Koordinasi dan verifikasi
Pekerjaan LS tidak berhenti pada menerima telepon.
Mereka juga menelusuri fakta, berkoordinasi dengan produser, dan memastikan tidak ada pelanggaran etika sebelum informasi diteruskan.
Dalam berita besar, meski LS sudah memberi rekomendasi, keputusan siar tetap berada di redaksi.
“Kadang ada rasa ragu atau ganjalan,” ungkap Shandy.
“Apalagi saat narasumber sulit dihubungi. Tapi kami selalu memastikan informasi dari pendengar sudah disaring dan diverifikasi,” kata dia.
LS sebagai jembatan publik
Menurut Shandy, LS memiliki peran penting sebagai jembatan langsung antara redaksi dan pendengar.
“Tim LS adalah gerbang awal informasi. Kalau tidak ada, berita bisa timpang karena pendengar tidak tahu harus menyampaikan ke siapa,” katanya.
Selain itu, LS juga berperan mengedukasi pendengar. Mereka menjelaskan bahwa setiap laporan tidak otomatis menjadi berita.
Informasi harus melalui proses verifikasi dan koordinasi agar tetap bertanggung jawab.
Pekerjaan yang menantang
Bagi Shandy, pengalaman menangani hal-hal besar maupun sepele membentuk makna pekerjaannya di LS.
Dari telepon soal mie ayam hingga tragedi Sukhoi, semuanya dijalani dengan pendekatan profesional dan humanis.
“Saya ingin pendengar tahu, kami bukan sekadar mengangkat telepon, kami memastikan informasi dari mereka diproses dengan benar,” katanya.
“Pekerjaan ini memang menantang, kadang tegang, tapi ada kebanggaan saat bisa menjadi jembatan antara pendengar dan redaksi," tambahnya.
Peran LS di 26 tahun program Elshinta News and Talk
Bagi Shandy, bertugas di tim LS bukan sekadar pekerjaan teknis.
Ia menjadi bagian dari denyut panjang 26 tahun perjalanan Program Elshinta News and Talk.
Shandy merasakan langsung bagaimana kepercayaan pendengar dibangun dari hal-hal sederhana, menjawab telepon, menenangkan suara panik, hingga menyaring informasi yang kelak menjadi berita besar.
Selama lebih dari dua dekade, Elshinta dikenal sebagai radio berita yang mengedepankan kecepatan dan akurasi.
Di balik itu, menurut Shandy, ada kerja keras tim LS yang memastikan setiap informasi dari publik tidak berhenti sebagai cerita mentah.
“Kepercayaan pendengar itu dijaga dari hal-hal sederhana,” ujarnya.
“Dan itu kami lakukan setiap hari, dari yang ringan sampai yang berdampak besar,” tandasnya.
Rama/Nandang




