Doa untuk Indonesia damai

Petugas dari Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Utilitas Kota Dinas Bina Marga Jakarta, Sabtu, membersihkan puing-puing sisa demo di depan Polda Metro Jaya. (ANTARA/Kuntum Riswan.)
Petugas dari Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Utilitas Kota Dinas Bina Marga Jakarta, Sabtu, membersihkan puing-puing sisa demo di depan Polda Metro Jaya. (ANTARA/Kuntum Riswan.)
Indonesia damai adalah harapan kita bersama. Hanya saja, Indonesia damai kita sedang diwarnai keadaan mengkhawatirkan, terkait ekses dari aksi unjuk rasa di gedung DPR RI di Jakarta yang kemudian merambah ke berbagai daerah di kota lain.
Adanya korban jiwa dari pengunjuk rasa telah membuat situasi bertambah rumit, bahkan massa menjadi marah dengan membakar sejumlah bangunan dan kendaraan.
Aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh itu telah menjadi sandungan bagi wajah Indonesia damai. Baik pengunjuk rasa maupun anggota Polri yang bertugas mengamankan aksi tersebut sama-sama menjadi korban. Ada yang meninggal dan ada pula yang luka-luka, hingga harus dirawat di rumah sakit.
Meskipun demikian, bukan berarti Indonesia damai tidak bisa kembali terwujud. Kita bisa mengambil peran masing-masing untuk menjaga bangsa ini selamat dari perpecahan dan huru hara.
Baik mereka yang terlibat langsung dalam aksi, maupun yang tetap bekerja atau yang beraktivitas di rumah masing-masing dapat membantu menjaga Indonesia damai dengan berdoa agar tidak ada lagi aksi yang berlangsung anarkis, yang menyebabkan pengunjuk rasa maupun anggota Polri yang bertugas mengamankan aksi itu terjebak dalam keadaan jiwa saling marah.
Mungkin pilihan membantu menjaga negeri ini tetap berada pada posisi Indonesia damai dengan doa tidak terlihat sehebat mereka yang ikut aksi turun ke jalan untuk menuntut para pihak yang membuat rakyat marah.
Sebagai bangsa yang dikenal agamis, pilihan berkontribusi dengan doa untuk Indonesia damai, bukan sesuatu yang remeh, apalagi tidak bermakna apa-apa.
Kita punya pengalaman kolektif, ketika Indonesia damai pernah terganggu oleh merebaknya pandemi COVID-19 pada 2020. Kala itu, semua pihak juga telah terjebak dalam pikiran khawatir dan cemas, yang mana kondisi psikologis seperti itu diyakini ikut melemahkan daya tahan tubuh masyarakat. Mereka yang terjebak dalam pikiran khawatir dan cemas berlebihan lebih mudah tertular virus, bahkan hingga menyebabkan kematian.
Upaya mengembalikan situasi Indonesia damai dilakukan dengan segala cara, baik dengan metode medis, seperti vaksinasi dan ikhtiar untuk menjalani pola hidup yang sehat. Satu hal yang mungkin terlupakan perannya adalah untaian doa-doa dari seluruh penjuru negeri agar bangsa ini selamat.
Peran doa untuk menjaga Indonesia damai memang tidak terlihat dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, meskipun sesungguhnya, kekuatan yang menghadirkan melimpahnya energi Ilahi ini bukan sesuatu yang main-main.
Energi Ilahi yang hadir lewat jolokan doa umat, agama apapun yang kita anut, telah menyalurkan kekuatan batiniah bagi masyarakat, sehingga yang sakit karena terinfeksi virus SARS-CoV-2 itu segera sembuh, dan yang sehat juga tetap terpelihara, sehingga tidak tertular virus mematikan itu.
Kala itu, kelompok-kelompok keagamaan selalu meluangkan waktu untuk berdoa bersama di rumah maupun tempat ibadah masing-masing agar Indonesia damai kembali pulih.
Menghadapi situasi sosial akibat dari aksi unjuk rasa ini, saatnya kita kembali menggunakan kekayaan spiritual bangsa ini untuk dilangitkan, kemudian berkahnya menggugur bumi Indonesia damai, yaitu untaian doa.
Lewat doa untuk Indonesia damai, kita menggugah hati para pengunjuk rasa maupun aparat, sehingga menyikapi situasi selalu dengan kepala dingin dan hati lembut. Kedua belah pihak yang harus berhadapan karena perbedaan peran dalam menjaga Indonesia damai ini tidak terpicu untuk membuat satu sama lain saling menyakiti.
Lewat doa, diam-diam kita mengalirkan energi positif agar semua pihak yang terlibat aksi unjuk rasa maupun pengamanan, lebih menjunjung tinggi keselamatan bangsa di atas segala kepentingan yang saat ini merek perjuangkan.
Di luar doa-doa formal itu, kita juga dapat menjaga suasana kebatinan Indonesia damai ini tidak terseret pada kondisi yang menakutkan, antara lain dengan menahan diri untuk tidak terprovokasi oleh informasi-informasi dengan berbagai lini media sosial.
Menahan diri itu, antara lain dengan memilih sikap selektif dalam membagikan berita, baik teks maupun gambar bergerak, terutama yang beredar di media sosial.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa apa yang tersaji di media sosial itu belum tentu semuanya benar atau sesuai fakta. Apa yang tersiar di media sosial tidak melalui proses verifikasi fakta, yang menjadi syarat utama disiarkannya satu berita di media arus utama.
Dalam suasana aksi unjuk rasa besar, seperti yang terjadi di Jakarta, maupun di sejumlah daerah, saat ini, mudah sekali kita temukan kiriman video yang dampaknya bukan untuk meredam suasana. Sebaliknya, video, apalagi yang sudah dirancang untuk memperburuk suasana, tidak jarang sudah diedit atau ditambah dengan narasi negatif, sehingga membuat masyarakat yang melihat rekaman itu menjadi tersulut secara emosi.
Akibat tersulutnya emosi itu, kemudian dampak psikologisnya beranak pinak, mungkin juga beranak cucu, dengan tambahan hujatan kepada pihak-pihak tertentu. Secara energi semesta, keberpihakan yang dilandasi dengan emosi kebencian, apalagi dengan dibumbui umpatan, tidak disadari bahwa hal itu justru turut memperburuk suasana.
Berdoa untuk Indonesia damai dapat kita lakukan di mana dan kapan saja.