DPR: Hasil TKA 2025 jauh dari harapan, jadi peringatan serius dunia pendidikan

Tim IT Elshinta
Tim IT Elshinta
Elshinta.com – DPR menilai hasil Tes Kemampuan Akademik atau TKA 2025 menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan Indonesia.
Penilaian tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menanggapi rendahnya capaian peserta didik dalam TKA 2025. Ia menyoroti rendahnya kemampuan literasi, numerasi, serta penguasaan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
Hal itu disampaikan Lalu Hadrian dalam dialog Outlook Sosial Budaya 2026 di Radio Elshinta, Jumat (09/01/2026).
Menurutnya, TKA yang dirancang untuk memetakan mutu pendidikan justru menunjukkan fondasi pembelajaran belum berjalan optimal di banyak daerah.
“Hasil TKA ini menjadi warning bagi kami di Komisi X. Nilainya jauh dari harapan, terutama Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Ini menandakan fondasi pendidikan kita belum matang,” kata Lalu Hadrian.
Ia menyebut DPR mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan nasional. Evaluasi tersebut mencakup kompetensi guru, sistem pembelajaran, serta kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan peserta didik.
Selain capaian akademik, DPR juga menyoroti meningkatnya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 1.000 kasus kekerasan terjadi di satuan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
“Regulasi sebenarnya sudah ada, tetapi implementasinya masih lemah. Ini menjadi perhatian serius kami dan akan dimasukkan dalam revisi Undang-Undang Sisdiknas,” ujarnya.
Pengamat Pendidikan dan Sosial Universitas Negeri Jakarta, Muhammad Ilman Naafi’a, menilai perbaikan pendidikan harus dilakukan secara bersamaan. Ia menekankan pentingnya pembenahan aspek akademik dan sosial secara seimbang.
“Pertama revitalisasi sekolah dan infrastruktur digital, kedua kesejahteraan dan kesehatan guru, dan ketiga penguatan pendidikan keluarga serta literasi digital,” jelas Ilman.
Ia menambahkan, kesejahteraan guru penting agar pendidik terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Menurutnya, literasi digital juga perlu diperkuat karena anak-anak banyak belajar melalui gawai dan media sosial.
Menutup diskusi, Lalu Hadrian menyatakan optimistis mutu pendidikan nasional dapat ditingkatkan melalui kolaborasi semua pihak.
Ia menekankan peran pemerintah pusat, daerah, dan pemangku kepentingan dalam pemanfaatan anggaran pendidikan.
“Kuncinya kolaborasi dan konsistensi. Jika amanat konstitusi 20 persen APBN dan APBD benar-benar digunakan untuk pendidikan, saya optimistis mutu pendidikan kita akan jauh lebih baik,” pungkasnya.
Dedy Ramadhany/Rama




