Top
Begin typing your search above and press return to search.

Festival rakik-rakik, cahaya yang menyala di tengah luka Maninjau

Di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, malam takbiran turun perlahan seperti tirai yang ditarik dari langit. Riak air memantulkan cahaya-cahaya kecil yang mulai menyala, sementara gema takbir ari masjid berbaur dengan embusan angin yang bergerak pelan.

Festival rakik-rakik, cahaya yang menyala di tengah luka Maninjau
X

Foto udara warga melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Raya Nagari Maninjau, Agam, Sumatera Barat, Sabtu (21/3/2026). Warga terdampak bencana banjir bandang November 2025 di daerah itu melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 H di masjid karena lapangan yang biasa digunakan terkendala masih terjadinya luapan sungai saat intensitas hujan tinggi. ANTARA FOTO/Fitra Yogi/nym.

Di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, malam takbiran turun perlahan seperti tirai yang ditarik dari langit. Riak air memantulkan cahaya-cahaya kecil yang mulai menyala, sementara gema takbir ari masjid berbaur dengan embusan angin yang bergerak pelan.

Dari pinggir jalan yang bersisian dengan sungai gelap, bayang-bayang cahaya tampak berpendar samar. Ia menjadi penanda bahwa di tepian sana, aktivitas warga tengah berlangsung.

Jalan tak rata, bertabur bebatuan, bermuara ke tepian danau di Nagari Maninjau di wilayah Sumatra Barat itu. Di titik itulah, sekitar tiga puluh pemuda bergerak sigap, menangkap instruksi para orang tua. Mereka mengusung miniatur Rumah Gadang berbahan kertas plastik menuju air.

“Awas aia angek (air panas),” seru seorang pemuda yang menopang miniatur rumah adat Minangkabau yang disebut telong-telong.

Seruan itu memecah perhatian warga yang sejak tadi menatap rakit tradisional, mengapung dengan bantuan drum, dilapisi papan kayu sepanjang sekitar 10 meter.

Di salah satu sisinya, mesin terpasang, bersiap menggerakkan rakit menembus permukaan danau. Sebagian badan rakit tertutup ruang persegi berkerangka bambu, dihias dedaunan kering yang berdesir setiap disentuh angin.

Di sepanjang tepian Danau Maninjau, warga berdiri dalam kelompok-kelompok kecil; sebagian lainnya memilih jongkok, seakan tubuh mereka tak lagi kuat menahan lama berdiri, namun tetap enggan beranjak dari momen yang dinanti.

Suara orang dewasa terdengar lirih, nyaris tenggelam dalam lapisan bunyi yang saling bertaut—riak air yang berdesir, embusan angin yang melintas pelan, serta dengung mesin genset.

Di sela-sela itu, suara gim dari telepon genggam anak-anak sesekali menyembul, menjadi kontras kecil yang ganjil, namun akrab, di tengah tradisi yang tetap bertahan dan berakar.

Angin malam kian dingin merayap. Rakit tradisional itu pun berdiri utuh. Cahaya yang mula-mula bersumber dari satu lampu besar, perlahan berganti menjadi gemerlap lampu LED yang menghiasi ornamen, berpadu dengan obor-obor yang melingkari bagian depan, menciptakan pendar hangat di atas air yang gelap.

Miniatur Rumah Gadang berdiri berdampingan dengan Rangkiang—lumbung penyimpan padi yang menjadi simbol kesejahteraan. Di atasnya, ornamen beragam bentuk tersusun menjulang, mencipta siluet yang tegas dalam cahaya malam, sementara pada sisi-sisinya, bendera warna-warni berkibar pelan, disentuh angin yang melintas dari permukaan Danau Maninjau.

Mesin penggerak tak lagi memiliki ruang lapang di depannya. Deretan batuang (meriam bambu) berdiri berjajar, sesekali meledak memekakkan telinga. Di dalamnya, kalium karbida, senyawa kristal berwarna abu-abu kehitaman, bereaksi menghasilkan gas asetilena yang memicu dentuman keras, seolah menandai detak malam yang kian hidup.

Tabuhan gendang tambua tansa bersahut-sahutan dengan ledakan meriam bambu, merangkai irama yang menghidupkan suasana. Warga yang semula duduk lesu, bangkit serentak, mengangkat ponsel, mengabadikan momen yang telah lama mereka nantikan.

Festival rakik-rakik, siap berlayar di atas permukaan Danau Maninjau.

Meracik obat

Sehari sebelum perhelatan, persiapan Festival Rakik-rakik terpantau di Kubu Baru Panyinggahan.

Sekelompok pemuda berkumpul di tepian, menyiapkan rakit-rakit sederhana dari bahan yang telah mereka mulai persiapannya di awal Ramadhan. Tali-temali diikat dengan ketelitian yang lahir dari kebiasaan turun-temurun.

Persiapan berjalan pelan. Semangat kompetisi belum sepenuhnya menyala, seakan masih tertahan oleh bayang-bayang bencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir November 2025.

Festival tahunan ini bukan semata untuk menarik wisatawan. Ia adalah ruang menjaga tradisi lokal yang sarat kreativitas dan kebersamaan, sekaligus menjadi penanda pulangnya para perantau ke kampung halaman.

Pada tahun-tahun sebelumnya, para pemuda seolah berlomba dengan jorong-jorong lain. Festival yang diproyeksikan menjadi agenda resmi pariwisata Kabupaten Agam itu juga menjadi ajang kompetisi yang hidup.

Setiap rakit dinilai berdasarkan tiga kriteria utama; estetika, inovasi, dan kekompakan tim. Tiga rakit terbaik berhak membawa pulang uang tunai dan trofi, menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga.

Hanya saja, suasana 2026 menghadirkan kontras. Idul Fitri kali ini datang di tengah lanskap yang belum sepenuhnya pulih.

Di ruas-ruas jalan yang berdampingan dengan danau, bukti banjir bandang masih tampak jelas. Sungai yang penuh dengan bebatuan, bangunan tanpa dinding, sisa material yang belum tersingkir, serta ruang-ruang yang menyimpan jejak kehilangan menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.

Bagi sebagian warga, ingatan tentang bencana itu belum benar-benar menjauh. Ia masih tinggal, muncul dalam percakapan, atau justru dalam diam yang panjang. Di tengah situasi itu, rakik-rakik kembali dihadirkan, membawa makna yang melampaui sekadar tradisi tahunan.

Jika sebelumnya lima jorong turut ambil bagian, kini hanya dua yang tetap bertahan.

“Kalau biasa, karena Nagari Maninjau ini ada 5 jorong, tiap jorong satu rakik. Jorong, tahun ini tetap turun, semoga ini setelah bencana menjadi ‘obat’, selain menjaga tradisi,” kata Wali Jorong Kubu Baru Panyinggahan, Yudha Anugrah Viligo.

Seiring gema takbiran yang perlahan meredup dari masjid, kemeriahan rakik (rakit bambu) justru disambut antusiasme warga yang tak sabar menanti.

Di antara kerumunan itu, ada yang untuk pertama kalinya menyaksikan festival. Menyimpan sedikit kecewa karena perhelatan tahun ini tidak semeriah cerita yang selama ini mereka dengar dari mulut ke mulut dan lihat dari layar ponsel.

Meskipun demikian, bagi warga setempat, festival rakik-rakik menjadi “obat”. Bagi mereka, duka pascabencana terasa akan semakin membungkus hari kemenangan, jika tradisi ini benar-benar ditiadakan.

“Kalau tidak ada pula ini, malam takbiran rasanya sepi juga. Rasanya seperti tidak hari raya, semakin terasa kami di tempat bencana,” kata Riani, warga Kubu Baru Panyinggahan yang setiap tahun menyaksikan festival.

Peran perantau pun tak terpisahkan. Mereka turut ambil bagian dalam pendanaan pembuatan rakik yang bisa mencapai Rp15 juta untuk satu unit. Bukan angka kecil, namun semangat gotong royong tetap terjaga, bahkan dalam keterbatasan.

Festival ini seakan menyebarkan khasiatnya, hingga ke mereka yang tak lagi menetap di kampung halaman.

Di antara barisan para perantau yang menunggu rakit berlabuh di tepian belakang masjid, ada yang baru kembali menyaksikan tradisi ini, setelah 10 tahun. Ia datang bersama anak dan istri, memperlihatkan pada keluarga kecilnya sebuah warisan yang selama ini hanya hidup dalam cerita.

Dari gemerlap festival rakik-rakik yang cahayanya tak sepenuhnya mampu menembus gelapnya malam, denyut tradisi itu tetap terasa. Ia bertahan, meski dalam lingkup yang lebih sempit dari tahun-tahun sebelumnya.

Dari dua jorong yang bersiap itu, terlihat jelas bagaimana tradisi ini dipertahankan, bukan sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai bagian dari identitas yang enggan dilepas.

Ia menjadi ruang untuk berkumpul kembali, untuk menguatkan satu sama lain, tanpa perlu banyak kata. Cahaya-cahaya kecil yang mengapung di atas Danau Maninjau seolah menjelma sebagai simbol bahwa harapan tetap ada, meski dibangun dari sisa-sisa yang tersisa.

Lebaran yang biasanya identik dengan kemenangan, kini berdampingan dengan duka yang belum sepenuhnya reda.

Justru di persimpangan itulah, rakik-rakik menemukan perannya. Ia tidak menghapus luka, tetapi memberi jeda bagi warga untuk bernapas, untuk mengingat, sekaligus perlahan melangkah ke depan.

Dan ketika cahaya-cahaya itu terus berlayar menjauh ke tengah danau, yang tersisa di tepian bukan hanya keramaian, melainkan keyakinan yang tumbuh bahwa kehidupan, bagaimanapun, akan terus bergerak.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire