Finquest hadir sebagai terobosan strategis untuk percepat pembangunan karantina
Badan Karantina Indonesia (Barantin) menghadirkan inovasi melalui transformasi pembiayaan pembangunan Karantina, Finquest (Financing for Quarantine Enhancement and Strategic Transformation), untuk menghadapi tantangan meningkatnya risiko masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan.

Sumber foto: ME Sudiono/elshinta.com.
Sumber foto: ME Sudiono/elshinta.com.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) menghadirkan inovasi melalui transformasi pembiayaan pembangunan Karantina, Finquest (Financing for Quarantine Enhancement and Strategic Transformation), untuk menghadapi tantangan meningkatnya risiko masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan.
Adanya inovasi itu untuk meminimalisasi kesenjangan pembangunan infrastruktur karantina di seluruh wilayah Indonesia, sehingga pembangunan tidak tergantung pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) saja, tetapi dapat mengintegrasikan dari berbagai sumber pembiayaan.
“Finquest hadir sebagai terobosan strategis dalam mentransformasikan pembiayaan pembangunan karantina dari berbagai sumber dana. Inovasi ini untuk mengintegrasikan pendanaan dari berbagai sumber pembiayaan, seperti APBN, Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) hingga surat berharga syariah negara (SBSN), termasuk investasi atau kerja sama dengan pihak investor” papar Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Barantin, Benny Alamsyah, seperti yang disampaikan Reporter Elshinta, ME Sudiono, Senin (13/4).
"Transformasi melalui Finquest mendorong dan mengarah pada 5 intervensi yang secara langsung memperkuat pembangunan karantina. Dan Kelima intervensi dimaksud adalah fokus pada transformasi pembiayaan, modernisasi infrastruktur karantina, digitalisasi dan integrasi sistem layanan karantina, penguatan sistem biosekuriti nasional, serta reformasi tata kelola dan kelembagaan" jelas Benny
Melalui inovasi Finquest, harapannya dapat memperkuat dan berkelanjutan untuk proses transformasi Barantin, sehingga mampu menghadirkan sistem karantina yang modern, adaptif, dan terintegrasi.
"Sejalan dengan program prioritas Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean, yakni revitalisasi laboratorium, penguatan sumber daya manusia, dan digitalisasi layanan,” lanjut Benny
Menurutnya hal demikian untuk meningkatkan kualitas layanan, memperkuat pelindungan terhadap sumber daya alam hayati, serta mendorong kelancaran arus perdagangan yang aman, sehat, dan berdaya saing di tingkat global. Ia menekankan dengan transformasi pembiayaan mempercepat mobilisasi investasi bagi pembangunan sektor karantina.
Percepat Pembangunan
“Implementasi transformasi pembiayaan menunjukkan capaian awal, pada tahun 2025 lalu modernisasi peralatan laboratorium untuk program revitalisasi telah menjangkau delapan belas unit pelaksana teknis senilai Rp34,45 miliar. Pada tahun 2026 ini telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 307 miliar, termasuk Rp79 miliar dari SBSN untuk pembangunan instalasi, gedung laboratorium, peralatan laboratorium, dan peningkatan sarana layanan,” ungkap Benny
Penguatan inovasi melalui kolaborasi ini telah berjalan antara Barantin dan pihak lain, seperti kerja sama dengan PT Pelindo III (Cilacap), Jatim Graha Utama (Puspa Agro Jawa Timur), dan pengembangan KPBU untuk laboratorium rujukan nasional senilai Rp356,7 miliar yang kini memasuki tahap studi kelayakan.
Selain itu, Benny menyebutkan bahwa Finquest berhasil mengamankan komitmen PHLN sebesar USD 250 juta dari World Bank dan Islamic Development Bank, serta hibah sekitar USD 1,6 juta. Kinerja layanan juga menunjukkan capaian signifikan dengan penerbitan 386.475 sertifikat ekspor dan 144.007 sertifikat impor pada tahun 2025.
“Transformasi ini diperkuat melalui pengembangan digitalisasi layanan (Best Trust) serta peningkatan kapasitas SDM melalui kerja sama internasional. Ke depan, harapannya Finquest menjadi fondasi utama dalam mewujudkan sistem karantina Indonesia yang modern, efisien, dan berstandar internasional,” harap Benny penuh optimis.




