Gelombang aksi bisa ditunggangi koruptor, Restorasi Jiwa Indonesia serukan kesadaran kolektif.

Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Di tengah meningkatnya kejenuhan publik terhadap perilaku elit politik dan maraknya kasus korupsi, Syam Basrijal, Founder Restorasi Jiwa Indonesia, menyerukan agar masyarakat tetap menjaga kewarasan kolektif serta tidak terjebak dalam provokasi yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan.
Syam menilai bahwa fenomena penunggang agenda kerap muncul dalam dinamika sosial di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa aktor-aktor yang tengah tersudut karena skandal korupsi bisa saja menyusup ke dalam gerakan massa untuk memanfaatkan amarah publik demi kepentingan pribadi mereka. Menurutnya, situasi seperti ini berbahaya karena dapat mengalihkan sorotan dari kasus utama, menciptakan kegaduhan, dan bahkan melemahkan proses hukum yang sedang berjalan.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa dalam kerumunan besar, individu sering kali kehilangan rasionalitasnya dan mudah terhanyut oleh emosi massa. Hal itu sejalan dengan kajian psikologi sosial tentang bagaimana kerumunan dapat memicu perilaku destruktif.
“Massa yang awalnya ingin menyuarakan aspirasi damai bisa dengan cepat berubah menjadi destruktif,” kata Syam, Sabtu (30/8/2025).
Ia menegaskan bahwa risiko terbesar dari fenomena ini adalah hilangnya kemurnian gerakan rakyat. Apabila aspirasi masyarakat ditunggangi oleh pihak-pihak yang sedang terpojok, maka perjuangan untuk menegakkan keadilan justru bisa berbalik merugikan rakyat itu sendiri.
“Fenomena penunggang agenda bukan sekadar teori. Dalam setiap momentum rakyat turun ke jalan, ada kemungkinan pihak-pihak yang sedang terpojok oleh kasus korupsi besar ikut mengail di air keruh,” ungkapnya.
Sebagai jalan keluar, Syam menawarkan pendekatan restoratif yang menekankan pentingnya mengubah energi amarah rakyat menjadi arus kesadaran kolektif. Ia menyebut bahwa masyarakat perlu selalu waspada terhadap provokasi agar tidak mudah percaya pada isu-isu yang menyulut emosi.
Selain itu, publik harus melawan penyusup dengan kejernihan berpikir sehingga agenda tersembunyi tidak bisa menunggangi aspirasi rakyat. Ia juga menekankan bahwa jalan kritis namun damai akan jauh lebih kuat karena menjaga kemurnian suara rakyat tanpa dicampuri kepentingan gelap.
Dalam pandangannya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara di jalanan, melainkan oleh siapa yang mampu menjaga kejernihan sikap di tengah arus massa.
“Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang berteriak paling keras di jalanan, tetapi oleh siapa yang mampu menjaga kejernihan di tengah arus massa,” tegas Syam.
Di tengah riuh skandal korupsi dan gaya hidup mewah elit politik, Syam menegaskan bahwa rakyat memang sedang mengalami kelelahan sosial. Namun, ia mengingatkan agar kelelahan itu jangan sampai berubah menjadi kebutaan kolektif yang bisa dimanfaatkan oleh para penyusup, termasuk koruptor.
"Saatnya bangsa ini memilih jalan kesadaran, agar suara rakyat benar-benar menjadi energi pemulihan, bukan sekadar bahan bakar bagi permainan koruptor," pungkasnya.