Granat: Banyak pabrik narkoba belum terungkap, fenomena gunung es
Temuan pabrik-pabrik narkoba di berbagai wilayah menunjukkan praktik produksi yang kian terorganisir dan tersembunyi dari radar aparat.

Ilustrasi AI
Ilustrasi AI
Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Komjen Pol (Purn) Togar M. Sianipar, memperingatkan adanya ancaman laten terkait produksi narkotika di dalam negeri. Ia menilai maraknya pengungkapan laboratorium klandestin belakangan ini hanya menunjukkan sebagian kecil dari jaringan yang sebenarnya.
Hal tersebut disampaikan Togar dalam wawancara pada program Elshinta News and Talk, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, temuan pabrik-pabrik narkoba di berbagai wilayah menunjukkan praktik produksi yang kian terorganisir dan tersembunyi dari radar aparat.
“Ada banyak lagi yang belum ketahuan… ini seperti fenomena gunung es,” kata Togar.
Ia menilai kasus-kasus yang berhasil dibongkar selama ini merupakan representasi dari jaringan besar yang masih beroperasi secara masif. Kondisi ini menjadi sinyal adanya celah dalam sistem pengawasan dan deteksi dini di tingkat wilayah.
Togar menyoroti bahwa pertumbuhan produksi narkotika di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah pengguna. Tingginya permintaan pasar domestik menjadi daya tarik utama bagi para bandar untuk terus memperluas operasinya.
“Karena yang butuh makin bertambah, tentu bandar akan terus memasok karena keuntungannya besar,” ujar mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu.
Togar mengungkap, bisnis ilegal ini terus bertahan karena perputaran uang yang sangat besar, sehingga membentuk siklus antara suplai dan permintaan yang sulit diputus jika hanya mengandalkan aspek penindakan semata.
Lebih lanjut, Togar mengkritisi sistem pengawasan yang dinilai belum optimal dalam membendung keberadaan pabrik-pabrik narkoba baru. Ia menekankan perlunya penguatan langkah pencegahan yang lebih agresif.
“Ini membuktikan kita masih lemah dalam pengawasan dan pencegahan,” tutur Togar M. Sianipar.
Ia mengatakan, selain masalah pengawasan, faktor ekonomi dan penyalahgunaan keahlian profesional turut menjadi pemicu suburnya industri gelap ini. Kesenjangan ekonomi membuat sebagian masyarakat rentan dimanfaatkan oleh jaringan narkotika.
“Banyak faktor penyebab, mulai dari kemiskinan sampai penyalahgunaan keahlian,” ucapnya.
Salah satu pola yang mengkhawatirkan adalah kemampuan jaringan narkotika dalam menyamarkan aktivitas mereka di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Tak jarang, lokasi produksi berada di lokasi yang sangat terbuka namun luput dari kecurigaan warga sekitar.
“Ada yang di kiri sekolah, kanan lapangan, tapi bisa bertahan lama,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Togar menegaskan bahwa upaya memutus rantai narkoba tidak bisa dilakukan hanya oleh aparat penegak hukum. Kesadaran kolektif masyarakat untuk menjadi garda terdepan dalam pengawasan lingkungan sangat diperlukan.
“Yang jauh lebih penting adalah menyadarkan masyarakat bahwa narkotika sangat berbahaya,” pungkasnya.
Ayesha Julia Putri/Rama




