Hutama Karya terbuka untuk penggunaan Aspal Buton

PT. Hutama Karya (HK). (ANTARA/HO-hutamakarya.com/pri.)
PT. Hutama Karya (HK). (ANTARA/HO-hutamakarya.com/pri.)
PT Hutama Karya (Persero) terbuka untuk penggunaan Aspal Buton atau Asbuton pada proyek-proyeknya guna mengurangi ketergantungan pada aspal impor.
"Intinya kalau dari Hutama Karya untuk proyek-proyek sangat terbuka untuk menggunakan Asbuton," ujar Plt. Executive Vice President Sekretaris Perusahaan (EVP) Hutama Karya Hamdani dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sendiri beberapa kali mendorong terkait penggunaan Asbuton.
"Memang selama ini masih sedikit Asbuton penggunaannya, tapi juga sudah sempat di beberapa kali dengan teman-teman PU untuk memberdayakan. Intinya sangat terbuka kalau Asbuton itu secara spesifikasi bisa," kata Hamdani.
Sebagai informasi, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menginisiasi kebijakan peningkatan penggunaan Aspal Buton sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur nasional.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo, kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada sumber daya dari luar, terutama di tengah situasi global yang tidak pasti. Apa yang kita miliki di dalam negeri harus menjadi kekuatan utama,” ujar Dody.
Sebagian besar aspal impor diketahui merupakan turunan dari minyak bumi. Ketika suplai minyak terganggu dan harga global meningkat akibat konflik, biaya aspal ikut terdorong naik dan berdampak langsung pada anggaran pembangunan jalan. Kondisi ini menjadikan ketergantungan tinggi terhadap impor sebagai titik rawan yang perlu segera dikurangi.
Di sisi lain, Indonesia memiliki Aspal Buton sebagai sumber daya alam yang melimpah dengan kualitas yang diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Namun, dalam lima tahun terakhir, pemanfaatan Asbuton olahan masih terbatas, dengan rata-rata hanya sekitar 4 persen dari total penggunaan aspal nasional.
“Saat ini, sekitar 78 persen kebutuhan aspal nasional masih dipenuhi dari impor, dari total kebutuhan 1,056 juta ton pada 2024 yang diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton per tahun. Untuk itu, kami sedang mendorong regulasi kebijakan wajib penggunaan Asbuton olahan dengan target substitusi paling sedikit 30 persen (A30) dalam campuran beraspal. Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan ketergantungan terhadap aspal impor hingga sekitar 50 persen,” kata Dody.
Melalui substitusi Asbuton (A30), kebijakan ini juga menjadi langkah mitigasi terhadap risiko lonjakan harga akibat gejolak energi global. Pemanfaatan Asbuton diposisikan sebagai strategi kunci untuk mengurangi tekanan impor sekaligus memperkuat kemandirian nasional.
“Selain memperkuat ketahanan pasokan, kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp4,08 triliun per tahun, meningkatkan penerimaan pajak sebesar Rp1,6 triliun per tahun, serta mendorong penguatan industri dalam negeri melalui pemenuhan SNI dan TKDN minimal 40 persen,” ujar Dody.




