ICSF: Iran bangun kekuatan siber mandiri di tengah konflik global
Kemampuan defensif dan ofensif Iran dinilai meningkat di tengah ketegangan geopolitik 2026.

Ilustrasi. Sumber: Antara
Ilustrasi. Sumber: Antara
Di tengah eskalasi konflik geopolitik dan perang digital global pada 2026, Iran dinilai terus memperkuat kemampuan sibernya.
Ketua dan salah satu pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K, mengatakan Iran membangun sistem pertahanan digital nasional sekaligus meningkatkan kapasitas serangan siber.
Menurut Ardi, Iran selama bertahun-tahun menghadapi serangan siber, embargo teknologi, dan tekanan politik internasional. Kondisi itu mendorong negara tersebut mengembangkan teknologi siber secara mandiri.
Ia menilai Iran telah bertransformasi menjadi kekuatan siber yang tangguh. Iran disebut memiliki kemampuan bertahan dan menyerang dalam perang digital modern, didukung investasi teknologi lokal dan penguatan sumber daya manusia.
Salah satu langkah strategis yang dibangun Iran adalah National Information Network. Sistem ini memungkinkan Iran mengisolasi lalu lintas digital dari jaringan global saat terjadi krisis.
“Iran belajar dari pengalaman. Mereka mengembangkan teknologi sendiri, memperkuat pertahanan, sekaligus membangun kemampuan menyerang,” ujar Ardi, dalam wawancara edisi pagi Radio Elshinta, Selasa (03/03/2026).
Ardi menambahkan, Iran dikenal konsisten berinvestasi pada teknologi siber lokal dan tidak sepenuhnya bergantung pada sistem asing.
Selain itu, Iran disebut telah menguasai teknologi jamming satelit, termasuk kemampuan mengganggu komunikasi satelit komersial. Meski demikian, kemampuan jamming memiliki keterbatasan geografis dan membutuhkan sumber daya besar.
Di sisi ofensif, Iran dinilai memiliki kapabilitas kuat. Negara itu disebut tidak hanya mengandalkan serangan langsung, tetapi juga memanfaatkan kelompok proxy untuk melakukan operasi siber terhadap pihak yang dianggap musuh, termasuk Amerika Serikat dan Israel.
“Iran punya kekuatan yang tidak sepenuhnya terlihat. Yang tampak mungkin hanya sebagian kecil. Sisanya adalah kemampuan tersembunyi,” kata Ardi.
Kemampuan tersebut didukung industri pertahanan dalam negeri, termasuk produksi rudal dan pengembangan drone. Dalam konteks siber, Iran dinilai mampu menargetkan sistem komunikasi, radar, hingga infrastruktur kritis negara lain.
Ardi mengingatkan, ancaman siber tidak selalu berdampak langsung secara fisik. Namun, serangan dapat memicu gangguan pada sektor energi, keuangan, media, hingga stabilitas sosial melalui disinformasi.
“Tanpa menyerang pun, dampaknya sudah terasa. Harga energi, pasar keuangan, dan stabilitas global langsung terguncang,” lanjutnya.
Dalam konteks Indonesia, Ardi menilai konflik siber global harus menjadi pelajaran. Ancaman siber modern, kata dia, menuntut kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.
“Kita tidak bisa hanya melihat ancaman yang tampak. Justru yang tidak terlihat itulah yang paling berbahaya,” ucap Ardi.
Ia menegaskan, ketahanan siber nasional membutuhkan strategi jangka panjang dan investasi berkelanjutan untuk menghadapi perang digital yang berlangsung secara senyap namun berdampak luas.
Ayesha Julia Putri/Rama




