IHSG berpotensi melemah pasar cermati perkembangan konflik Iran-AS,

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak melemah pada perdagangan Rabu, dengan sentimen utama berasal dari tingkat global.
Nico mengatakan sentimen utama akan berasal dari pelaku pasar yang masih mencermati dan mengkhawatirkan adanya eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.860- 8.150," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Kabar terbaru konflik di Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memberikan jaminan asuransi, bahkan pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker minyak dan kapal lainnya yang akan melalui Selat Hormuz.
Langkah itu disebut bertujuan untuk mencegah potensi krisis energi dan memastikan distribusi energi tidak terhambat, sehingga memberikan ketenangan bagi pelaku pasar bahwa inflasi global akibat kenaikan harga energi dapat lebih terkendali.
"Perang masih masih berlanjut, dan menurut kami pelaku pasar dan investor masih memiliki perspektif negatif terhadap hal tersebut, sehingga masih mendorong pasar saham dan obligasi global mengalami penurunan," ujar Nico.
Terkait tarif, Trump mengatakan bahwa tarif baru sedang dirancang oleh pemerintah AS untuk menggantikan tarif bea masuk yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA) AS, yang mana akan sedikit lebih tinggi daripada yang disepakati oleh mitra dagang dalam kesepakatan bilateral selama setahun terakhir.
Dari dalam negeri, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara resmi telah menerbitkan informasi mengenai kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1 persen.
Informasi kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1 persen akan disediakan oleh KSEI dan dipublikasikan setiap bulan melalui situs BEI, yaitu melalui www.idx.co.id/id/berita/pengumuman/ atau www.idx.co.id > Berita > Pengumuman.
Dengan tersedianya informasi itu, BEI berharap investor dapat memperoleh referensi yang lebih akurat dalam proses pengambilan keputusan investasi, sekaligus memperkuat kepercayaan, integritas dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Sementara itu, Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menerbitkan peraturan menteri baru terkait Harga Mineral Acuan (HMA) nikel pada Maret 2026, yang akan mengubah patokan harga bijih nikel.
Revisi itu merupakan respons atas usulan APNI agar formula Harga Patokan Mineral (HPM) disesuaikan dan turut memperhitungkan kandungan besi serta kobalt, bukan sekadar menaikkan tarif royalti. APNI menilai formula lama menyebabkan kerugian hingga 6,3 miliar dolar AS dalam dua tahun.
Bagi negara, skema berbasis formula dinilai lebih optimal dalam memaksimalkan royalti, terutama jika mineral ikutan seperti kobalt dikenakan pungutan tersendiri. Namun demikian, kenaikan harga bijih dapat meningkatkan biaya bahan baku smelter domestik dan menekan margin industri pengolahan di tengah kondisi kelebihan pasokan global.
"Secara pasar, kebijakan ini cenderung menjadi sentimen positif bagi emiten tambang nikel hulu, meski dampaknya bisa lebih terbatas atau netral bagi pelaku," ujar Nico.
Pada perdagangan Selasa (3/3), bursa saham Eropa kompak melemah, di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 3,64 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 2,75 persen, indeks DAX Jerman turun 3,44 persen, serta indeks CAC Prancis melemah 3,46 persen.
Bursa saham AS di Wall Street juga kompak melemah pada Selasa (03/03), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,83 persen ditutup di level 48.501,27, indeks S&P 500 melemah 0,95 persen ke level 6.816,63, indeks Nasdaq Composite melemah 1,09 persen dan ditutup di level 24.720,08.




