INDEF: Konflik Timur Tengah dorong kenaikan harga energi di Indonesia
Kepala INDEF M. Rizal Taufikurahman menyoroti potensi kenaikan harga energi domestik akibat konflik Timur Tengah dan risiko di Selat Hormuz, serta pentingnya koordinasi kebijakan pemerintah untuk meredam tekanan inflasi.

Sumber foto: Antara
Sumber foto: Antara
Kepala Center Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dan potensi penutupan Selat Hormuz bisa mendorong lonjakan harga energi. Kondisi ini, menurutnya, akan menekan neraca transaksi berjalan dan meningkatkan risiko inflasi, sehingga penyesuaian harga energi domestik sulit dihindari.
“Yang pasti dampaknya adalah kemungkinan terjadi kenaikan harga energi. Indonesia sebagai negara net importer minyak, kenaikan ini pasti akan menggerus neraca transaksi berjalan dan memperbesar risiko inflasi, khususnya di cost-push inflation. Sehingga, tentu akan terjadi penyesuaian harga energi domestik,” ujar Rizal saat diwawancarai di Radio Elshinta, Senin (2/3/2026).
Rizal menambahkan, peningkatan risiko keamanan di Selat Hormuz maupun rute alternatif akan mendorong biaya logistik dan asuransi, yang pada gilirannya menekan impor bahan baku, memperpanjang waktu pengiriman, dan memicu inflasi barang, terutama komoditas yang dapat diperdagangkan.
“Yang kedua adalah biaya logistik dan asuransi. Ketika risiko keamanan pelayanan naik, katakanlah di Selat Hormuz maupun rute alternatif, maka freight atau war risk premium serta asuransi ikut melonjak. Ini akan menekan biaya impor bahan baku, memperpanjang lead time, dan memperburuk inflasi barang, terutama barang tradable,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa situasi global yang tidak menentu menuntut kewaspadaan dan respons kebijakan yang terukur dari pemerintah. Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter perlu diperkuat agar tekanan eksternal tidak semakin membebani inflasi dan daya beli masyarakat.
Stefi Anastasia/Rama




