ISI Yogyakarta dukung kemandirian usaha kelompok penjahit disabilitas

Penyerahan alat produksi bagi Avta Kebaya di Yogyakarta guna mendukung kemandirian usaha kelompok penjahit perempuan disabilitas tersebut. ANTARA/HO-ISI Yogyakarta
Penyerahan alat produksi bagi Avta Kebaya di Yogyakarta guna mendukung kemandirian usaha kelompok penjahit perempuan disabilitas tersebut. ANTARA/HO-ISI Yogyakarta
Tim Pengabdian Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melakukan penyerahan alat produksi bagi kelompok usaha Avta Kebaya di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta guna mendukung kemandirian usaha kelompok penjahit perempuan disabilitas tersebut.
Kepala Pusat Inovasi dan Penerbitan LPPM ISI Yogyakarta Riza Septriani Dewi dalam keterangan di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan penyerahan alat produksi berupa mesin jahit kaos dan perlengkapan pendukung produksi itu merupakan tahap penting setelah sebelumnya diberi program pendampingan.
"Peralatan produksi yang memungkinkan Avta Kebaya memperluas variasi produk serta meningkatkan kapasitas produksi. Dukungan ini bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025, yang tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi memastikan keberlanjutan melalui penguatan sarana kerja," katanya.
Pihaknya berharap dengan identitas yang mulai dirumuskan, keterampilan promosi digital yang dibangun, dan fasilitas produksi yang tersedia, Avta Kebaya berada pada posisi strategis untuk tumbuh menjadi brand fesyen berbasis komunitas perempuan disabilitas yang mandiri dan kompetitif.
"Program ini menegaskan bahwa kontribusi perguruan tinggi seni tidak hanya terletak pada ruang akademik, tetapi juga pada keberpihakan nyata kepada kelompok yang membutuhkan akses ke pengetahuan, kreativitas, dan teknologi sebagai modal untuk berkembang," katanya.
Sementara itu, Ketua tim pelaksana Amar Leina Chindany mengatakan bantuan alat produksi pada 19 November itu bukan sekadar bentuk dukungan teknis, tetapi juga penegasan bahwa Avta Kebaya memiliki kapasitas untuk mengelola usahanya secara mandiri.
"Sejak awal kami tidak ingin program hanya berakhir pada pelatihan. Penyerahan alat itu merupakan langkah penting agar pengetahuan yang telah diterima dapat dipraktikkan dan dikembangkan," katanya.
Anggota tim Pengabdian ISI Yogyakarta Amanda Amalia Faustine Gittawati mengatakan bahwa pendampingan bagi kelompok penjahit perempuan disabilitaa itu akan tetap dilakukan meskipun alat produksi telah diserahkan.
"Yang kami dorong bukan hanya penggunaan alat, tetapi keberanian untuk bereksperimen dan mengembangkan desain baru. Alat ini hanya sarana, sedangkan tujuan akhirnya adalah kemandirian," katanya.
Sementara itu, Ketua Avta Kebaya Sumrah merasa antusias terhadap fasilitas baru yang kini mereka miliki. Sehingga, dengan alat tersebut kelompok bisa mencoba teknik yang sebelumnya tidak bisa dilakukan untuk bisa naik kelas, mengingat selama ini hanya mengandalkan satu mesin lama.
Sedangkan mahasiswa pendamping, Ayunda merasa terkesan ketika melihat respons peserta terhadap penyerahan alat produksi tersebut.
"Yang paling terasa bukan suasana seremonialnya, tetapi reaksi mereka ketika menyadari bahwa alat ini benar-benar akan mereka kelola sendiri. Ada rasa percaya yang tumbuh dengan sangat nyata," katanya.




