Top
Begin typing your search above and press return to search.

Kehakikian kemenangan adalah toleransi

Sejak Jumat (20/3), hingga Sabtu (21/3), bahkan hingga sepekan ke depan, seluruh umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah atau dalam penanggalan Masehi ditunjukkan dengan angka 2026.

Kehakikian kemenangan adalah toleransi
X

Jajaran pengurus Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di Jalan MGR Sugiyopranoto, Kota Malang, Jawa Timur, menyambut dan menyalami umat Islam, setelah pelaksanaan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi, Sabtu (21/3/2026). (ANTARA/Ananto Pradana).

Sejak Jumat (20/3), hingga Sabtu (21/3), bahkan hingga sepekan ke depan, seluruh umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah atau dalam penanggalan Masehi ditunjukkan dengan angka 2026.

Tahun ini juga bisa dikatakan sebagai "tahunnya umat beragama di Indonesia". Satu bulan selepas warga Tionghoa mengawali Tahun Baru Imlek, selang sebulan, setelahnya, giliran umat Hindu melaksanakan Nyepi dan dilanjutkan umat Islam merayakan Idul Fitri.

Kita boleh berbeda keyakinan, tapi secara hakikat kita adalah manusia yang terhimpun dalam satu bangsa. Toleransi adalah sikap untuk saling menghargai, meskipun dalam berhadapan dengan perbedaan.

Hari raya di Indonesia bukan sebatas perayaan, tapi punya makna yang lebih luas lagi karena di tengahnya menyuguhkan pilihan untuk saling menerima. Saling menerima yang terangkum dalam sikap toleran itu merupakan kekuatan utama dalam menjaga persatuan Indonesia yang berbeda suku, bahasa, budaya, dan agama.

Ada salah satu tayangan video di media sosial yang menunjukkan kemeriahan pawai ogoh-ogoh di Bali, menjelang Nyepi, seketika hening, saat terdengar lantunan adzan dari salah satu masjid. Setelah adzan selesai, pawai ogoh-ogoh itu kembali digerakkan.

Fenomena tersebut baru satu contoh, tapi sudah menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia selalu memegang nilai saling menghargai sebagai sesama manusia dan kebebasan beragama dijunjung tinggi.

Di tempat lain, di Kota Malang, misalnya. semangat toleransi di hari kemenangan begitu kental terasa. Kala umat Islam melaksanakan ibadah shalat id, muncul kehadiran umat Katolik pengurus Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di Jalan MGR Sugiyopranoto.

Umat Katolik dengan senang hati membuka pintu area pelataran gerejanya untuk digunakan sebagai lokasi pelaksanaan shalat id yang dipusatkan di Masjid Agung Jamik Malang.

Karena jumlah peserta ibadah shalat id mencapai ribuan, sementara kapasitas masjid tak menampungnya, maka area pelataran gereja juga digunakan untuk tempat shalat.

Satu per satu, bahkan rombongan keluarga datang untuk melaksanakan shalat di depan gereja itu. Di tempat itulah senyum sesama manusia terpancar. Mungkin mereka tidak saling kenal, namun kekuatan ikatan persaudaraan sesama anak bangsa menjadi perekat.

Tidak hanya meminjamkan akses, pengurus gereja turut mengawal dan memastikan kelancaran serta kesakralan ibadah saudara sesama manusianya.

Selepas selesai shalat, pengurus gereja berbaris di depan pelataran, menunggu jamaah keluar. Mereka saling menyalami, mengucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Fakta itu menunjukkan kesadaran mengenai nilai toleransi yang patut diapresiasi. Pemandangan itu, bukan sebatas hari perayaan kemenangan, tapi menjadi simbol rasa saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Romo Paroki Hati Kudus Yesus Kota Malang Henrikus Suwaji mengatakan bahwa tradisi menyediakan tempat shalat id di pelataran gereja telah berlangsung cukup lama. Arsip paling jelas berupa dokumentasi foto pada tahun 1993.

"Saya menemukan foto tahun 1993 itu sudah ada seperti ini, kami menyambut semuanya," kata dia.

Apa yang sudah berjalan pun dipertahankan sampai sekarang. Langkah ini untuk menjaga toleransi dan ikatan persahabatan.

Indeks kerukunan

Indeks Kerukunan Umat Beragam atau IKUB pada 2025 mencapai 77,89. Angka ini menjadi tertinggi sejak hasil survei 2015 yang didasari oleh survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama 2025 oleh Kementerian Agama beserta Pusat Pendidikan dan Pelayanan Universitas Indonesia.

Angka 77,89 pada IKUB bukan sebatas statistik, tetapi menjadi satu gambaran moral umat beragama di Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan agama harus menjadi penuntun dan kompas umat beragam di Indonesia di tengah derasnya disrupsi sosial, teknologi, dan budaya.

Toleransi menjadi salah satu indikator utama dalam mekanisme pengumpulan data survei itu, selain kesetaraan dan kebersamaan.

Dimensi toleransi menyentuh angka 88,82 poin, dimensi kesetaraan 79,35 poin, dan dimensi kebersamaan 65,49 poin.

Kementerian Agama menyimpulkan bahwa IKUB sejak 2015 sampai 2025 menjadi tertinggi dalam kurun waktu 11 tahun, yaitu 75,36 pada 2015, 75,47 (2016), 72,27 (2017), 70,90 (2018), 73,83 (2019), 67,46 (2020), 72,39 (2021), 73,09 (2022), 76,02 (2023), 76,47 (2024), dan 77,89 (2025).

Setiap perkembangan angka yang semakin positif ini tak hanya perlu dipertahankan maupun ditingkatkan, tapi harus diimplementasikan sebagai dasar kehidupan umat beragama di Indonesia.

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyatakan bahwa Pancasila dengan sila pertama bunyi "Ketuhanan yang Maha Esa" dengan lambang bintang kuning berlatar belakang hitam dan letaknya di dalam perisai memiliki arti Indonesia merupakan bangsa beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, sesuai keyakinan masing-masing.

Sila pertama itu sudah cukup kuat menggambarkan bahwa di dalam bangsa ini memiliki kekuatan toleransi.

Kita sebagai manusia harus memastikan keutuhan bangsa, tanpa perlu mempertanyakan, membenci, apalagi memusuhi umat beragama lain.

Cita-cita bersama

Penghargaan terhadap perbedaan merupakan komponen penting dalam memastikan berjalannya pembangunan untuk memajukan peradaban bangsa.

Kemerdekaan yang diraih oleh Indonesia bukan karena perjuangan segelintir golongan, tapi upaya bersama mewujudkan cita-cita bebas dari belenggu kolonial dan menentukan arah hidup bangsa secara mandiri.

Para pendiri bangsa, saat itu tidak pernah mempersoalkan asal dari mana dan agamamu apa. Semuanya maju di barisan terdepan untuk meraih kemerdekaan.

Saat ini tugas kita sebagai manusia modern adalah menjaga warisan yang sudah ada. Toleransi telah lahir, harus dirawat dan diupayakan hidup sebagaimana semestinya oleh seluruh masyarakat.

Inilah yang mampu membuat kita tetap memiliki status sebagai Warga Negara Indonesia yang utuh dan selalu hidup bersama secara damai dan bahagia.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire