Kemenag Aceh prediksi awal Ramadhan 19 Februari

Petugas Kantor Kemenag Lhokseumawe mengamati posisi hilal menggunakan teropong saat matahari terbenam di Pondok Pemantauan Nasional Rukyatul Hilal, Bukit Blang Tiron Lhokseumawe, Aceh, Selasa (27/5/2025). (ANTARA FOTO/Rahmad)
Petugas Kantor Kemenag Lhokseumawe mengamati posisi hilal menggunakan teropong saat matahari terbenam di Pondok Pemantauan Nasional Rukyatul Hilal, Bukit Blang Tiron Lhokseumawe, Aceh, Selasa (27/5/2025). (ANTARA FOTO/Rahmad)
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Aceh memperkirakan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh hari Kamis 19 Februari 2026, karena berdasarkan data falakiyah menunjukkan bahwa posisi hilal masih berada di bawah ufuk pada 17 Februari 2026.
"Berdasarkan data Tim Falakiyah, 1 Ramadhan tahun ini diperkirakan jatuh pada Kamis 19 Februari 2026," kata Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari di Banda Aceh, Rabu (11/2).
Ia menyampaikan rukyatulhilal tetap menjadi acuan dalam menentukan awal bulan hijriah, termasuk bulan suci Ramadhan. Kegiatan tersebut secara rutin dilaksanakan setiap tanggal 29 bulan berjalan.
Namun berdasarkan perhitungan posisi hilal pada 29 Sya’ban 1447 Hijriah masih berada di bawah ufuk (horizon), sehingga dipastikan tidak mungkin dapat diamati.
Meski demikian keputusan resmi nantinya tetap menunggu pengumuman dari Menteri Agama yang dijadwalkan disiarkan secara langsung pada 17 Februari 2026 pukul 19.00 WIB.
Dalam kesempatan tersebut ini Azhari juga mengajak umat Islam untuk menyiapkan fisik serta meningkatkan kualitas ibadah pada akhir bulan Syaban sebagai persiapan menuju Ramadhan.
"Pentingnya memahami amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, agar pelaksanaan ibadah berjalan optimal dan mencapai derajat takwa pada akhir puasa," kata Azhari.
Sementara itu Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh Alfirdaus Putra menjelaskan ijtima awal bulan Ramadhan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa 17 Februari 2026, atau bertepatan 29 Syaban 1447 Hijriah, pukul 19.01.07 WIB. Ijtima terjadi setelah matahari terbenam sehingga hilal dipastikan masih berada di bawah ufuk.
Secara rinci, matahari terbenam pada 29 Syaban pukul 18.52 WIB dengan azimut 258 derajat. Sementara itu bulan telah lebih dahulu terbenam sebelum waktu magrib, yakni pukul 18.48 WIB dengan azimut 257 derajat dari utara searah jarum jam.
Kemudian, ketika matahari terbenam pada posisi 258 derajat, posisi hilal di markaz rukyat Aceh, di Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar, berada pada minus 0,97 derajat, di bawah ufuk dengan elongasi 0,93 derajat.
"Untuk wilayah Indonesia lainnya, hilal juga masih berada di bawah ufuk, yakni antara minus satu derajat di wilayah sumatera hingga minus 2,4 derajat di wilayah Papua,” katanya.
Dengan posisi minus seperti ini, lanjut dia, dapat dipastikan hilal tidak mungkin terlihat di Aceh maupun di seluruh Indonesia.
"Oleh karena itu, bulan Syaban 1447 Hijriah harus diistikmalkan menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026," kata Alfirdaus.




