Top
Begin typing your search above and press return to search.

Kiprah 3 mubaligah Safari Dakwah 2026 Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin

Kiprah 3 mubaligah Safari Dakwah 2026 Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin
X

Ramadan tahun ini menghadirkan warna baru dalam aktivitas dakwah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk pertama kalinya, program Safari Dakwah Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin mengirimkan delegasi mubaligah ke wilayah Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kehadiran tiga santri perempuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan dakwah pesantren sekaligus membangun hubungan sosial dan keagamaan dengan masyarakat di daerah baru.

Safari Dakwah sendiri merupakan program pengabdian tahunan yang telah dijalankan oleh Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin selama lebih dari satu dekade. Melalui program ini, para santri diutus ke berbagai daerah di Indonesia, terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan, pembinaan keagamaan, serta aktivitas sosial kemasyarakatan.

Sejak pertama kali diselenggarakan, Safari Dakwah telah menjangkau berbagai wilayah seperti Sulawesi, Kalimantan, Ambon, Madura hingga Bandung, dikutip dari keterangan tertulis.

Memasuki pengutusan angkatan ke-12 pada tahun 2026, program ini menempatkan delegasinya di delapan titik berbeda di Nusantara, yakni Palu, Sidrap, Majene, Tosora, Goa, Jeneponto, Jakarta, dan Yogyakarta.

Dari seluruh titik tersebut, Yogyakarta menjadi wilayah baru yang untuk pertama kalinya menerima kehadiran delegasi Safari Dakwah. Tiga muballighah yang diutus sebagai perintis di wilayah ini adalah Ana Azkiyatul Fuadah, Latifah Az Zahra, dan Ummu Farwa.

“Kami menjalani masa pengabdian selama kurang lebih dua bulan, sampai dengan 19 April 2026, bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan. Penugasan ini tidak hanya menjadi pengalaman dakwah bagi para santri, tetapi juga menjadi proses pembukaan jaringan baru antara pesantren dan masyarakat Yogyakarta," ungkap Latifah Az Zahra dalam keterangannya, di Sleman, DIY, Rabu (18/3/2026).

Sebagai wilayah yang belum pernah menjadi lokasi Safari Dakwah sebelumnya, langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pemetaan sosial dan pendidikan di sekitar tempat pengabdian. Melalui pengamatan lapangan dan komunikasi dengan berbagai pihak, para mubaligah mulai menjalin hubungan dengan sejumlah lembaga pendidikan di wilayah Sleman.

Beberapa sekolah yang menjadi sasaran kerja sama antara lain MI Wahid Hasyim, SD SahabatQ, SD Negeri Condong Catur, MAN 1 Yogyakarta, MTsN 10 Sleman, hingga MIN 1 Sleman. Surat permohonan mengajar dikirimkan sebagai bentuk pengenalan sekaligus pembuka ruang kolaborasi di bidang pendidikan keagamaan.

Respon dari berbagai lembaga pendidikan terbilang cukup positif. Dalam beberapa kesempatan, para mubaligah dipercaya terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan. Di SLB Karnnamanohara misalnya, mereka mendampingi kegiatan Pesantren Ramadan bagi siswa berkebutuhan khusus dengan membantu pengajaran membaca Al-Quran.

Selain itu, para delegasi juga diminta menjadi guru pengganti mata pelajaran Fikih di MIN 1 Sleman serta menjadi dewan juri dalam berbagai lomba keagamaan di SDN Condong Catur, seperti Musabaqah Hifdzil Qur’an, pidato cilik, kaligrafi, hingga Lomba Cerdas Cermat. Di Pesantren Al-Ihsan, mereka juga memberikan materi Fikih dan Akhlak kepada sekitar 130 peserta Pesantren Ramadhan.

Namun kegiatan Safari Dakwah tidak hanya berlangsung di ruang-ruang kelas. Pendekatan sosial menjadi bagian penting dari proses dakwah yang dilakukan. Interaksi dengan masyarakat dibangun melalui berbagai aktivitas keseharian, seperti berbelanja di warung warga, berkomunikasi dengan masyarakat menggunakan bahasa daerah, hingga mengikuti salat Tarawih berjamaah di masjid-masjid sekitar.

Pendekatan kultural semacam ini dinilai efektif untuk membangun kedekatan dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap para pendatang baru yang membawa misi dakwah.

Tidak hanya berfokus pada pendidikan dasar keagamaan, kegiatan Safari Dakwah juga menghadirkan ruang diskusi dan penguatan intelektual bagi masyarakat. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain kajian tafsir Al-Quran, diskusi keagamaan bersama warga, serta kegiatan Ihya Lailatul Qadr yang melibatkan para pemuda setempat. Program ini juga memperlihatkan bentuk kolaborasi lintas lembaga.

Dalam beberapa kegiatan lomba keagamaan, misalnya, panitia Safari Dakwah bekerja sama dengan mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, kegiatan dakwah juga diperkaya melalui webinar bersama alumni Universitas Gadjah Mada serta kajian kitab kuning yang diselenggarakan secara rutin di Masjid Al-Huda.

Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Safari Dakwah tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan ceramah keagamaan semata, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara pesantren, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Kehadiran tiga mubaligah perintis di Yogyakarta menjadi gambaran bagaimana dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan sosial, pendidikan, dan kultural secara bersamaan. Di tengah masyarakat yang beragam, kegiatan ini membuka ruang perjumpaan baru antara tradisi pesantren dengan dinamika masyarakat perkotaan.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Safari Dakwah diharapkan tidak hanya menjadi program tahunan yang bersifat sementara, tetapi juga mampu menjadi pintu awal bagi terjalinnya kerja sama yang lebih luas antara pesantren dan masyarakat Yogyakarta di masa mendatang.

M.Riskianto/Ter

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire