Top
Begin typing your search above and press return to search.

Kunjungan Mendikdasmen Abdul Mu'ti jadi obat psikologis di Aceh Tamiang, ini kata Fikri Faqih

Kunjungan Mendikdasmen Abdul Muti jadi obat psikologis di Aceh Tamiang, ini kata Fikri Faqih
X

Anggota Komisi X DPR RI, Fikri Faqih

Kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muti di lokasi bencana Aceh Tamiang dapat memicu pemulihan mental siswa setempat. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai kehadiran langsung Abdul Mu'ti di Aceh Tamiang merupakan "obat" psikologis ampuh bagi pemulihan mental siswa dan guru.

"Langkah ini menjadi obat karena kehadiran sosok Menteri secara langsung di hari pertama sekolah menjadi buah bibir dan memberikan semangat tersendiri bagi warga sekolah yang terdampak" kata Fikri saat wawancara Bersama Radio Elshinta, Selasa (6/1/2026) siang.

Fikri menyampaikan belajar dari pengalaman gempa di Lombok dan Yogyakarta sebelumnya, kehadiran fisik pejabat tinggi negara di hari pertama sekolah pascabencana memberikan dampak moral yang jauh lebih signifikan dibanding sekadar bantuan logistik.

“Meskipun realisasi janji revitalisasi fisik masih membutuhkan proses, langkah awal Mendikdasmen turun ke lapangan patut disambut positif karena mampu membangkitkan kembali semangat warga sekolah yang tengah terpuruk akibat musibah" tutur Fikri saat wawancara bersama News Anchor Elshinta Semarang, Akbar Bagus.

Berdasarkan data sementara yang dikantongi Komisi X, dari total 549 sekolah di wilayah terdampak, sebanyak 394 sekolah mengalami kerusakan dengan rincian 47 unit rusak ringan, 269 rusak sedang, dan 78 unit rusak berat, dan kondisi terparah berada di Aceh Tamiang. Fikri menekankan bahwa penanganan di Aceh Tamiang harus menjadi tolak ukur atau benchmark bagi metode pemulihan di wilayah bencana lainnya.

Fikri mengingatkan Pemerintah soal tantangan kompleks revitalisasi infrastruktur, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta bahaya laten korupsi dalam pengelolaan dana bencana. Apresiasi dan catatan kritis tersebut disampaikan Fikri merespons langkah cepat kementerian dalam menangani dampak bencana banjir yang melumpuhkan ratusan fasilitas pendidikan di wilayah Sumatera.

"Komisi X DPR RI akan terus memantau realisasi janji pemerintah terkait alokasi anggaran revitalisasi pendidikan tahun 2026, khususnya di wilayah yang mengalami dampak cukup parah" jelas Wakil Rakyat dari Dapil Tegal dan Brebes ini.

Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi X DPR RI ini menyoroti tantangan berat dalam memulihkan SMK yang kerusakannya jauh lebih kompleks dibandingkan sekolah umum.

"Kerusakan di SMK tidak hanya menyangkut tembok atau atap, melainkan peralatan praktik vital seperti mesin bubut, mesin sekrap, atau alat otomotif yang sulit digantikan dalam waktu singkat dan berbiaya tinggi" ujar Fikri.

Menurut Fikri sebagai solusi darurat agar proses belajar tidak lumpuh total, ia menyarankan kementerian mengirimkan alat praktik miniatur dan telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Vokasi untuk mengerahkan tenaga ahli guna memperbaiki peralatan yang masih bisa diselamatkan.

“Tidak hanya itu guna mempercepat proses pemulihan tersebut, kami mendesak adanya sinergi lintas kementerian yang kuat, terutama antara Kemendikdasmen, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan Kementerian Dalam Negeri," papar Fikri.

Fikri menekankan hal ini dinilai krusial mengingat kewenangan pendidikan yang terdesentralisasi sering kali memunculkan kendala birokrasi, di mana pemerintah kabupaten hanya menangani jenjang SD dan SMP, sementara SMA dan SMK berada di bawah provinsi.

“Tidak boleh ada barrier atau kendala birokrasi yang menghambat, semua harus jalan karena pendidikan melibatkan banyak kementerian dan lembaga sehingga sinergi mutlak diperlukan,” tegasnya.

Secara khusus, legislator dari daerah pemilihan (dapil) IX Jawa Tengah (Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes) ini juga memberikan peringatan keras agar pengelolaan dana rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas tinggi.

“Musibah alam tidak berubah menjadi "bencana pemerintahan" akibat praktik korupsi yang menunggangi fase rehabilitasi, mengingat banyaknya preseden buruk pejabat daerah terjerat hukum pascabencana," tutur Fikri

Selain akuntabilitas anggaran, ia juga mendorong penerapan kurikulum darurat yang fleksibel dan menyenangkan (mindful and joyful) serta pelibatan akademisi dalam penyusunan kajian lingkungan untuk mencegah bencana serupa terulang di masa depan demi keselamatan generasi penerus bangsa.

Penulis: Yuniar Kustanto/Ter

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire