Top
Begin typing your search above and press return to search.

Menkomdigi Meutya ungkap peran jurnalis perempuan hadirkan karya berkualitas

Perempuan dalam jurnalistik masih hadapi tantangan, namun digital buka peluang luas.

Menkomdigi Meutya ungkap peran jurnalis perempuan hadirkan karya berkualitas
X

Sumber foto: Dini Puspita Sari

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan jurnalis perempuan berperan penting menghadirkan karya berkualitas, akurat, dan bertanggung jawab di era digital.

Meutya Hafid menyoroti tantangan dan peluang jurnalis perempuan di Indonesia. Ia menyebut digitalisasi membuka ruang luas bagi perempuan untuk berkarya.

“Era digital membuka peluang luas bagi perempuan untuk menciptakan dan mengelola medianya sendiri,” ujar Meutya Hafid saat membuka diskusi Hari Pers Nasional, bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional & Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia,” yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Ia menekankan, meski digital memberikan kesempatan, jurnalis perempuan harus tetap menghadirkan karya berkualitas dan bertanggung jawab.

“Digitalisasi menghadirkan tantangan tersendiri agar jurnalis perempuan tetap menghadirkan karya yang berkualitas dan bertanggung jawab,” tambahnya.

Meutya juga menyoroti pentingnya menjaga standar jurnalistik berbasis data. Menurutnya, karya jurnalistik sebaiknya mengedepankan fakta, bukan emosi semata.

“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa dan penuh data, bukan emosi semata,” ungkap Meutya yang juga eks jurnalis televisi.

Ia juga menekankan pentingnya digitalisasi dan standar jurnalistik yang jelas. Meutya berharap jurnalis perempuan dapat memanfaatkan peluang untuk berkarya, berinovasi, dan memperkuat suara perempuan di media.

“Upaya memberi ruang informasi bagi perempuan harus terus digerakkan, agar karya mereka tetap berkualitas dan berdampak,” tutup Meutya Hafid.

Acara ini juga mengenang Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia, yang menjadi inspirasi bagi generasi jurnalis perempuan masa kini.

Film biografi Roehana ditayangkan dalam diskusi untuk mengenalkan kiprahnya dalam pendidikan perempuan dan pemberdayaan ekonomi melalui Amai Setia. Film itu mengisahkan perjuangan Roehana dalam memperjuangkan emansipasi perempuan. Film juga menyoroti kiprah Roehana dalam mengajar membaca dan menulis kepada anak-anak perempuan di Koto Gadang, Sumatera Barat, serta mendirikan Amai Setia, wadah bagi perempuan untuk berkarya dan mandiri secara ekonomi.

Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia, Wahyu Dyatmika yang menjadi panel diskusi menegaskan, meski ruang pers semakin terbuka, jurnalis perempuan masih menghadapi diskriminasi dan kekerasan berbasis gender.

“Ruang pers belum sepenuhnya aman bagi jurnalis perempuan. Kekerasan dan diskriminasi masih terjadi,” kata Wahyu

Dini Puspita Sari/MGG/Rama

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire